Yuk, Menjadi Profesional!

Saya punya beberapa kenalan yang sering disebut sebagai profesional muda. Ya, banyak orang yang menyebut mereka demikian karena penampilan mereka memang terlihat sebagai seorang “profesional”, mengenakan jas, kemeja, dasi, dan sepatu kulit. Mereka tampak gagah dan berwibawa.

Saya sendiri berpendapat bahwa sebutan profesional tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang mengenakan jas dan dasi, namun juga mereka yang menjalankan pekerjaan dan tugas masing-masing dengan baik, tekun, dan konsisten.

Ya, bagi saya profesional lebih berarti sebuah sikap dibanding penampilan atau cara berpakaian.

Seorang tukang beras yang bisa membayar utangnya tepat waktu kepada para supliernya, di mata saya adalah seorang profesional. Seorang pegawai negeri sipil yang selalu berangkat kerja tepat waktu serta bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan tepat waktu pula, juga saya sebut sebagai seorang profesional.

Singkatnya, sebutan profesional saya tujukan kepada orang yang bisa bekerja dengan baik sesuai bidang masing-masing, mulai dari segi ketepatan waktu, komitmen terhadap jadwal kerja, kualitas hasil kerja, dan lain sebagainya.

Bekerja sama dengan seseorang yang profesional adalah sebuah hal yang sangat menyenangkan. Pekerjaan bisa selesai tepat waktu dengan hasil yang maksimal. Bos senang, dan pihak-pihak yang terlibat dengan pekerjaan itu pun puas.

Setelah merenung, saya merasa bahwa sampai saat ini saya masih belum profesional, bahkan sangat jauh dari sikap itu. Saya iri dengan teman-teman saya yang mampu mengalahkan dirinya sendiri hingga kemudian bisa bersikap profesional dalam menjalankan pekerjaan mereka. Selain karier mereka terus berkembang pesat, relasi mereka pun semakin luas. Ya, bersikap profesional memang bisa mendatangkan manfaat yang tidak terkira.

Begitulah, untuk menjadi baik memang selalu banyak godaannya. Terkadang saya sulit mengalahkan godaan tersebut. Padahal, ada banyak manfaaat yang bisa kita terima dengan menjadi baik itu, dalam hal ini bersikap profesional. Semoga catatan ini bisa menjadi pengingat saya untuk tidak menyerah dalam menghadapi godaan-godaan itu๐Ÿ™‚

Yuk, menjadi profesional!๐Ÿ™‚

12 Responses to “Yuk, Menjadi Profesional!”


  1. 1 Asop September 5, 2011 at 9:11 pm

    Wah kalo ciri2 yang Ditter jelaskan di paragraf pertama itu menurut saya bukan “profesional”, tapi “eksekutif muda”.๐Ÿ™‚

  2. 3 Vicky Laurentina September 5, 2011 at 9:23 pm

    Sebetulnya “profesional” itu berarti “bersikap seperti layaknya profesi masing-masing”.

    Misalnya balerina profesional akan menari sesuai standar profesinya sebagai balerina.
    Insinyur profesional akan mendirikan bangunan yang memenuhi standar-standar keamanan, sesuai standar profesinya sebagai insinyur.

    Suatu hal disebut profesi jika untuk mencapainya perlu kurun waktu sekolah yang lama karena perlu kompetensi tertentu yang terstandarisasi. Untuk menjadi balerina atau insinyur kan perlu sekolah dan ada setifikat kompetensinya, maka mereka berhak disebut profesi.

    PNS tidak akan pernah bisa disebut profesional karena PNS memang bukan profesi.
    Penjual beras juga tidak pernah profesional karena penjual beras memang bukan profesi. Apakah ada sekolah khusus untuk menjadi PNS atau penjual beras? Nggak ada dong, maka mereka bukan profesi, jadi tidak akan pernah jadi profesional. Yang betul, PNS atau penjual beras adalah jenis pekerjaan.

    • 4 Ditter September 5, 2011 at 9:49 pm

      @Asop: Oh iya, Sop! Bener! Hahaha…. Wah, jadi malu….
      @Mbak Vicky: Oohh.. begitu, ya…. Memang dlm bingkai ilmu etika profesi, demikianlah penjelasan ttg definisi profesional. Terima kasih banyak sudah membetulkan mbak, hehe….๐Ÿ™‚

    • 5 vizon September 6, 2011 at 6:00 am

      Kurang setuju dengan pendapat mbak Vicky soal profesionalisme PNS.
      PNS memang bukan profesi, tapi jenis pekerjaan yang dikerjakan bisa disebut sebagai profesi, sehingga orangnya bisa disebut sebagai profesional.

      Contoh: guru, dosen, dokter, hakim, dll.
      Mereka yang saya sebutkan ini adalah mereka yang bekerja berdasarkan kemampuan dan keahlian yang mereka sandang. Oleh karenanya, sebagai pegawai negeri mereka mendapatkan gaji standar pegawai negeri, namun sebagai profesional, mereka mendapat tambahan tunjangan sesuai profesi mereka.

      Agaknya yang menjadi paradigma adalah bahwa PNS itu adalah mereka yang bekerja di kantor-kantor pemerintah, seperti kantor kecamatan atau kementrian tertentu. Sesungguhnya, PNS adalah status, sementara jenis pekerjaannya sangat banyak. Di antaranya seperti yang saya sebutkan di atas tadi..๐Ÿ™‚

  3. 6 Rosa September 6, 2011 at 3:11 am

    Kunjungan balik,๐Ÿ™‚

    Yay ada bberp orang profesional yg sy kenal dan sy sangat mengagumi mereka. Kelihatan sekali masalh pekerjaan dan hubungan pertemanan dapt terjalin dengan baik tanpa salah satu dr keduanya terganggu. Jika ada masalah pekrjaan tntu itu g dibawa saat berhubungan selyknya teman. ketidakberhasilan ato ketidaktepatan waktu pekerjaan tidak mmbuat mereka mengurangi respect thdp kitaa.

    Uah masih berusaha utk memiliki sikap yg demikian:)
    Blognya rapi sekali deh!
    Salam..

  4. 7 vizon September 6, 2011 at 5:52 am

    Setuju sekali…
    Profesionalisme bukan diukur dari pakaian yang dikenakannya, tapi dari kesempurnaan hasil dari yang dikerjakannya…

  5. 9 HALAMAN PUTIH September 6, 2011 at 8:22 am

    Selama ini kita masih mencampuradukkan antara profesi dan pekerjaan. Bahkan (maaf) PSK pun sering disebut sebagai profesi. Padahal salah satu ciri dari profesi adalah adanya pendidikan profesi yang jelas.

  6. 10 nona enno September 6, 2011 at 10:05 am

    yang penting jangan pernah menyerah dan tekun berusaha sehingga apapun yang menjadi target kita dalam hidup insyaallah bisa terealisasi, begitu juga dengan menjadi profesional.

    godaan yang paling besar adalah rasa malas.. hehe
    dan saya masih tidak bisa mengatasi itu.. gmn dgn kamu??

  7. 11 Suke Semarang September 7, 2011 at 7:18 am

    Just do the best i can do sajalah, soal istilah ngikut sajalah…

  8. 12 Aguscrott January 27, 2012 at 4:55 pm

    ‘Untuk menjadi profesional dibutuhkan 10.000 (sepuluh ribu) jam kerja’. Saya mengutipnya dari blog Pak Budi Raharjo rahard.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,986 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: