Perayaan Waisak di Candi Borobudur

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan selamat hari raya Waisak 2557/2013 bagi teman-teman yang merayakan🙂

Kemarin (25/5) saya dan beberapa teman jalan-jalan ke Candi Borobudur. Niatnya sih untuk menyaksikan prosesi Waisak, khususnya upacara pelepasan 1000 lampion.

Kami datang sore hari, dan saat itu jalanan menuju Candi Borobudur sudah cukup macet. Ternyata ada banyak orang yang seperti kami, ingin melihat-lihat sesuatu yang mungkin masih asing, untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Teman saya yang sudah beberapa tahun berturut-turut menyaksikan Waisak di Borobudur bilang bahwa tahun kemarin dan tahun ini orang-orang yang datang banyak sekali.

Sampai di pintu gerbang, ada petugas yang berjaga, dan kami belum diperbolehkan masuk. Setelah waktu maghrib, baru pintu dibuka, dan para pengunjung yang masuk harus melewati beberapa pemeriksaan. Selanjutnya kami menunggu saja di dalam kompleks Candi Borobudur sambil basah-basahan, sebab saat itu hujan.

Kami lihat pelataran candi borobudur sudah dipenuhi orang. Mereka memotret altar dan objek lainnya sambil menunggu ceremonial dimulai. Timbul pertanyaan di benak saya, apakah nanti ibadah kaum Buddhis tidak terganggu dengan adanya “wisatawan” tersebut dengan tingkah polahnya masing-masing?

Saya dan teman-teman menunggu di tempat yang agak jauh dari pelataran. Dari situ kami mendengar suara pemuda-pemudi yang teriak-teriak sambil bercanda. Banyak juga mbak-mbak berpakaian minim yang hilir mudik di antara para bhikku. Suasana benar-benar seperti pasar malam.

Saat sedang menunggu itu, teman saya bercerita bahwa nanti akan ada ibadah yang berlangsung sangat khusyuk, yakni Pradhaksina. Saking khusyuknya, suasana berubah menjadi “magis”. Pradhaksina itu sendiri adalah ritual suci mengelilingi candi searah jarum jam. Wow, saya pun menantinya dengan penuh gairah.

Beberapa lama kemudian, akhirnya Pradhaksina dimulai. Kami berada agak jauh dari pelataran utama. Selanjutnya apa yang terjadi benar-benar di luar dugaan saya. Sepertinya ada beberapa pengunjung yang merangsek masuk ke pelataran utama untuk foto-foto sehingga mengganggu ibadah. Belakangan saya dapat kabar bahwa ada beberapa pengunjung yang memfoto bhikku yang sedang berdoa dalam jarak yang sangat dekat, kurang lebih satu meter! Wow, ganas betul “fotografer” zaman sekarang.

Bhikkuni yang bertugas membaca doa sampai berkali-kali memutus bacaannya untuk meminta tolong agar para pengunjung turun dari altar sehingga ibadah bisa berlangsung lancar. Bhikkuni tersebut terus memohon dan memperingatkan para pengunjung agar tertib serta memberi jalan kepada umat yang sedang pradhaksina.

Seharusnya bhikkuni itu memimpin pradhaksina dan membaca doa dengan tenang. Saya heran, kenapa para pengunjung kok begitu ngeyel, nggak bisa dibilangin sekali-dua kali. Mungkin karena terlalu banyak orang kali, ya. Yah, suasana saat itu jauh dari khusyuk.

Setelah Pradhaksina selesai, acara seharusnya dilanjutkan dengan upacara pelepasan 1000 lampion. Sepertinya acara inilah yang paling ditunggu-tunggu oleh para pengunjung, sebab mereka yang sebelumnya duduk-duduk lantas berdiri. Tapi, pihak panitia mengumumkan bahwa upacara pelepasan lampion dibatalkan karena hujan.

Sebagian pengunjung berteriak kecewa, sudah menunggu berjam-jam di tengah hujan sambil basah-basahan, tapi tidak mendapat apa yang mereka inginkan. Yah, mau gimana lagi, namanya juga kondisi alam.

Oh iya, selepas pulang acara selesai, saya menyempatkan memfoto beberapa objek di pelataran utama. Berhubung pradhaksina sudah selesai, pengunjung diperbolehkan mendekati altar.

Borobudur 1

Altar di pelataran utama Candi Borobudur

Borobudur 2

Pelataran utama Candi Borobudur dari kejauhan

Borobudur 3

Saya pulang ke kos menembus hujan hampir tengah malam. Sepanjang perjalanan saya teringat terus dengan bhikkuni yang kesulitan memimpin pradhaksina karena pengunjung yang bertindak di luar batas. Ah, sepertinya ibadah mereka di sana terganggu😦

7 Responses to “Perayaan Waisak di Candi Borobudur”


  1. 1 Vicky Laurentina May 26, 2013 at 3:44 pm

    Coba kalo saya lagi sholat Ied dengan takbiran tujuh kali, terus ada yang motretin saya dari jarak satu meter, niscaya mengucap istighfar dan langsung menyambar semprotan obat nyamuk di dalam tas saya, lalu saya semprotin ke pemotret saya itu.

  2. 2 Annie Tjia May 27, 2013 at 8:59 am

    Terkadang memang perayaan ibadah besar resiko diganggu pengunjung itu pasti ada. Padahal ritual bukan hal yang dilakukan buat hiburan, tapi untuk keagamaan. Semoga aja untuk perayaan hari waisak tahun depan ga terjadi lagi hal semacam ini. Selamat hari Waisak dan salam kenal aja dari saya.🙂

  3. 3 pursuingmydreams May 27, 2013 at 1:36 pm

    Sebaiknya sih dipasang pagar (pita pengaman) ketika ibadah berlangsung jadi ibadah tetap berlangsung dg baik.

  4. 4 duniaely May 28, 2013 at 2:20 pm

    wah .. kebayang andai aku dan suami bisa menghadiri langsung perayaan ini😛

  5. 7 Wong Cilik May 29, 2013 at 3:06 am

    di beberapa forum juga di perbincangkan tentang ulah fotografer dadakan yang nggak bisa menempatkan diri ini. Upacara keagamaan jadi berasa pasar malam. Kasihan yang lagi beribadah …😦


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: