Prinsip “Wani Piro” Menghambat Perkembangan

Teman-teman pasti tahu dengan iklan yang memopulerkan istilah “wani piro”. Ya, iklan yang jenaka itu seakan menyindir fenomena sosial yang sering terjadi di negeri ini, yakni “apa-apa duit”.

Bila menerapkan prinsip ini, kita baru akan bersedia menjalankan sebuah tugas atau pekerjaan dengan baik jika imbalannya besar.

Sebenarnya tidak salah bila kita mengharapkan sebuah imbalan yang besar sebelum melakukan pekerjaan tertentu. Toh setiap usaha yang kita lakukan dengan sebaik-baiknya memang layak mendapatkan imbalan yang setimpal. Namun, bila terlalu terpaku akan harapan tersebut, perkembangan diri kita justru akan menjadi terhambat.

Misalnya begini. Kita merasa bahwa gaji yang kita dapat di perusahaan tempat kita bekerja terlalu sedikit, tidak sebanding dengan skill yang kita punya. Karena tidak puas, kita sengaja menurunkan kualitas kerja, dengan alasan, percuma bekerja sebaik-baiknya bila bayaran yang kita terima tidak sesuai dengan kualitas hasil pekerjaan kita.

Pada suatu ketika, Bos berniat menaikkan (jabatan) beberapa karyawannya untuk mengisi posisi setingkat manajer di perusahaan. Selama beberapa bulan, ia tekun mengamati dan menilai para bawahannya berdasarkan beberapa syarat, yakni punya kontribusi besar untuk perusahaan, rajin bekerja, hasil kerjanya bagus, penuh semangat, dan punya potensi untuk berkembang.

Lihatlah, bila menerapkan prinsip “wani piro”, sudah tentu kita tidak akan masuk daftar karyawan yang akan naik jabatan. Sebaliknya, bagi karyawan lain yang bekerja dengan ikhlas dan sebaik-baiknya, sudah tentu akan dilirik Bos untuk dinaikkan posisinya, yang berarti gajinya akan naik juga.

Ya, bekerja dengan sebaik-baiknya memang tidak ada ruginya. Kalaupun tidak mendapatkan imbalan materi yang menurut kita kurang pantas, paling tidak diri kita jadi bisa berkembang dengan baik sehingga kualitas pribadi kita pun semakin meningkat.

Bagaimana menurut teman-teman?

19 Responses to “Prinsip “Wani Piro” Menghambat Perkembangan”


  1. 1 elfarizi March 13, 2012 at 6:11 am

    Motto itu memang semacam autokritik buat kita semua, ya, Mas …
    Dalam bekerja memang harus profesional, tapi kayaknya “wani piro” gak perlu jadi tolok ukurnya … karena biasanya kualitas kita dalam bekerja berbanding lurus dengan apa yang akan kita terima dari perusahaan itu😀

  2. 2 chachu March 13, 2012 at 6:50 am

    true story.
    saya setuju, tapi masalahnya masih banyak pikiran “wani piro” itu yang berlaku di masyarakat. padahal kita sendiri kan yang untung kalau kita rajin🙂

  3. 3 ~Amela~ March 13, 2012 at 7:17 am

    yang penting sekarang adalah menikmati pekerjaan.. kerja kan juga ibadah..

  4. 4 misstitisari March 13, 2012 at 9:00 am

    iya sekarang kok lagi ngeten amat sih soal ‘wani piro’ itu
    saya ngga nyaman dengernya, apaapa diukur pakai uang…. ngga semua hal bisa dihargai pakai uang kan padahal😦

  5. 5 Falzart Plain March 13, 2012 at 9:17 am

    Kadang saya merasa upah itu tidak penting… Atau ini lebih karena saya ini masih mahasiswa ya?

    • 6 Ditter March 22, 2012 at 7:26 pm

      @Elfarizi: Setujuuuu… Dan itu terjadi khususnya pada perusahaan-perusahaan besar, hehe….

      @Chachu: Iya, biasanya justru kita sendiri yg untung kalau kita rajin🙂

      @Amela: Setujuuuuu….

      @Misstitisari: Yah, begitulah….

      @Falzart Plain: Mmm… bisa jadi besok pas udah jadi dokter pun akan menganggap bahwa upah itu tidak penting. Mudah-mudahan, sebab itu jadi meringankan masyarakat yg ingin berobat, hehehe….

  6. 7 puchsukahujan March 13, 2012 at 10:24 am

    hari gini masyarakat kita semakin tak punya rasa ‘pengabdian’
    beda kultur sama orang Jepang yang suka bekerja sebelum waktu jam kantor dan pulang larut setelah jam kantor usai
    klo di Indonesia berangkat telat pulang paling awal

  7. 8 Vicky Laurentina March 13, 2012 at 10:08 pm

    Liat-liat dululah. Kalo udah kerja bertahun-tahun di tempat yang sama tapi masih belum naik fasilitas juga, boleh deh itu prinsip “wani piro” dipakai.

  8. 9 sulunglahitani March 13, 2012 at 10:10 pm

    hari gini semua diukur sama uang😦

  9. 10 leegundi March 14, 2012 at 11:06 am

    ya sebaiknya jangan hanya berpatok pada wani piro saja , kita juga harus melaksanakan tugas/pekerjaann dengn baik dan ikhlas ,,, dan nanti akan dtng dengan sendirinya .

  10. 11 Ari March 15, 2012 at 11:30 am

    Wani piro itu prinsip dasar ekonomi lho.. semakin dibutuhkan suatu barang (demand bertambah) akan membuat harga semakin naik.

    Ebay juga pakai prinsip itu. kalo kita mau beli barang harus auction dulu. kalo dimasukin google translate bahasa jawa jadinya: Wani Piro?

    • 12 Ditter March 22, 2012 at 7:29 pm

      @Puchsukahujan: Iya, kebiasaan berangkat telat dan pulang awal di negeri ini masih membudaya…..

      @Mbak Vicky: Ooh.. gitu ya, Mbak…. Tapi mendingan pindah kerja aja kali ya, cari tempat yg lebih baik, hehe….

      @Sulunglahitani: Betullll…..

      @Leegundi: Setujuuuuu….

      @Ari: Ooohh…. gitu ya, Mas. Hehe….

  11. 13 pelancongnekad March 17, 2012 at 10:32 pm

    wah, saya lebih setuju kalau keadaannya seperti…
    “Jiaahh, gaji gue kecil banget, padahal kualitas kerja gue kan mumpuni. Daripada gue menurunkan kualitas kerja karena apresiasi yang kecil, mending cari kerjaan baru deh yang bergaji besar”
    hehehheeheheee…
    ga menutupi kenyataan, kebanyakan orang cari kerja yang bayarannya selangit..

  12. 14 tabah March 19, 2012 at 7:23 am

    sepakat ntu. . .. tunjukan kualitas barulah kuantitas mengikuti hehehehe

  13. 16 sinarbuku April 2, 2012 at 5:26 pm

    betul kang dit.maju terus menjadi yg terbaik. silahkan mampir ke rumahku kalo ada waktu. saya baru posting sesuatu yg baru

  14. 17 ndutyke April 16, 2012 at 4:48 pm

    sebagai seorang worker, sebaiknya kita mengetahui benar (bukan cuma HAK, tapi jugaaa…) KEWAJIBAN kita. lha kalo jobdesc tsb sudah termasuk dalam kewajiban (yg sdh dibayarkan hak perbulan-nya), mosok masih mau tanya: “Wani piro?” ?? Iku jenenge: kemaruk lan gak tau malu…..
    :mrgreen:

  15. 19 Ida Bagus Sumantri July 20, 2012 at 11:19 pm

    AQ setuju dengan pendapat di atas, Menurutku sugesti wani piro membuat produktivitas dan kinerja kita menjadi lebih lambat, di karenakan anggapan yang hanya memikirkan diri sendiri tanpa melihat sudut pandang yang berbeda.. hal tersebut membuat kita menjadi mas bodoh dan malas..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: