Pengemis Kaya

Malam tadi saya dan si Nyonya pergi ke sebuah swalayan untuk membeli beberapa barang kebutuhan sehari-hari. Saat sedang mencari-cari, kami melihat seorang ibu-ibu tua yang tampak lusuh dan kotor. Ia sedang sibuk menghitung uang recehan (koin) di dalam swalayan. Sepertinya ia hendak menukar uang koin receh itu dengan uang kertas yang nominalnya lebih besar.

Dugaan saya benar. Setelah si Ibu selesai menghitung uang koin, si Mbak Pegawai Swalayan menukarnya dengan beberapa lembar uang kertas. Saya dan Nyonya sempat berbincang dengan si Mbak Pegawai setelah si ibu-ibu pergi. Kata si Mbak, uang yang ditukar tadi sekitar 30 ribu (saya sebut  ‘sekitar’ karena saya agak lupa). Si ibu tadi adalah pengemis.

Dalam pikiran saya, jumlah uang segitu lumayan banget, apalagi untuk ukuran Yogyakarta yang biaya hidupnya cukup murah. Bagi orang lainnya, untuk mendapat uang segitu harus kerja banting tulang seharian. Tukang becak di Yogyakarta penghasilannya juga ada yang 30 ribu sehari, tapi mereka harus mengayuh becak dulu berpuluh-puluh kilometer dengan membawa beban yang berat.

Belum hilang kekagetan saya, si Mbak melanjutkan ceritanya bahwa ada lagi kakek-kakek cacat yang juga sering menukar uang di situ, dan katanya penghasilan dia 200an ribu sehari! Kalau lagi sepi ya kadang “cuma” 100an ribu Gokil, ye…. Pegawai swasta kantoran aja belum tentu bisa dapet penghasilan segitu dalam sehari.

Si Mbak cerita bahwa kedua pengemis itu adalah warga pendatang (perantau). Konon mereka bisa membangun rumah yang bagus dan mewah di kampungnya. Mereka juga bisa beli kendaraan bermotor. Cukup dengan hidup hemat di sini, mereka sudah bisa membawa uang yang sangat banyak ketika pulang kampung. Weleh… weleh….

Saya punya teman yang bekerja sebagai marketing bank. Saat bekerja, dia harus berkeliling ke mana-mana dengan sepeda motornya untuk mencari nasabah atau menjual produk bank. Panas dan hujan ia hadapi demi mendapat rezeki yang halal. Penolakan-penolakan kasar dari orang-orang ia terima dengan lapang dada, karena hal itu memang bagian dari profesinya. Sering kali ia tidak mendapat hasil apa-apa meski sudah berkeliling seharian. Walaupun sudah berusaha keras, penghasilannya tetap jauh di bawah si kakek pengemis. Rasanya kok nggak adil….

Kalau mau amal, daripada ngasih uang ke pengemis di jalan-jalan, mendingan langsung sumbangin ke panti asuhan aja kali, ya. Lagipula sekarang banyak lembaga-lembaga amal yang konon profesional. Yah, siapa tahu bersedekah lewat lembaga seperti itu jauh lebih baik dan tepat sasaran….

Gimana menurut teman-teman?

 

 

 

6 Responses to “Pengemis Kaya”


  1. 1 niqué September 1, 2012 at 12:42 am

    saya sih seenak-hatinya aja
    klo pas ketemu pengemis dan enak hati ya ngasih tapi sekedarnya aja
    klo gak ya engga😀
    soale mo ngasih ke yg profesional juga blom rela
    abis kabarnya yg ngurusin dapet gaji dari jumlah dana yg masuk
    wlo udah ada aturan jelasnya, kok blom rela hehehe
    mendinganlah ngasih langsung sm yg benar2 dikenal
    dan kalau yg ini baru jumlahnya tidak sekedarnya dong🙂

  2. 2 Kimi September 1, 2012 at 9:43 am

    Saya lebih memilih untuk beramal ke masjid atau ke panti asuhan. Atau sekalian ke lembaga-lembaga non-profit lainnya ketimbang ke pengemis2 jalanan. Semakin dikasih nanti semakin ramai kota dengan pengemis2 dadakan dan dari luar kota.

  3. 3 puchsukahujan September 1, 2012 at 12:57 pm

    setuju….
    di apotek juga sering tuh ada pengemis yang nuker uang tiap harinya
    dan WOW penghasilannya jauh lebih banyak daripada aku yang jaga apotek hampir 7 jam sehari

    ckckck

  4. 4 Vicky Laurentina September 2, 2012 at 10:05 am

    Saya medit kalo urusan sedekah, soalnya saya nggak bisa bedakan orang miskin original dengan orang miskin KW. Makanya saya lebih seneng kasih sedekah ke badan zakat. Itu pun juga saya milih-milih, maunya badan zakat yang auditnya publik aja, jadi saya tahu sedekah saya disalurkan ke mana.

    • 5 Ditter September 2, 2012 at 9:42 pm

      @Niqué: Iya tuh, Mbak. Saya juga masih merasa belum rela bersedekah lewat lembaga zakat profesional, khususnya yg nggak diaudit publik. Nah, kalau begitu memang ada baiknya bersedekah ke orang yg dikenal aja, khususnya keluarga yg membutuhkan, hehe….

      @Kimi: Betul, saya setuju banget!🙂

      @Puchsukahujan: Wowww…. Mungkin dia tampak lusuh, tapi bisa jadi rumah di kampungnya mewah….

      @Mbak Vicky: Wah, sip banget itu, Mbak. Pemikiran kita hampir sama, hehe….

  5. 6 kimjibyung October 20, 2012 at 10:49 am

    Saya malah sudah 3 kali melihat aksi pengemis. Mereka rata2 menyimpan/mengumpati uang dr pemberi sebelumnya. Jadi seakan-akan mereka seharian blm mendapatkan pemberian dari orang. Miris sekali ya, gajinya aja sebulan aja melebihi gaji pns golongan 3 apalagi gaji lulusan sma.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: