Tahu-Tempe

Pas masih kecil dulu, saya benci banget sama yang namanya tahu-tempe. “Tempe lagi, tempe lagi!” begitu keluhan saya saat mengetahui bahwa menu makan hari itu lagi-lagi (tahu dan) tempe.

Saya kurang tahu pasti kenapa saat itu saya nggak menyukai makanan yang sebenarnya menyehatkan itu. Saya hanya bisa menduga, mungkin karena saya sudah bosan, sebab hampir setiap hari disuguhi tahu dan tempe.

Sebagai seorang bocah yang mulai terpengaruh oleh budaya barat dari iklan dan film-film, saya memiliki hasrat yang besar untuk bisa menikmati makanan western secara rutin, khususnya ayam goreng cepat saji (selanjutnya kita sebut dengan fried chicken) dan hamburger.

Saking terobsesinya dengan makanan yang disebut modern itu, saya sering berkhayal memiliki mesin ajaib Doraemon yang bisa mengeluarkan fried chicken dan hamburger secara otomatis. Cara mengeluarkannya cukup dengan menyebutkan jenis makanan yang kita inginkan di depan mesin tersebut.

Khayalan ini tentu saja sia-sia, sebab kenyataannya bukan fried chicken dan hamburger yang saya makan setiap hari, melainkan tahu dan tempe.

Nah, semenjak bisa cari uang sendiri, saya cukup sering beli fried chicken dan hamburger. Bahkan dulu sempat hampir setiap hari makan fried chicken di sebuah restoran cepat saji. Saya tergila-gila dengannya. Ketika itu saya memanfaatkan program promo Attack.

Tapi, hal tersebut nggak bertahan lama. Pada suatu malam setelah sorenya menikmati fried chicken paket attack, entah kenapa saya merasa mual-mual. Rasa mual itu lama-kelamaan nggak tertahankan lagi hingga akhirnya saya muntah. Mungkin badan saya sudah mulai jenuh setelah berhari-hari dijejali fried chicken.

Keesokan harinya, tiba-tiba saja saya sudah nggak tergila-gila lagi dengan fried chicken, bahkan sampai sekarang. Tapi memang masih doyan sih, hehe….

Omong-omong, saat ini saya tinggal di kamar kos, dan seminggu sekali pulang ke kampung halaman. Setiap kali pulang, saya masih sering menjumpai tahu dan tempe di meja makan. Tapi, kini saya nggak membencinya lagi, bahkan sebaliknya, saya malah menyukainya.

Mata saya berbinar-binar jika di rumah ada nasi hangat dengan lauk tahu-tempe plus sambal mentah. Yang saya rasakan saat ini, menu itu lebih enak daripada fried chicken atau hamburger😀

10 Responses to “Tahu-Tempe”


  1. 1 putricisompet February 20, 2014 at 11:24 am

    hehe… dulu ketika saya masih di kampung halaman sebelum kuliah, saya kurang suka dengan makanan kaya tempe, tahu, iwung, picung, dan kawan-kawan. Tapi sekarang malah sebaliknya, ketika jauh dari orang tua, saya malah senang mencari makanan tersebut.. hehhe

  2. 4 duniaely February 20, 2014 at 8:09 pm

    tahu tempe itu makanan mewah buatku di sini bro😛

  3. 6 TBoHanan February 21, 2014 at 8:53 am

    Iya memang seringkali kita mengalami bahwa sesuatu yang dahulu dibenci sekarang malah dicinta.

  4. 7 Chandra Iman February 21, 2014 at 3:18 pm

    saya sih suka tahu dan tempe, tapi lebih memilih yg organik kalo ada😀

    jadi kapan kita makan ayam goreng bareng lho :p

  5. 8 Pypy February 25, 2014 at 5:07 pm

    Wahhh kebalikk kitaa, Dit.. Aku bisa lhoo tiap hari makan tempe goreng dibalado..nyamnyammm😀

  6. 9 lazione budy February 26, 2014 at 3:29 am

    saya suka tahu-tempe dari kecil sampai sekarang.
    apalagi yg digoreng kering, nikmatnya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: