Pelajaran dari Utang-Piutang

money-stack-300x300Kemarin teman kerja saya cerita, saat bekerja di tempat yang dulu, dia pernah bertugas menagih utang. Ada relasi yang berutang kepada perusahaannya dalam jumlah yang lumayan besar. Mungkin karena kesulitan membayar, relasi itu memilih kabur bersama sang istri, meninggalkan anaknya yang dititipkan di rumah orangtua.

Teman saya mendatangi rumah tersebut, dan harus menghadapi kejadian yang sangat tidak mengenakkan. Orangtua si relasi menangis, sebab mereka pun tidak memiliki uang. Mereka tidak sanggup membayar utang yang dibuat oleh anaknya. Mereka juga tidak tahu di mana anaknya bersembunyi. Intinya, mereka sendiri kesusahan. Sampai teman saya resign dari tempat kerjanya itu, masalah tersebut masih belum selesai.

Saya jadi ingat dengan teman baik saya yang dulu memohon-mohon untuk mengambil produk di tempat kerja saya untuk dia jual kembali dengan sistem konsinyasi. Saat itu saya ragu dengan kemampuan manajemennya. Kalau dia gagal, utangnya pasti akan menumpuk, sebab jumlah produk yang dia ambil cukup besar. Tapi dia terus meyakinkan saya dan atasan. Katanya dia sanggup bertanggung jawab apa pun yang terjadi. Akhirnya kami pun memberikannya kesempatan….

Dugaan saya benar. Teman saya itu nggak cakap dalam mengelola usahanya. Ada banyak produk yang terjual, tapi uangnya nggak jelas keberadaannya. Catatannya kacau. Yang lebih parah, ia tidak meretur produk-produk yang tidak laku. Tentu saja utangnya menjadi banyak.

Teman saya kesulitan membayar utangnya. Entah apa yang ia lakukan dengan uang hasil penjualan, kok bisa habis begitu saja. Akhirnya ia menghilang entah ke mana. Sulit dipercaya, sebab dia adalah teman baik saya selama bertahun-tahun. Setahu saya dia orangnya jujur. Terakhir dia sms saya, katanya mengaku salah. Hidupnya kacau balau, dan ia nyaris bunuh diri.

Saya jadi merasa bersalah. Seandainya dulu saya tidak percaya dengan omongannya yang penuh optimisme, pasti saya tidak akan mengizinkannya mengambil produk. Padahal saat itu saya memang sudah ragu dengan kemampuannya dalam mengelola uang.

Ada satu pelajaran penting yang saya ambil dari peristiwa pahit itu. Ada dua kemungkinan yang terjadi bila kita memberi utang kepada orang lain. Pertama, kita telah menolongnya. Kedua, kita bisa menyulitkannya. Kalau rentenir, biasanya memang sengaja memanfaatkan kemungkinan kedua ini.

Ke depan saya akan lebih berhati-hati lagi bila ada orang yang hendak berutang dalam jumlah yang besar. Kalau tidak yakin dia bisa mengembalikannya, lebih baik saya menolaknya dengan berbagai cara. Daripada nanti malah menyulitkannya dan menyulitkan saya sendiri.

Tapi kalau memang kebutuhannya begitu mendesak dan jumlahnya tidak sampai mengganggu keuangan saya, lebih baik saya berikan saja sebagai sedekah, bukan utang. Saya rasa itu jalan yang paling bijak.

Bagaimana menurut teman-teman?

11 Responses to “Pelajaran dari Utang-Piutang”


  1. 1 giewahyudi June 19, 2013 at 11:54 pm

    Kalau saua memang menghindari utang-piutang, Mas, termasuk sama bank juga..

  2. 2 pursuingmydreams June 20, 2013 at 12:07 am

    Kalau punya usaha apalagi dari pinjaman, harus jelas pembukuan keluar masuknya uang. Sama spt mas Gie sebisa mungkin saya menghindari pinjam meminjami, yang tadinya teman bisa jadi musuh gara-gara utang. Jaman sekarang lebih galak yang yang dipinjami uang, pas ditagihnya.

  3. 3 Rohani Syawaliah (@honeylizious) June 20, 2013 at 12:50 pm

    ada loh orang yang saya kenal baik tetapi nggak malu utangnya yang sedikit nggak dilunasin juga, sampe saya sendiri mau nagih pun malas, emang dasar muka tebal sih dia

  4. 4 Eyie June 20, 2013 at 6:15 pm

    anda salah! orang itu dari awal sudah memperlihatkan sikap tidak bertanggung jawab,tdk amanah.Alasannya omong kosong bohong belaka saja,krn kegagalan dia bukan krn gagal di bisnisnya tapi sifat dan sikap hidup boros-KOMSUMTIF gak bs megang uang banyak,saya jg pernah dibohongi kayak gini,bukan temen tapi keluarga sendiri!! SIkap yg bener menurut saya adl Kontrol Uang adl di KITA!! buukan orang laen skalipun temen/keluarga sndiri,Mari belajar memimpin usaha sndiri,dan mendelegasikan ke org yg mengelolanya tapi Kontrol harus selalu di kita! Jangan lagi memberi uang banyak ke orang laen tanpa “Perlindungan (ilmu&Pengalaman) kpd orang laen.., krn skali uang kita berada di tangan orang laen kita tdk punya kontrol lagi

  5. 5 rukhi mahatmajati June 20, 2013 at 9:35 pm

    memang hutang piutang merupakan masalah pelik.saya sangat setuju dengan penulis.intinya adalah proses awal.jika kita tidak yakin,maka jangan.karena sifat seseorang bisa berubah drastis karena masalah hutang.salam sukses

    • 6 ditter June 22, 2013 at 11:28 pm

      @Giewahyudi: Wah, bagus itu, Mas. Lebih amanπŸ™‚

      @Pursuingmydreams: Iya mbak, bener banget. Dari pembukuan akan kelihatan apakah usaha yang sedang dijalani sehat atau nggak….

      @Mbak Hani: Wah, parah banget itu, Mbak….

      @Eyie: Yah, bisa jadi begitu, Mbak….

      @Rukhi Mahatmajati: Sip, salam sukses juga!πŸ™‚

  6. 7 af June 21, 2013 at 7:46 am

    Memang kadang masalah utang banyak jg yg menganggapnya sepele

  7. 8 jarwadi June 21, 2013 at 8:27 am

    yah, dilema mempercayai orang ya seperti itu, hehehe
    orang biasanya kita percaya karena dua hal, 1) kejujuranya 2) kompetensinya

  8. 9 3snainc June 21, 2013 at 2:06 pm

    itulah salah satu kesalahan manusia jamak… begitu mau buka usaha… yang dipikirkan adalah untungnya… tapi tidak memikirikan apabila hal buruk terjadi… siap bertanggung jawab atau tidak… yang paling enak main lari gak tanggung jawab…

  9. 10 Jony Jony's June 21, 2013 at 11:03 pm

    Hutang,….. mengerikan,…..
    Dalam suatu hadis di jelaskan orang yang tidak dapat membayar hutangnya diakhirat nanti akan rugi, karena amal baiknya akan diambil oleh orang yang memberi hutang. karena diakhirat tidak ada dirham dan dinar, thank, tetap semangat dan selalu waspada

    • 11 ditter June 22, 2013 at 11:32 pm

      @af: Setujuuu….

      @Jarwadi: Iya mas, begitulah…πŸ™‚

      @3snainc: Sebel banget mbak kalau harus berurusan sama orang yang lari dari tanggung jawab gitu, hehe….

      @Jony Jony’s: Iya mas, utang bener-bener menyeramkan…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: