[Bincang-Bincang] Sky Nakayama – Penulis The Way We Were

Sebagai salah satu host dalam event GagasDebut Virtual Book Tour, saya berkesempatan untuk mewawancarai Sky Nakayama. Siapakah dia? Ya, siapa lagi kalau bukan penulis novel The Way We Were.

Barangkali di antara teman-teman sekalian sudah ada yang membaca novel itu. Nah, bagi yang belum, alangkah baiknya bila menyimak resensinya dulu di sini, hehe…. :p

Oke deh, tidak perlu bertele-tele. Ini dia hasil wawancara saya dengan Mbak Sky Nakayama. Check this out!

——————————————-

Sepertinya Kakak memang penulis atau terbiasa menulis, ya. Soalnya novel The Way We Were-nya bagus. Padahal, jujur, saya belum pernah mendengar nama Kakak. Ceritakan tentang perjalanan menulis Kakak, dong.

Bagi saya, arti kata penulis itu sangat luas sekali. Seseorang yang senang menulis namun belum mendapat kesempatan untuk menerbitkan buku pun bisa menyebut dirinya sebagai seorang penulis asalkan dia terus menekuni tulisannya. Bagi saya sendiri, menulis adalah sebuah kebiasaan yang saya tekuni karena saya merasa itu adalah media yang tepat bagi saya untuk menuangkan pikiran serta pengamatan saya terhadap segala sesuatu yang saya atau orang-orang di sekeliling saya lihat serta alami.

Perjalanan menulis saya dimulai ketika saya berusia sembilan tahun. On-off sih, karena dulu saya tidak disiplin terhadap karya saya🙂

Awalnya saya menulis karena seorang teman yang sering melihat saya corat-coret sesuka hati meminta dituliskan sebuah cerita sebagai kado ulang tahunnya. Dari situlah saya mulai suka berkhayal. Ketika kecil, karena kebebasan yang terbatas, saya banyak berandai-andai jikalau saya menjadi orang lain. Lama kelamaan saya mulai belajar menata karakter-karakter yang saya ciptakan. Membiarkan mereka sakit, terluka, dan berkembang seiring dengan cerita yang mereka miliki.

——————————————-

Berapa lama pembuatan novel The Way We Were? Sempat molor dari deadline nggak?

Dua tahun. Ide dasarnya saya dapatkan dua tahun lalu, dan novel ini adalah novel yang pertama kali saya tulis setelah terjebak dalam writer’s block selama enam tahun. Karena sudah sangat lama tidak menulis, saya sempat merasa luar biasa kaku sehingga berkali-kali naskah ini saya tulis ulang. Selama satu tahun naskah ini kemudian terlupakan dari benak saya, sampai tanpa sengaja suatu malam saya menemukannya terselip di antara file mata kuliah saya. Saat itulah saya putuskan untuk mencoba menulis kembali. Melupakan rasa ragu yang sempat membuat saya berhenti menulis naskah ini dua tahun yang lalu.

Deadline yang saya set sendiri atau deadline dari penerbit, nih? :p

Deadline yang diberikan dari penerbit pada saya hampir saja terlewat. Waktu saya mendapat telepon tentang diterimanya naskah saya dari pihak GagasMedia, saya sedang demam parah. Senang rasanya karena akhirnya semuanya bisa terselesaikan dengan baik.

——————————————-

Ide dasar novel ini terinspirasi atau didapat dari mana sih, Kak? Apakah terlintas begitu saja?

Ide dasar novel ini lahir dari berjuta pertanyaan yang menghampiri saat saya dan teman-teman saya hampir lulus sekolah. Membayangkan akan bertemu orang seperti apa saat kita menginjak dunia kuliah serta pengalaman apa yang akan kita temukan nanti. Sayangnya,apa yang kami kira akan menjadi sesuatu yang menarik serta menyenangkan tidaklah semuanya bisa terwujud. Ada mata kuliah yang membuat kepala pusing tujuh keliling, kurang uang saku, patah hati, dikhianati, pertengkaran dengan sahabat karib, bahkan problema keluarga.

Yang saya petik dari sanalah kemudian saya tuangkan ke dalam naskah ini. Suka dan duka di pengujung usia belasan, di kala kita sudah terlalu tua untuk disebut anak-anak, namun terlalu muda untuk bisa dimasukkan ke dalam kategori orang dewasa. Masa transisi itu yang ingin saya potret.

——————————————-

Apa kendala utama ketika menulis novel tersebut?

Seperti yang tadi saya ungkapkan, novel ini adalah novel pertama yang saya tulis setelah terkena writer’s block dalam jangka waktu yang cukup lama. Dalam periode tersebut, saya banyak menerima saran serta kritik mengenai tulisan saya yang harus saya akui walaupun sebetulnya saya yakin niatnya baik sempat membuat saya meragukan kemampuan saya untuk menulis. Berkali-kali saya memutuskan untuk berhenti. Saya juga sedikit takut karakter yang saya ciptakan tidak akan bisa membuat pembaca untuk membalik halaman hingga halaman terakhir.

Namun kemudian saya mengingatkan diri saya bahwa menulis adalah sebuah kebiasaan yang telah lama saya tekuni. Sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari diri saya. Tanpanya, ada sesuatu yang kurang dalam hidup saya. Dan juga, pada akhirnya saya sadar bahwa tidak seharusnya saya ‘menghukum’ diri saya sendiri dengan terus-menerus mengingat keterbatasan saya tanpa mau mencoba untuk memperbaikinya. Nah, satu-satunya cara untuk memperbaiki kekurangan serta keterbatasan kita adalah dengan terus mencoba dan belajar dari pengalaman, bukan?

——————————————-

Siapa tokoh favorit dan nonfavorit Kakak di novel itu? Kalau tokoh nonfavorit saya adalah ayahnya Laut😦

Haha..

Saya juga sempat berpikir pembaca mungkin tidak akan bersimpati pada ayahnya Laut. Sebetulnya yang ingin saya sampaikan pada pembaca melalui karakter beliau adalah, jangan takut untuk mengejar kebahagiaan kamu sebelum terlambat. Kalau beliau sedikit lebih berani untuk memperjuangkan kisah cinta masa lalunya, tentunya akan lain ceritanya, bukan?

Saya suka Laut🙂

Klise, ya? Menyukai tokoh utama, haha..

Yang saya sukai dari dirinya adalah dia bisa melihat pelajaran dari kesalahan ayahnya hingga ia berani untuk mengejar kebahagiaannya. Dibandingkan dengan kakak-kakaknya, Laut hanyalah seorang remaja biasa. Ia menyadari hal itu, namun melalui pengalaman ayahnya ia kemudian sadar bahwa ia berhak untuk bahagia. Hal itulah yang kemudian membuat ia berani. Dan sedikit impulsif, seperti halnya Oka🙂

Kalau tokoh non-favorit jujur saja tidak ada. Setiap tokoh memiliki peranannya masing-masing, seperti layaknya orang-orang yang kita temui dalam hidup kita. Baik atau buruk, mereka tentunya memiliki alasan mengapa mereka ada atau pernah ada dalam hidup kita.

——————————————-

Saat penulisan novel ini, sempat mengubah plot atau ide utama secara total/signifikan nggak?

Novel ini sempat saya edit hingga halamannya berkurang sebanyak 80 halaman. Ada juga satu tokoh yang saya hapus sepenuhnya karena seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap tokoh harus memiliki peranan yang jelas hingga cerita yang ditulis oleh penulis bisa didukung oleh kehadiran mereka. Hanya saja, ide utama serta plotnya masih tetap sama.

——————————————-

Makna dari judul The Way We Were apa sih, Kak? Itu judul dari Kakak sendiri atau dari penerbit?

Dari penerbit🙂

Dari sang editor Mitha M. Supardi, tepatnya. Hehe, makasih ya Mitha untuk idenya🙂

Bagi saya, makna dari judul tersebut adalah, jangan pernah lupakan masa lalu. Meskipun kita pernah membuat kesalahan ataupun pernah mengalami rasa sakit, ingatlah bahwa bagaimanapun kita pernah bahagia di sana. Sebelum kamu berkata bahwa masa lalu itu pahit, ingatlah lebih jauh. Lihat lebih dekat. Jika kamu bisa menemukan satu hal saja dari masa lalu yang bisa membuatmu tersenyum, itu berarti kamu pernah bahagia di sana. Dan siapa yang tahu, di masa mendatang mungkin kamu bisa lebih bahagia lagi🙂

——————————————-

Banyak “guru menulis” yang menyarankan agar sebaiknya kita menulis draft dulu sampai selesai (meskipun buruk), dan JANGAN langsung mengeditnya supaya kita tidak terhambat. Bagaimana dengan Kakak saat menulis novel ini?

Saya setuju. Saya mengikuti saran Mbak Dewi Lestari. Setelah menyelesaikan sebuah naskah, biasanya saya endapkan naskah tersebut selama beberapa minggu. Sekalian mengistirahatkan diri. Menulis itu merupakan sebuah pekerjaan yang tidak hanya menguras energi tapi juga menguras emosi, dan proses mengedit merupakan proses yang dua kali lebih melelahkan daripada proses menulis.

Ketika novel ini selesai, saya sempat mengendapkan naskahnya selama satu bulan sebelum memulai proses mengedit. Dengan pikiran yang lebih ringan serta segar, kesalahan-kesalahan teknis maupun non-teknis akan lebih mudah untuk dispot.

——————————————-

Siapa saja penulis kesukaan Kakak?

Haruki Murakami, Lauren Oliver, Dewi Lestari, Meg Cabot, JRR Tolkien, Charlaine Harris, Sara Shepard, Ann Brashares, Dean Koontz, John Green, dan Gayle Foreman.

——————————————-

Pesan apa yang ingin Kakak sampaikan melalui novel The Way We Were?

Live in the moment and be happy. That, is more than enough🙂

****

Demikianlah hasil wawancara saya dengan Sky Nakayama. Menyenangkan sekali berbincang-bincang dengan penulis yang satu ini. Terima kasih banyak atas waktunya ya, Kak!🙂

photo

Sky Nakayama

Sky Nakayama merupakan seorang maniac pixie dream girl sejati yang alergi bangun pagi. Pernah mengenyam pendidikan untuk menjadi seorang bankir, tapi kemudian memutuskan bahwa menulis dan fotografi adalah panggilan hidupnya. Mencintai karya-karya Haruki Murakami, Kim Ki-Duk, dan Wong Kar Wai. Novel The Way We Were merupakan novel keduanya yang diterbitkan setelah debut pertamanya, Phantasmagoria. Penikmat musim gugur ini bisa dihubungi di @ominousky atau http://gadispenjajakata.wordpress.com .

27 Responses to “[Bincang-Bincang] Sky Nakayama – Penulis The Way We Were”


  1. 3 Nurul Imam November 9, 2013 at 3:12 am

    Klo gua di wawancarai pasti nyeleneh jawabnya😀

  2. 6 kangmasprabuian November 9, 2013 at 4:50 am

    wow wawancaranya via apa neh? langsung? dia keturunan jepang ya..

  3. 9 arip November 9, 2013 at 11:16 am

    Wah emang udah dari kecil suka nulis.
    Belum baca novelnya nih.

  4. 11 mamaniyya November 9, 2013 at 11:55 am

    Cakep ya penulisnya..
    itu nama asli ya… ^_^

  5. 13 MENONE November 9, 2013 at 12:38 pm

    udah ayuuu smart….oooowwwwww

  6. 15 giewahyudi November 9, 2013 at 4:42 pm

    Sky Nakayama? Baru pertama kali denger di sini. Sudah cantik pinter nulis novel lagi, apa lagi? *ngiler*

  7. 17 capung2 November 9, 2013 at 5:28 pm

    bnyak muatan yang sangat berguna didalam wawancara ini..

  8. 19 Gina Gabrielle November 11, 2013 at 1:29 pm

    So proud of Sky! Dukung terus karya-karyanya ya🙂

  9. 21 Pypy November 11, 2013 at 3:47 pm

    Cantikk deh penulisnyaa😀

  10. 23 nuel November 12, 2013 at 12:10 pm

    Baca hasil wawawancaranya, gue malah bener2 ngayal, gimana yah kalau novel gue beneran terbit dan beneran diwawancarain kayak gini…. Mesti siapin diri nih. Hahahaha… -_-

  11. 25 nuel November 12, 2013 at 12:11 pm

    Soal writer’s block, gue juga pernah ngalamin, Mas.. Naskah pertama yang diterima itu, total pengerjaannya 4 tahun lho… #GakNanya


  1. 1 [Bincang-Bincang] Michan –Editor The Way We Were | Catatan gado-gado Trackback on November 10, 2013 at 12:09 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: