[Bincang-Bincang] Dyah Rinni –Penulis Unfriend You

Setelah meresensi novel Unfriend You, kali ini saya akan mewawancarai penulisnya, yakni Mbak Dyah Rinni. Yap, semua ini masih dalam rangka event Gagas Debut Virtual Book Tour.

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di sini, saya menjadi salah satu host event keren ini.

Oke deh, nggak perlu berbasa-basi lagi. Mari kita simak obrolan saya dengan Mbak Dyah Rinni seputar novelnya —Unfriend You– dan pandangannya tentang dunia kepenulisan. Check this out!

—————————————-

Novel Unfriend You mengangkat tema yang menurut saya sangat menarik, yakni tentang pem-bully-an di sekolah. Mbak sendiri pernah punya pengalaman “digencet” nggak?

Ini salah satu pertanyaan yang diajukan editor Gagas Media ketika kami membicarakan tema tentang bullying.

Waktu itu spontan aku bilang, enggak. Namun dalam perjalanan aku pulang ke rumah, aku berpikir ulang mengenai hal ini. Dan ternyata, iya. Aku pernah dibully. Mungkin pengalaman itu udah lama banget berlalu (waktu aku SMP) jadi, aku udah melupakan kejadian itu.

Kejadian itu berawal dari saat aku dapat surat kaleng yang isinya berasal dari kakak kelas cewek yang nyuruh aku supaya ngejauhin kakak kelas tertentu dan supaya aku nggak kegenitan.

Aku ngerasa bingung karena pertama aku merasa nggak gaul dengan kakak kelas cewek. Dari mana mereka tahu aku? Kedua, aku juga ngerasa biasa aja. Ternyata surat kaleng itu berasal dari teman satu gengku sendiri. Dan aku tahu itu semua karena akhirnya mereka ramai-ramai menghakimi aku sepulang sekolah.

Kejadian itu sempat bikin aku nangis, tapi nggak sampai stres berkepanjangan karena kejadiannya sudah mendekati akhir tahun dan setelah itu Ayahku ditugaskan di luar Jawa. Jadi, aku pindah sekolah. Bukan karena dibully, tapi karena emang situasi aja.

—————————————-

Menurut Mbak Dyah, apakah orang yang diam saja saat melihat temannya “digencet” patut disalahkan?

Aku percaya, orang mau menolong orang lain karena dia merasa bisa menolong orang itu. Sama kaya’ ada orang kecelakaan. Ada orang yang mau menolong, ada yang cuma nonton aja.

Kadang, kita nggak bisa menyalahkan orang yang ‘nggak mau’ menolong karena mereka mungkin nggak tahu juga harus gimana.

Mereka nggak punya ilmunya. Makanya dari Unfriend You ini aku berharap lebih banyak orang yang sadar bahwa bully itu nggak benar, dan berani untuk membantu temannya yang dibully.

—————————————-

Saat menulis Unfriend You, apakah sempat mandeg karena kehabisan ide?

Alhamdulillah enggak karena dari awal, semuanya sudah dirancang dengan baik.

—————————————-

Berapa persen pergeseran atau perubahan yang terjadi pada hasil akhir novel dibandingkan dengan outline atau rancangan plot awal?

Nggak banyak, kok. Ada adegan yang harus dibuang karena ternyata malah membuat alur cerita terasa aneh, tetapi hanya satu atau dua adegan saja. Mungkin karena isu bullying ini sudah jelas mau dibawa ke mana dan apa yang mau disampaikan, jadi ya tidak perlu terlalu banyak perubahan.

—————————————-

Apa tantangan utama saat menulis Unfriend You?

Tantangannya adalah aku harus memastikan psikologi tentang bullying ini benar. Jangan sampai ada pembaca yang bilang, ‘enggak kok, bullying nggak kaya’ gitu.’

Jadi, aku memperbanyak bacaan dan buku psikologi tentang bullying dan kekerasan di sekolah. Alhamdulillah pihak Gagas Media membantu memberikan skripsi penelitian tentang bullying. Itu benar-benar ngebantu aku dalam memahami bullying di Indonesia.

—————————————-

Pesan apa yang ingin Mbak sampaikan melalui buku ini?

Aku berharap remaja jadi paham bullying itu seperti apa dan bagaimana dampaknya.

Kalau sudah paham, orang akan lebih tahu apa yang harus dilakukan jika menghadapi situasi semacam itu. Yang minimal banget, aku berharap remaja jadi lebih menghargai sahabatnya, nggak gampang mengejek temannya (apalagi menindas) atau memaksa teman melakukan hal yang nggak dia inginkan.

—————————————-

Ceritakan dong Mbak, bagaimana akhirnya naskah Unfriend You bisa diterbitkan GagasMedia!

Awalnya, aku menemani temanku, penulis One More Chance, Ninna Rosmina, berkunjung ke Redaksi Gagas Media.

Saat itu aku bertemu dengan editor Gagas Media, Christian Simamora. Dari hasil ngobrol-ngobrol, akhirnya keluarlah ide tentang novel bullying di kalangan remaja perempuan.

Aku sempat bingung juga, bisa nggak ya aku menulis tema ini karena aku kan sudah lama jauh dari dunia SMA. Di akhir tahun 2012 itu, aku sibuk mencorat-coret ide sinopsis sembari membaca-baca beberapa novel dengan tema bullying.

Kebetulan aku pernah membaca novel Jennifer Brown, berjudul The Hatelist. Itu novel yang bagus banget tentang kekerasan di sekolah. Jadi aku bisa mengira-ngira model novel yang ingin aku tulis.

Setelah beberapa kali diskusi dengan editor, tercapai kesepakatan cerita. Baru setelah itu, aku menulis novelnya selama satu setengah bulan. Itu rekor tercepatku dalam menulis novel karena biasanya aku menulis novel kurang lebih, dua bulan.

—————————————-

Apa arti menulis menurut Mbak Dyah?

Semua orang punya media untuk melampiaskan passion mereka. Ada yang melalui foto, lukisan, tarian dan lain-lain.

Buat aku, media pelampiasan itu adalah menulis. Inilah media yang paling aku kuasai untuk menciptakan dunia yang aku inginkan sekaligus berbagi pikiran dengan orang lain.

Aku akan lebih bersyukur lagi kalau aku bisa menggugah pikiran orang melalui tulisan, menciptakan perubahan kecil-kecilan melalui tulisan. Menciptakan perubahan melalui tulisan, kurasa itu hal yang diinginkan semua penulis.

—————————————-

Genre apa yang Mbak sukai dalam menulis novel?

Sejauh ini genre pernah aku tulis adalah detektif, romance, dan teenlit, tetapi bukan berarti aku cuma suka menulis genre ini aja.

Buat aku yang paling menyenangkan dalam menulis novel adalah karakter dan cerita yang terjalin di dalamnya. Selama aku menemukan karakter yang menarik untuk dikembangkan dan cerita yang seru untuk dibuat, aku akan menuliskannya, nggak peduli genrenya apa.

—————————————-

Siapa saja penulis favorit Mbak, dan siapa yang paling memengaruhi Mbak Dyah dalam dunia tulis-menulis?

Aku cenderung lebih menyukai karya seseorang, dibandingkan nge-fans dengan satu penulis tertentu. Karena bisa jadi, aku suka karya seorang penulis, tetapi kemudian nggak tertarik mengikuti karya berikutnya.

Novel yang aku kagumi antara lain: The Lovely Bones, The Time Traveler’s Wife, The Kite Runner, Please Look After Mom, The White Tiger, dan The Godfather. Untuk penulis, aku kagum pada Stephen King, Neil Gaiman, JK Rowling, Dan Brown, dan Michael Crichton. Mereka punya etos kerja dan kreativitas yang patut ditiru.

—————————————-

Apa yang biasanya Mbak Dyah lakukan untuk mencari ide dan inspirasi?

Aku suka pergi ke perpustakaan. Tempat favoritku adalah Perpustakaan Umum di Kuningan, Jakarta Selatan.

Untuk mencari inspirasi, aku akan ngasal saja mencari buku yang kira-kira menarik perhatianku. Bisa jadi buku dongeng, biografi orang, psikologi kepribadian, kisah nyata seseorang dan lain-lain. Kadang aku berhasil mendapat ide baru, kadang juga enggak. ^_^

Selain itu, aku punya kebiasaan jalan di sore hari sambil mengamati lingkungan sekitar dan menangkap apa aja yang muncul.

Aku selalu naik angkutan umum, jadi aku punya banyak kesempatan mengamati penumpang, kadang-kadang aku nguping apa yang mereka obrolkan.

Buatku, selama ada manusia (apalagi yang kelakuannya aneh-aneh), pasti ada hal menarik yang bisa ditulis. Yang penting adalah kita mengisi otak kita dengan sebanyak-banyaknya informasi. Suatu saat, pasti informasi itu akan muncul dengan sendirinya saat kita butuhkan.

—————————————-

Persiapan apa yang biasanya Mbak lakukan sebelum mulai menulis novel?

Begitu aku sudah suka pada ide tertentu, biasanya aku akan mempersempit fokusku. Aku akan mencari banyak buku dan film yang berkaitan dengan tema tersebut.

Aku juga akan bikin playlist, lagu-lagu yang mendukung moodku untuk menulis. Aku suka mendengarkan lagu Korea atau Jepang yang bahasanya nggak aku mengerti. Soalnya kalau aku mengerti bahasanya, malah nggak nulis, deh.

****

Nah, demikianlah obrolan saya dengan Mbak Dyah Rinni. Bagaimana, menarik bukan? Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang juga berkecimpung dalam dunia tulis menulis seperti halnya Mbak Dyah Rinni🙂

Oh iya, kalau mau lebih mengenal Mbak Dyah Rinni, silakan kunjungi blognya di http://deetopia.blogspot.com atau simak kicauannya di @deetopia .

Keep blogging!

10 Responses to “[Bincang-Bincang] Dyah Rinni –Penulis Unfriend You”


  1. 1 Pypy November 15, 2013 at 1:51 pm

    Tumben ga ada foto penulisnya😀

  2. 4 nuel November 15, 2013 at 4:19 pm

    Penulis kalau ada tenar, gitu yah? Project menulisnya nggak main-main, langsung baca skripsi. Luar biasa. Mungkin gue juga bakal kayak gitu, amin.. Hehehe….

    Btw, soal bullying, sadar nggak sadar, kayaknya tiap orang pernah ngalamin deh. Cuma, itu dia, dia sadar nggak lagi ngebully atau dibully??? Kalau yang cuek mah, mungkin nggak anggap sebagai bullying.

  3. 6 Intan Sudibjo November 15, 2013 at 9:14 pm

    wah si agan ini asyik terus nih bincang2, saya juga mau dong di wawancarai hehe😀

  4. 8 Sabda Awal November 16, 2013 at 7:56 am

    menarik ya, dari wawancara ini saja saya udah dapat pengetahuan tambahan tentang bullying…


  1. 1 [Bincang-Bincang] Nico Rosady –Editor Novel Unfriend You | Catatan gado-gado Trackback on November 16, 2013 at 2:15 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: