Satinah

Beberapa hari terakhir ini, media sosial diramaikan dengan berita tentang Satinah, TKW yang terancam dipancung karena didakwa membunuh majikannya dan melakukan pencurian. Satinah bisa bebas dari hukuman pancung apabila mendapat pemaafaan dari keluarga korban dan membayar (uang) diyat kepada mereka, berdasarkan hukum yang berlaku di sana.

Satu hal yang menarik perhatian saya tentang kasus ini adalah adanya polemik tentang uang diyat tersebut.

Mbak Melanie Subono dan kawan-kawan tengah berupaya menggalang dana untuk menambah kekurangan uang diyat yang disiapkan pemerintah untuk menolong Satinah. Namun, kemudian muncul pihak yang menganggap bahwa upaya itu berlebihan dan tidak perlu dilakukan.

Alasannya, Satinah dinyatakan telah melakukan kejahatan, dan secara moral kita tidak perlu menolong orang yang telah berbuat jahat. Kemudian, uang diyat Satinah terlalu besar, jadi lebih baik digunakan untuk hal lain yang lebih penting yang bisa mendatangkan kesejahteraan bersama.

Alasan lainnya, pemerintah dianggap tidak perlu membayar uang diyat, sebab tahapan hukumnya sudah masuk ranah hubungan antara pelaku dengan keluarga korban. Pelaku bisa bebas jika ia mendapat pemaafan dari keluarga korban dan membayar uang diyat kepada mereka.

“Trauma” akan kelakuan Darsem yang lupa diri setelah menerima sisa uang diyat sumbangan masyarakat juga menjadi alasan bagi pihak yang kontra. Maklum, konon banyak TKI yang sifat dan sikapnya tidak menyenangkan —barangkali seperti Darsem. Ceritanya bisa dibaca di sini.

Tadinya saya malas untuk membahas perdebatan ini, sebab saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Satinah. Saya hanya bisa mengandalkan berita-berita dari internet, padahal kita tahu berita-berita itu belum tentu bisa menggambarkan kejadian yang sebenarnya.

Misalnya diceritakan bahwa sang majikan menganiaya Satinah dengan membenturkan kepala Satinah ke tembok. Satinah berusaha melawan, dan kemudian memukulkan adonan roti ke tengkuk sang majikan hingga sang majikan tidak sadarkan diri, lalu tewas.

Sampai di sini saya bingung. Adonan roti seharusnya lunak, dan rasanya tidak mungkin adonan roti yang dipukulkan oleh seorang perempuan bisa membuat orang lain tidak sadarkan diri (meskipun sudah tua), bahkan meninggal dunia. Kemudian, kenapa sang majikan menganiaya Satinah? Hal ini juga perlu kita ketahui bila ingin memandang masalah itu secara objektif.

Kita tahu, tanpa mengetahui kejadian sebenarnya dari sumber yang bisa dipercaya, sulit bagi kita untuk menentukan posisi.

Karena itulah saya merasa malas memberikan pandangan tentang kasus Satinah. Namun, saya gelisah, dan sebagian diri saya seolah-olah menuntut saya untuk memberikan pandangan. Ya sudah, akhirnya saya tuliskan saja isi pikiran saya di blog ini. Toh tujuan saya ngeblog salah satunya memang untuk “terapi diri”.

Jadi menurut saya, biarlah para aktivis dan orang-orang yang peduli itu terus berusaha menggalang dana untuk Satinah —untuk menutupi kekurangan uang yang disediakan pemerintah. Mereka orang baik, dan kita tidak perlu membuat mereka susah.

Jika Anda memandang bahwa dana yang terkumpul lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih penting, ya sudah, Anda tidak perlu ikut menyumbang. Simpan saja uang Anda. Baru nanti ketika ada aksi penggalangan dana yang akan digunakan untuk kebutuhan lain yang Anda anggap lebih penting itu, silakan keluarkan uang Anda.

Anda menganggap bahwa Satinah telah melakukan kejahatan, dan karena itu kita tidak perlu menolongnya?

Satinah mungkin dinyatakan bersalah, tapi kita tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Bisa saja vonis berat itu jatuh karena pemerintah kita tidak maksimal dalam mendampingi Satinah.

Kalaupun Satinah memang salah, apakah kita tega membiarkan ia dihukum seberat itu, sementara di sini banyak koruptor yang jahatnya nggak ketulungan bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta?

Trauma dengan kasus Darsem? Menurut saya kasus Darsem ini memang perlu dijadikan pelajaran, tapi jangan sampai jadi pengekang untuk berbuat baik. Daripada dipusingkan oleh rasa khawatir yang tidak perlu, lebih baik melakukan pengawasan agar kasus Darsem tidak terulang lagi.

Nah, pada akhirnya kita akan sampai pada perdebatan ini: apakah layak miliran uang pemerintah dihabiskan hanya untuk menyelamatkan satu orang? Bukankah lebih baik digunakan untuk program-program pengentasan kemiskinan?

Dalam studi filsafat, dikenal sebuah teori yang disebut dengan utilitarianisme. Teori ini diperkenalkan oleh David Hume, Jeremy Bentham, dan —yang paling terkenal– John Stuart Mill. Dalam utilitarianisme, pengambilan keputusan diambil berdasarkan prinsip utilitas: mana yang menghasilkan kebahagiaan terbesar untuk sebanyak-banyaknya orang. Prinsip belas kasih dikesampingkan karena bukan merupakan hal yang penting.

Beberapa teman saya di Facebook berpendapat bahwa uang pemerintah lebih baik digunakan untuk keperluan lain yang bisa mendatangkan kesejahteraan bersama. Ya, ini sangat khas utilitarian. Dan memang teori ini menjadi favorit banyak orang selama berabad-abad, sebab kerangka berpikirnya mudah, tapi efektif untuk menyelesaikan masalah-masalah besar.

Tapi, Mbak Melanie Subono dan kawan-kawan punya pendapat lain. Selama Satinah menjalani proses persidangan, pemerintah dianggap kurang peduli dan tidak melakukan pendampingan yang cukup. Akibatnya, vonis yang dijatuhkan kepada Satinah begitu berat. Karena itulah pemerintah perlu ikut bertanggung jawab dengan membayar uang diyat.

Hal ini dirasa bukan sesuatu yang terlalu berat, mengingat TKI telah memberikan sumbangan devisa yang sangat besar, mencapai 85 triliun (itu uang semua, Sob!).

Saya setuju bahwa uang pemerintah memang sebaiknya digunakan untuk program yang dapat meningkatkan kesejahteraan orang banyak. Tapi daripada diselewengkan oleh pejabat brengsek, ya sebaiknya digunakan untuk membayar uang diyat.

Jika hal itu dianggap hanya menghabiskan uang negara, maka saya meminta agar pemerintah dan para wakil rakyat juga jangan memboros-boroskan uang negara!!! Jangan membeli barang-barang yang tidak perlu, dan tidak usah studi banding ke negara lain segala!!! Gunakan uang negara dengan cerdas, jangan gunakan untuk kesejahteraan segelintir orang pintar dengan mental keparat!

Dan ke depan pemerintah HARUS dan WAJIB melakukan pendampingan semaksimal mungkin kepada para TKI yang bermasalah supaya polemik Satinah nggak terjadi lagi. Jangan biarkan mereka menghadapi masalah itu sendirian!

Saya mendukung upaya patungan yang dilakukan oleh mereka yang peduli dengan Satinah. Dan jika kita tidak bersedia memberikan sumbangan dana, maka cukup diam dan simpan saja uang kita, tidak perlu sinis dan mencibir orang-orang yang sedang berusaha menggalang dana.

36 Responses to “Satinah”


  1. 1 Kimi March 29, 2014 at 12:59 pm

    Dari sekian lama (entah berapa lama pastinya.😆 ) saya ngesubscribe blog kamu, sepertinya baru kali ini kamu menulis seserius ini. Eh, maapkeun.

    Well, anyway, saya orangnya jarang taking sides, termasuk dalam hal-hal yang seperti ini. Bukannya tidak peduli, karena saya pikir saya tidak tahu pasti ceritanya seperti apa. Seperti yang kamu bilang, berita yang ada ya kita tahunya dari berita-berita di televisi, koran, socmed, dan entah apakah beritanya itu masih dari sumber pertama atau sudah sumber ke sekian. Apakah beritanya masih asli atau sudah terdistorsi. Apakah beritanya masih faktual atau sudah dibumbui opini.

    Tapi, saya tetap menyalahkan Pemerintah sih. Pemerintah selalu cuek sama rakyatnya kalau sudah tertimpa musibah begini. Sudah diberi hukuman mati baru deh kelimpungan. Dulu pas sidang ngasih pendampingan gak? Dibelain gak? Lewat jalur diplomasi gak? Dan Pemerintah kita memang lembek juga sih. Halah, sotoy banget saya.😆

    • 2 Ditter March 30, 2014 at 12:00 pm

      Sebenarnya saya lebih seneng nulis yg nggak terlalu serius. Soalnya kalau serius, mending langsung ke KUA😀

      Habis masalah ini bikin saya gelisah. Dan kalau sudah begitu, saya harus menuangkannya supaya lebih lega, hehe…

      Kimi, mungkin kamu juga sudah tahu, saya juga sotoy kok, hahaha…

  2. 3 denhanif March 29, 2014 at 1:27 pm

    negara jiran emng kejam ma negara kita, dan kurang ada ketegasan dr pemerintah Indonesia…:(

  3. 5 jual beli March 29, 2014 at 1:28 pm

    Kasian satinah ya, semoga keluarganya sabr..:)

  4. 7 pursuingmydreams March 29, 2014 at 2:39 pm

    Sebelumnya pernah ada tkw yg dibebaskan setelah pemerintah Indonesia turun tangan, bahkan tkwnya dikasih 1 M, eh pulang kampung malah berfoya-foya.
    Korban penganiayaan Tkw berulang terus dan terus, menurut saya yaaa paling baik pemerintah memutuskan tidak mengirimkan lagi tkw ke LN.

  5. 9 Miftah Afina March 29, 2014 at 5:21 pm

    Media sekarang memang tidak dapat sepenuhnya dipercaya.

    Bukannya bermaksud menjelek-jelekkan, tapi memang benar kebanyakan TKI/TKW meskipun disana mungkin hidup pas-pasan atau menderita, seringkali pas pulang foya-foya. Mending uangnya ditabung dan dipakai buat yang bermanfaat atau paling nggak untuk modal usaha sendiri di rumah.

  6. 13 Ririn Setia March 29, 2014 at 7:46 pm

    wah kasihan sekali ya satinah, semoga aja bisa bebas dari jerat hukuman pancung dan bisa kembali ke indonesia dengan selamat🙂

  7. 15 cepy March 29, 2014 at 7:54 pm

    yah, dilematis banget. rasanya emang sayang sih uang sebanyak itu digunain buat nebus orang yg berbuat khilaf. tapi saya setuju sama dirimu: daripada uangnya diselewengkan sama orang yg bukan seharusnya.

  8. 17 ysalma March 29, 2014 at 11:23 pm

    semoga kasus ini menjadi pelajaran bagi pemerintah menangani ‘penghasil devisa’ dengan baik ke depannya, jangan tunggu heboh baru kasak kusuk.

  9. 19 rangga fahrian March 30, 2014 at 9:03 am

    Saya si gak begitu mengukuti kisah satinah. Tapi sebelum muncul di tv, saya sudah membacanya dluan lewat twitter. Negara ISlam dengan hukum Islamnya, memang seperti itu. Tapi saya cukup lega, pemerintah Indonesia menaruh perhatian serius untuk keselamatan Satinah. Moga aja Satinah bisa tetap lolos dari hukuman pancung. Salam kenal..

  10. 21 Irvan Robiansyah March 30, 2014 at 2:49 pm

    semoga satinah bisa bebas ya. kasian😦

  11. 23 Alan Tirta March 30, 2014 at 3:47 pm

    emang bener sih orang2 yang telah melakukan kejahatan harus mendapat hukuman, maling ayam aja bisa ampe mati di keroyok masa padahal cuma “ayam” dan ayamnya pun masih hidup, nah si satinah ini kan udah nge kill “manusia” so menurut saya aneh saja demi membebaskan seseorang yang “terbukti” melakukan tindak kriminal pemerintah mengeluarkan dana sebanyak itu, padahal dana tersebut bisa di pakai untuk keperluan lain. Tapi apa boleh buat undang2 mewajibkan negara untuk melindungi warga negaranya, kita juga kalo dalam posisi satinah pasti mengahrapkan kebebasan.😀

  12. 25 Cara Linda March 30, 2014 at 6:30 pm

    Miris liatnya kalau udah begini, tapi heran kenapa si terjadi lagi ?

  13. 27 Chandra Iman April 1, 2014 at 9:12 am

    baca postingan ini saya jadi teringat film way back home, di film itu terlihat jelas ketidakbecusan pemerintah membantu warga negaranya.

    Pendapat saya, jika memang dia bersalah, pemerintah wajib membantu selama jalannya persidangan, coba dicarikan pengacara yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

    Jika dia benar, semoga bisa bebas.

    Apapun hasilnya yang penting kita sudah melakukan yang terbaik.

  14. 28 kevinchoc April 1, 2014 at 10:56 pm

    Cuman dipukul adonan roti, loh. Agak aneh juga, Jauh lebih sakit kepala yang dibenturin ke tembok. Semoga pemerintah “membuka mata”.

  15. 30 Pypy April 4, 2014 at 4:04 pm

    Saya sbnrnya termasuk golongan yg kontra soal masalah diyat ini.. Tapi betul, ngapain ngalangin orang baik yah? Smoga lah pemerintah kita berkaca diri. Kalo memang satinah ini dari awal didampingi mungkin ga akan sampe hukuman mati.. mungkin😀

  16. 32 mahawati April 15, 2014 at 8:25 pm

    namanya juga bangsa yg balik ke jaman jahiliyah, makanya keji. Tapi aneh loh kasus Satinah, kenapa dia harus bayar? itu sngat tidk biasa

  17. 33 Warna Cat Rumah minimalis August 10, 2014 at 10:33 pm

    izin baca mas , semoga tambah ilmu

  18. 35 Toko sepatu online August 10, 2014 at 10:35 pm

    smoga admin sukses, ditunggu artikel selanjutnta😀

  19. 36 Klinik Aborsi Jakarta September 26, 2015 at 2:10 pm

    I am regular visitor, how are you everybody? This article
    posted at this site is really good.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: