Dokter

Betapa kagetnya saya saat melihat twit sedulur yang isinya menyebutkan bahwa dokter spesialis kandungan se-Indonesia mengancam mogok kerja sehari pada Rabu (27/11) besok. Ada apa ini?

Langsung saja saya cari beritanya di internet. Beberapa minggu ini saya memang sering ketinggalan berita-berita hangat, sebab jarang menonton tivi dan sedang jarang membaca koran.

Well, rupanya ancaman mogok itu merupakan bentuk solidaritas terhadap dokter Dewa Ayu Sasiary Sp.OG. Dokter tersebut dinyatakan bersalah atas dugaan malapraktik yang menyebabkan pasien meninggal dunia.

Ternyata masalah tersebut juga ramai dibicarakan di Kompasiana dan Kaskus, bahkan terjadi pula perdebatan yang panas. Tapi, saya nggak berminat untuk ikut dalam perdebatan itu. Saya ingin membicarakan hal lainnya.

Profesi dokter merupakan salah satu profesi yang sering disorot oleh masyarakat. Saya masih ingat, dulu pernah ada kritik keras terhadap mahasiswa koass yang dianggap tidak menjalankan tugas dengan baik: asyik bermain BB saat bertugas.

Kritik itu terus meluas, hingga menyambung pada hal-hal lain, misalnya tentang kehidupan dokter yang bergelimang harta, lalu muncul anggapan bahwa dokter hanya sekadar mencari uang semata, tanpa memedulikan pasien. Wah, masih banyak lagi pandangan negatif lainnya.

Sepertinya kepercayaan masyarakat terhadap dokter mulai luntur. Saat ini mudah sekali mencurigai dokter. Orang tidak percaya begitu saja terhadap diagnosis dokter. Mereka akan mencari second opinion. Gawatnya, second opinion ini sering kali diambil dari Google, bukan dari dokter lain.

Ada banyak artikel dan bahkan jurnal kesehatan yang bisa kita temukan di Google. Tentu pengetahuan kita bisa bertambah dengan membacanya. Namun, ilmu kedokteran lebih dalam dari itu semua. Jadi kadang kurang berguna juga bila kita mendebat dokter dengan bermodalkan bahan bacaan tersebut. Yang ada malah masalah jadi bertambah: kita jadi gelisah. Karena itulah saya jarang baca artikel kesehatan yang “berat-berat”.

Perihal second opinion dari internet ini, saya ada cerita menarik. Seorang teman pernah mencoba mengonfirmasi dan membandingkan diagnosis dokter dengan apa yang sudah ia baca di internet seputar penyakitnya. Bukannya mendapat penjelasan, si dokter malah bersikap tidak menyenangkan. Dia marah.

“Saya belajar bertahun-tahun untuk menjadi dokter. Itu semua nggak gampang. Jadi saya nggak akan sembarangan membuat diagnosis,” begitu kira-kira katanya, dengan raut wajah yang masam. Rupanya ia tersinggung karena dianggap tidak dipercaya. Tapi kok, kenapa mudah sekali tersulut emosinya? Mungkin lagi capek, ya.

Dalam batas-batas tertentu, kewaspadaan masyarakat terhadap dokter bagi saya lumrah adanya. Masyarakat cuma ingin mendapatkan pelayanan yang terbaik dari dokter, sebab kepadanyalah mereka menyerahkan diri sepenuhnya.

Kewaspadaan menjelma menjadi curiga saat mengetahui kenyataan bahwa malapraktik masih saja terjadi. Apalagi banyak tersiar kabar tentang adanya dokter-dokter yang mata duitan, atau dokter-dokter yang bertingkah-polah tidak terpuji sehingga membahayakan pasien.

Dokter, maaf bila kami sering memandangmu sebagai dewa. Maaf bila kami mudah curiga. Kami cuma ingin sembuh. Maklumilah. Kami berdoa semoga Dokter diberi kemudahan dalam menjalankan tugas. Kami juga berdoa semoga Tuhan memberikan kehidupan yang baik kepada Dokter.

31 Responses to “Dokter”


  1. 1 lazione budy November 26, 2013 at 11:49 pm

    Dokter Indonesia banyak yg ga profesional.
    Sungguh mengecewakan, ditambah besok mau mogok? Kalian pikir buruh pabrik?

  2. 4 Nurul Imam November 27, 2013 at 1:06 am

    Sebenernya wajar aja kali manusia melakukan keslahan, namun yang dipertanyakan sengaja apa tidaknya dia melakukan kesalahan tersebut😀

  3. 6 Yulita W.N November 27, 2013 at 6:30 am

    benar tuh mas,terkadang jawaban dokter tidak memuaskan. padahal kan mereka bekerja atas nama jasa pelayan masyarakat,jadi seharusnya memang harus tanggap kepada pasien.

    saya juga beberapa kali menemui dokter yg di tangannya menggenggam ponsel bahkan menerima tlp ketika ada pasien. Adakah kode etik dokter semacam itu??

    tapi kembali lagi,masih banyak juga dokter2 yg profesional dan amanah🙂

  4. 8 farizalfa November 27, 2013 at 7:01 am

    Semuanya tergantung pada manusia nya lagi, bagi saya tak semua dokter itu memiliki sifat negatif.. mari kita lihat pula mereka yang bersungguh2 menjalankan pekerjaannya.🙂

  5. 10 Rohis Facebook November 27, 2013 at 7:10 am

    tntng dokter baru aja td pg di tipi aq dengar beritax, penasaran bagaimana kisah selanjutx.., kayak sineteron aja nih *smile

  6. 12 Wewengkon Sumedang November 27, 2013 at 8:05 am

    tapi benar kadang google juga bisa menjadi penolong asalkan kita bijak dan langsung mengkonsultasikannya dengan dokter lain.

    saya pernah jadi korban malpraktek juga, ini benar terjadi pada diri saya, sampai kurus kering tinggal tulang berbalut kulit…ternyata saya diberi obat yang salah oleh dokter, saya diberi obat justru yang berlawanan dengan sakit yang saya derita, saya tau itu setelah baca2 jurnal kesehatan di google dan saya langsung konsultasikan dengan dokter yang lainnya *padahal yang memberi obat itu adalah dokter spesialis loh*

    setelah saya stop obat tersebut berdasarkan anjuran dari dokter yang kedua, Alhamdulillah saya berangsur2 pulih dan kembali seperti sedia kala…andai saja saya terlambat menyetop minum obat dari dokter yang pertama, mungkin sekarang saya sudah tiada, Alhamdulillah Allah masih memberikan jalan meraih kembali kesehatan saya di detik2 terakhir.

    maaf jadi curhat mas hehe, saya hanya ingin berbagi pengalaman saja bahwa dokter yang hanya cari uang dan tidak serius memeriksa pasien itu benar2 ada, dan bahkan mungkin jumlahnya banyak juga. Kit tetap harus berhati2 terhadap vonis dokter dan tetap harus mencari referensi lain dengan bijak, jangan langsung percaya terhadap vonis dokter

  7. 14 Piss November 27, 2013 at 9:54 am

    Hingga kini dokter masih jadi salah satu profesi favorite, karena dianggap memiliki prospek cerah. Dokter juga dipastikan dibutuhkan oleh setiap orang, karena setiap manusia pasti pernah sakit, dll. karena hal itulah profesi dokter selalu jadi perhatian publik.
    Selama saya berobat alhamdulilah, belum pernah menemukan dokter yang macam-macam. Semoga kejadian hari ini, demonstrasi para dokter hari ini, tidak berdampak pada pelayanan publik yang kurang. Dokter tetap menjadi pelayan kesehatan masyarakat yang jadi dambaan.
    Salam!

  8. 16 indobrad November 27, 2013 at 10:45 am

    paragraf terakhirnya menarik, semacam closure gitu. semoga ada jalan keluar dari perselisihan hukum ini ya

  9. 18 Greatnesia November 27, 2013 at 1:27 pm

    Hari ini kita dilarang sakit dulu, karena dokternya lagi demo😀

  10. 20 Pypy November 27, 2013 at 2:31 pm

    Harus liat bener2 tuh yg lagi sekolah dokter, banyak temen2 yg seangkatan dulu kerjaannya maen mulu.. Sekolah dokter tuh cuma ut kebanggan belaka biar dikata keren.. Semoga sih kasus nya dokter ayu ini bisa jadi pelajaran ke dokter2 lainnya.

  11. 22 capung2 November 27, 2013 at 4:20 pm

    klo saya dari dulu lebih nyaman diperiksa sama dokter2 yg lebih senior ketimbang dokter2 muda.

  12. 24 Ririn November 27, 2013 at 7:39 pm

    Wah kalau dokter pada mogok, kasihan juga para pasien nya. Nanti siapa coba yang akan mengobati pasien hmmm🙂

  13. 26 Danni Moring November 28, 2013 at 9:38 am

    iya lagi banyak perbincangan tentang dokter, sebenarnya sy ga mau nyalahin siapa2 soal perdebatan ini..sah2 aja mungkin dokter protes krn merasa di kriminilasisasi, tetapi sebagai org awam, sy cuma bertanya, apa tidak ada cara lain menunjukkan protes dengan berdemo ? sehingga peranan dokter mengobati pasiennya tetap berjalan dengan lancar..

  14. 28 Intan Sudibjo November 28, 2013 at 3:01 pm

    hanya beberapa saja dokter yang sudi merawat atau memeriksa pasien dari kampung, itupun perlu duit yang tak sedikit. itu fakta lho

  15. 30 nuel November 29, 2013 at 9:59 am

    Baca ini deh: http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2013/11/28/belajar-dari-dokter-amerika-611940.html

    Intinya, di Indonesia, dokter tuh jarang yah mengomunikasikan diagnosisnya secara manusiawi ke pasien. Seringnya kita masuk ruang praktek dokter itu cuma diperiksa, terima obat, tanpa ada konsultasi soal yang diderita.


  1. 1 Tubuh | Catatan gado-gado Trackback on November 28, 2013 at 9:56 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: