Ayah & Anak yang Hendak Menjual Keledai

Alkisah, seorang ayah hendak menjual keledainya. Siang itu ia pergi ke pasar bersama putranya yang masih kecil untuk menjual keledai tersebut. Ia menuntun keledai itu menuju pasar, sementara sang anak berjalan di sampingnya.

Di perjalanan, mereka berpapasan dengan seorang kakek. “Dasar bodoh,” gumam sang Kakek. “Mereka lebih memilih berlelah-lelah berjalan kaki daripada menaiki keledai itu.”

Ayah dan putranya tersentak mendengar gumaman tersebut. Lantas mereka pun memutuskan untuk menaiki keledai itu bersama-sama.

Belum jauh berjalan dari tempat itu, mereka berpapasan dengan seorang pemuda. “Kejam betul mereka,” pemuda tersebut menggumam. “Teganya mereka menaiki keledai kecil itu bersama-sama.”

Sang ayah dan putranya merasa gelisah setelah mendengar gumaman itu. Sang ayah turun, kemudian membiarkan putranya menaiki keledai.

Setelah berjalan beberapa lama, mereka berpapasan dengan seorang nenek. Wanita tua itu memandang anak lelaki di atas keledai dengan pandangan tidak suka. “Dasar anak durhaka,” cela sang nenek. “Bisa-bisanya ia duduk dengan santai di atas keledai, sementara ayahnya berjalan kaki di tengah cuaca panas seperti ini.”

Mendengar itu, sang anak segera meminta ayahnya untuk menurunkannya dari keledai. Kemudian gantian sang ayah yang menaiki keledai, sementara sang anak berjalan kaki.

Belum jauh berjalan, mereka berpapasan dengan beberapa wanita. Salah satunya berseru kepada sang Ayah, “Bapak, apakah Anda tidak kasihan terhadap anak Anda? Lihatlah, ia masih kecil, tapi Anda tega membiarkannya berjalan kaki.”

Sang bapak dan sang anak saling memandang, sama-sama bingung. “Bagaimana ini, Ayah?” tanya sang Anak.
Sang ayah akhirnya memutuskan untuk mengajak sang anak menaiki keledai. Keduanya pun duduk dengan nyaman di atas keledai menuju pasar.

Tidak lama kemudian, sampailah mereka di tempat tujuan. Sang ayah berhasil menjual keledainya dengan harga yang bagus. Setelah segala urusan selesai, mereka pun pulang ke rumah dengan hati gembira.

****

Di luar hujan turun dengan deras. Sore itu saya dan editor saya sedang berada di sebuah ruangan kecil yang nyaman, yang tidak lain adalah ruang kerjanya.

“Kamu pernah mendengar cerita tentang ayah dan anak yang hendak menjual keledai?” tanya editor saya sesaat setelah menyeruput kopi susunya.

“Ya, sudah pernah, Mas,” jawab saya, mantap. Kebetulan saya memang sudah pernah membacanya, baik di internet maupun di buku-buku.

Ia tersenyum kecil, lalu menaruh gelasnya di meja. “Kalau begitu pasti kamu sudah tahu pesan cerita itu,” ujarnya. Saya mengangguk-angguk. Dalam hati, saya berusaha menebak-nebak akan ke mana arah pembicaraan kami ini.

“Sekarang bukumu –novel Anak Kampus– sudah terbit dan sudah tersebar di toko buku,” editor saya melanjutkan. “Setelah ini pasti akan muncul pendapat-pendapat tentang bukumu dari para pembaca. Di antara pendapat-pendapat itu, mungkin ada yang membuatmu senang, tapi pasti ada juga yang sebaliknya. Yah, ini sudah menjadi hak mereka.”

Lagi-lagi saya mengangguk-angguk. Benar apa yang dikatakannya. Beberapa hari terakhir ini saya menerima e-mail dan mention dari para pembaca. Sejauh ini pendapat mereka positif. Salah satunya bisa dibaca di sini: [Review] Anak Kampus.

“Pesanku, perlakukan semua pendapat itu dengan baik dan wajar,” lanjutnya. “Jadikan ia sarana untuk membuatmu berkembang, bukan malah membuatmu malas atau berhenti berkarya. Saat pendapat-pendapat itu mulai mengganggu produktivitasmu, ingat-ingatlah cerita tadi –tentang ayah dan anak yang hendak menjual keledai.“

Tidak lama kemudian, hujan berhenti. Saya pun mohon pamit kepada editor saya, mengingat saat itu saya ada keperluan lain. Setelah menenggak habis teh manis yang disajikan, saya keluar dari ruangan, diantar olehnya.

Benar-benar sore yang penuh kesan. Tahun ini saya berniat untuk lebih rajin belajar dan berkarya lagi. Entah kebetulan atau bukan, pesan dari editor saya tadi bisa menjadi dasar yang bagus untuk memenuhi niat saya ini.😀

24 Responses to “Ayah & Anak yang Hendak Menjual Keledai”


  1. 1 duniaely January 24, 2014 at 5:44 pm

    pernah baca deh cerita serupa ttg keledai di atas🙂

  2. 3 lazione budy January 25, 2014 at 3:20 am

    pernah baca kisah itu.
    review menurutku adalah pendapat perorangan, karena penikmat karya ada berbagai macam usia, genre, suka/ga suka maka anggap saja sebuah kritik yg membangun.
    good luck, anak kampus!

  3. 5 Intan Sudibjo January 25, 2014 at 10:08 am

    biarkan anjing menggonggong kafila berlalu ya🙂

  4. 7 abi_gilang January 25, 2014 at 1:29 pm

    Maju terus pantang mundur Mas🙂

  5. 9 jarwadi January 25, 2014 at 2:31 pm

    Cerita cerita nasrudin memang selalu inspiratif..🙂

  6. 12 Rahad January 25, 2014 at 3:25 pm

    Gue bener2 tertancep sama cerita ayah anak sm keledai itu, sebenernya kita gak usah terlalu dengerin kata orang lain yg gak sesuai isi hati, nanti nyesel sendiri
    Mending ikutin apa yg menurut hati, logika, dan hukum benar. Asalkan enggak melanggar hukum ya lakuin aja😀
    di bali udah ada blm itu bukunya? Coba ah gue cari2 di gramed, kalo ketemu ya baca ditempat aja hahaha :p

  7. 14 nuel January 26, 2014 at 3:50 pm

    Aku udah beli bukunya, Mas… Tapi aku kok kayak ngerasa nggak lagi baca buku Mas? Kayaak lagi baca buku orang lain… Soalnya gaya bahasanya mirip sama beberapa gaya bahasa beberapa penulis. Maaf lho yah…. Hehehe. Mungkin sudah saatnya Mas jadi diri sendiri sewaktu menulis. Aku benar2 pengen baca buku dengan gaya bahasa Mas…🙂

    Terus juga cukup banyak punchline yang klise, jadi jatuhnya kriuk-kriuk-kriuk.

    ^^

    • 15 ditter January 27, 2014 at 8:26 am

      Wah, terima kasih banyak sudah beli dan baca buku saya, Mas!!

      Iya Mas, gaya tulisan saya di blog ini dan di buku itu memang jauh banget, hehe….

      Di buku Anak Kampus, saya coba bereksperimen dengan gaya bahasa remaja bernuansa komedi, dan jadinya kayak gitu. Kalo pakai gaya bahasa di blog, nggak cocok😀

      Banyak punchline yg klise, ya? Hahaha…. Iya sih, saya memang harus lebih banyak lagi mengeksplor kemampuan untuk membuat cerita biasa menjadi lucu.

      Terima kasih banyak atas masukannya Mas Nuel😀

  8. 16 cumilebay.com January 26, 2014 at 4:33 pm

    Semu anya serba jadi dilema kalo mendengarkan semua omongan orang, inti nya menjadi yg terbaik saja buat diri kita dulu setlah nya baru memikirkan orang … itu kalo menurut gw🙂

  9. 18 Ririn Setia January 26, 2014 at 8:18 pm

    wah siap-siap jadi terkenal nih hehehe soalnya udah punya buku. Pasti yang baca banyak dan juga yang berpendapat banyak terkait dengan buku tersebut🙂
    Keep spirit and happy wiriting always🙂

  10. 21 Pypy January 27, 2014 at 10:09 am

    Sering baca dan bener banget sih😀 Mengenai suka dan tidak suka adalah hal yang wajar dalam hidup, makanya tidak perlu diresponi secara berlebihan. Semangat berkarya!😀


  1. 1 Dimarahi Orangtua | Catatan gado-gado Trackback on January 27, 2014 at 8:32 am
  2. 2 Ayah Saya Tukang Tambal Ban | Catatan gado-gado Trackback on July 21, 2014 at 9:00 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: