Kerja di Rumah atau di Kantor?

Beberapa waktu yang lalu saya berbincang dengan beberapa kenalan yang bekerja sebagai freelancer. Menurut mereka, bekerja di rumah sendiri itu enak. Bebas macet, ngga perlu keluar biaya transportasi, nyaman, bisa meluangkan diri untuk keluarga sewaktu-waktu, dan sebagainya.

Modal mereka untuk bekerja di rumah terbilang sederhana, cukup ruangan kecil, seperangkat komputer, modem atau koneksi internet, serta ponsel. Referensi bisa dicari lewat internet. Kalau mau komunikasi dengan klien, bisa pakai ponsel, bisa juga chatting via YM, GoogleTalk, FB, dan lain-lain. Setiap pekerjaan yang sudah selesai tinggal dikirim via e-mail. Pembayaran diterima lewat transfer bank.

Nah, bandingkan dengan aktivitas ngantor, khususnya di kota-kota besar. Berangkat pagi-pagi, kena macet, keluar ongkos, kena banjir, hujan, polusi udara, jarang ketemu anak-anak/keluarga, dan sebagainya. Wah, kok suram banget, ya? Hehe….

Tapi saya sendiri justru kurang cocok kalau bekerja di rumah. Saya jadi malas dan tidak bisa mengendalikan diri untuk bersantai-santai. Jadinya hasil kerjanya ngga bisa maksimal. Susah bangun pagi, sering meninggalkan pekerjaan untuk bercengkerama dengan keluarga, tidur siang, dan sebagainya. Pekerjaan ngga selesai-selesai, dan akhirnya telat nyetor. Sudah pasti klien kecewa dan nggak pesan lagi. Hahaha….

Sebaliknya, kalau bekerja di kantor, saya malah jadi “gigih”. Ini karena pengaruh lingkungan, keadaan, dan suasana kali, ya. Saya dipaksa bangun pagi, jadinya bisa bangun. Saya dikenai berbagai peraturan, lalu saya ikuti, dan ternyata membuat saya lebih disiplin. Kalau sudah di meja kerja, saya fokus kerja. Hasilnya, berbagai pekerjaan bisa saya selesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Kepribadian orang memang beda-beda, ya. Ada yang bisa mendisiplinkan diri sendiri, ada juga yang harus “dipaksa” oleh peraturan. Dan sepertinya saya termasuk yang kedua :p

Kesimpulannya, menurut saya lebih enak bekerja di kantor, tapi yang kantornya dekat dengan tempat tinggal. Kalau berangkat cukup dengan jalan kaki atau naik sepeda. Jadi ngga perlu kena macet, ngga perlu keluar ongkos, dan yang pasti “ngga tua di jalan”😀

6 Responses to “Kerja di Rumah atau di Kantor?”


  1. 1 Indi December 25, 2012 at 4:37 am

    betul, setiap orang beda2, sih. kerja dimana tergantung karakter orang itu sendiri (dan keadaannya). kalau aku sendiri milih keduanya, tapi prioritas tetap kerja di rumah. aku kerja di kantor (aku kerja di preschool) satu minggu 4 kali, sisanya dan sisa waktu pulang kantor aku kerja di rumah. it’s fun dan membuat “gaya kerja” aku seimbang🙂

  2. 2 niee December 31, 2012 at 8:46 am

    setuju, enak itu kalau kantornya deket dengan rumah, jadi gak perlu macet.

    dan menurut aku berwirausaha lebih seru dan yang pasti harus juga ada kantornya dong😀

  3. 3 nia March 11, 2013 at 8:43 am

    kebetulan jarak rumahku dengan kantor sangat dekat… ga perlu bensin ato ngongkos angkot, hehe…
    masalahnya aku udah mulai jenuh dg aktivitas sehari-hari di kantor nih,, pengennya resign n punya usaha sendiri… tapi males jg kalo ntar pas punya usaha ga laku, hahaha

  4. 4 nuel November 27, 2013 at 12:44 pm

    Saya pilih kerja di rumah. Bukan apa-apa, tapi fisik saya sering drop kalau mesti berangkat pagi-pulang sore. Waktu itu pernah, pulang sore setelah ketemu temannya, besoknya badan mau patah rasanya.


  1. 1 Persediaan | Catatan gado-gado Trackback on March 8, 2014 at 9:37 pm
  2. 2 Sarapan | Catatan gado-gado Trackback on April 20, 2014 at 4:44 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: