Anter-anteran

Kalau ada tetangga yang mengadakan acara syukuran, biasanya mereka menyediakan paket makanan untuk dibagi-bagi ke penduduk sekitar.

Umumnya berupa paket makanan mentah, seperti beras, telur, mi instan, gula, dan sebagainya. Tapi, sering juga berupa makanan yang sudah matang, yakni nasi, sayur, lauk-pauk, kerupuk, dan buah-buahan.

Nah, paket makanan itu disebut apa, ya? Kalau di tempat saya sih disebutnya “ter-teran” atau “anter-anteran”. Berasal dari bahasa Jawa yang maksudnya adalah paket yang diantarkan.

Omong-omong, tadi malam saya sempat berada dalam kondisi mengenaskan. Saya meringkuk sendirian di kamar kos karena demam. Saat itu saya belum makan, dan di luar hujan. Berat rasanya kalau harus menembus hujan untuk mencari makan dalam kondisi demam seperti itu.

Tak disangka, tidak lama kemudian, pertolongan datang. Tetangga depan kos (saudara ibu kos) mengantarkan “anter-anteran” berupa makanan matang, juga ke teman kos saya (kami cuma berdua). Syukurlah. Saya pun langsung memakannya. Sebagian saja, sebab saya memang sedang tidak nafsu makan. Setelah itu baru saya minum obat, lalu tidur.

Keesokan paginya, saya sarapan dengan sisa anter-anteran tadi malam. Saya baru sadar, paket anter-anteran itu cukup besar. Siapa pun tahu bahwa paket makanan sebesar itu tidak akan bisa dihabiskan oleh satu orang. Jadi meskipun sudah saya makan untuk sarapan, paket anter-anteran itu masih sisa juga.

Saya bingung. Tadinya saya mau membagi makanan itu, tapi bagi ke mana? Tampilannya sudah rusak, karena sudah saya ambil sebagian. Rasanya nggak layak kalau dibagi ke orang lain, sebab tampilannya benar-benar seperti makanan sisa.

Akhirnya saya putuskan untuk membawanya ke kantor. Rencananya mau saya habiskan saat makan siang. Sayang seribu sayang, ketika saya mau memakannya, ternyata sudah berbau nggak sedap, khususnya sayur-mayurnya, dan menular ke nasi dan lauk lainnya. Terpaksa saya membuangnya😦

Saya merasa bersalah sekali telah membuang makanan. Tapi saya berharap yang telah saya buang itu nantinya dikonsumsi oleh hewan-hewan yang sering digembalakan di tempat pembuangan sampah akhir. Jadi nggak benar-benar mubazir, masih bisa bermanfaat bagi hewan-hewan itu.

Saya berpikir, mungkin dari awal seharusnya saya sudah menolak paket anter-anteran itu, sebab saya nggak bisa menghabiskannya. Tapi, bagaimana cara menolaknya? Tentu hal demikian sangat tidak etis, terlebih bagi penduduk asli di sekitar kos saya yang “Jawa banget”.

Bila suatu saat nanti saya mendapat anteran-anteran berupa makanan matang lagi, rencananya saya tetap akan menerimanya. Bila saya tidak yakin bisa menghabiskannya, saya tidak akan menyentuh makanan itu sehingga tetap utuh. Nantinya saya akan memberikannya ke anak-anak jalanan yang biasa mangkal di lampu merah.

Saya rasa ini jalan yang terbaik🙂

22 Responses to “Anter-anteran”


  1. 1 lazione budy January 30, 2014 at 12:19 am

    kalau di kampung saya namanya nasi kondangan, nasi yg dikumpulkan dalam acara kampung lalu saling tuker.

  2. 3 duniaely January 30, 2014 at 3:56 am

    pekewuh ya kalau nolak

  3. 5 Intan Sudibjo January 30, 2014 at 2:34 pm

    itu enaknya kalo tinggal di kampung yang masih ramah dengan tetangganya, seperti di kampung saya hehee

  4. 7 Kisah Foto January 30, 2014 at 4:33 pm

    Wah ditempat saya juga banyak yang anter2an makanan kalo sukuran, hehehehe😀

  5. 9 Ririn Setia January 30, 2014 at 9:46 pm

    wah lumayan ya mas bisa dapat rejeki. tapi sayang banget malah di buang. Seharus nya kasih kan ke kucing sisa makanannya hehehe😀

  6. 11 gerhanacoklat January 30, 2014 at 11:42 pm

    kalo di tempatku dulu di medan namanya nasi berkat mungkin maksudnya berharap mengandung keberkahan untuk yang memberikan dan memakannya ya
    duhh anak kos sakit sendirian memang menderita ya mas, kalau punya rice cooker mending nasinya dibagi dua, pisahkan sayur dan lauknya trus makan sebagian lalu sisanya masukin ke rice cooker jadi gak basi gitu

  7. 13 Ririn January 31, 2014 at 10:48 pm

    biasanya kalau hidup dengn tetangga di desa, suka anter makanan ya mas kalau ada acara hajatan atau mungkin semacam bancaan getu🙂

  8. 15 nuel February 1, 2014 at 7:43 am

    Kalau di sini, bilangnya nasi kotak, Mas…. Dan isinya nggak sebanyak yang Mas cerita. Oya, emang sebanyak apa sih isinya? Penasaran. Banyak banget yah?

  9. 17 giewahyudi February 1, 2014 at 2:40 pm

    Kalau ditempat saya namanya apa ya, lupa. Oo itu Nasi Kenduri, entah artinya apa. Pokoknya abis kondangan dianterin gitu..

  10. 19 Pypy February 3, 2014 at 1:41 pm

    Nanti kalo dapet lagi dipisah2in aja.. Biar gak basi semuah gitu😀 Syukur bgt yah ada bantuan disaat bener2 butuh😀

  11. 21 aqied February 5, 2014 at 12:37 am

    kalo dr awal dipisah, semacam nasi dan lauk kering gitu masih bisa awet.
    eniwei saya jg seriiing banget dikirimin makanan sama ibu tetangga sebelah. apa saya ni keliatan melas dan kelaperan terus ya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: