Televisi Oh Televisi

Bagian sebagian besar orang,  televisi adalah benda yang sangat menghibur. Di saat senggang, televisi memang bisa menjadi hiburan yang murah meriah. Menonton televisi tidak perlu tiket. Kita bisa menikmati acara favorit hanya dengan duduk manis di dalam rumah. Kalaupun keluar uang, paling-paling hanya untuk membayar listrik.

Saya ingat betul, dulu sewaktu SD, televisi masih menjadi barang yang lumayan langka di sekitar tempat tinggal saya. Kalau mau menonton siaran televisi favorit, biasanya saya dan teman-teman lainnya numpang nonton di rumah tetangga yang sudah punya televisi. Yang susah adalah kalau si empunya tivi ternyata lagi menonton siaran lain yang bukan favorit kami. Yah, mau nggak mau kami pun harus ngalah, berkunjung ke rumah tetangga lainnya yang televisinya sedang menganggur, hehe….🙂

Dalam jangka waktu kurang dari sepuluh tahun, televisi yang awalnya hanya dimiliki orang-orang yang kuat secara finansial, kini dimiliki hampir seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari direktur hingga penjaja siomay, dari pemimpin perusahaan multinasional hingga pekerja bangunan.

Oh iya, saya pernah menonton acara televisi yang mempertontonkan kemiskinan seseorang. Meski orang itu nggak mampu membeli susu untuk bayinya dan nggak punya uang untuk menyekolahkan anak-anaknya, tapi di rumahnya yang reyot itu terpajang dengan manis sebuah televisi yang kira-kira berukuran 21 inci.

Yah, dalam batas-batas tertentu, televisi memang merupakan hiburan yang sangat menyenangkan. Namun, kalau kita tidak berhati-hati, televisi ternyata bisa merampas waktu produktif seseorang. Kita pun menjadi malas. Waktu luang beberapa menit yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang produktif, bisa menjadi sia-sia jika hanya dimanfaatkan untuk bermalas-malasan di depan televisi.

Saya pernah baca artikel di sebuah blog (maaf, saya lupa sumbernya) yang bercerita tentang seorang bos perusahaan nasional yang sangat sibuk namun masih sempat menulis buku. Nggak cuma satu buku, tapi beberapa alias lebih dari satu. Ketika ditanya bagaimana cara mengatur waktunya hingga tetap bisa menulis buku ditengah kesibukan yang menggila, dia memberikan jawaban sederhana.

Katanya dia sangat jarang menonton televisi. Pulang kerja di malam hari, setelah bercengkerama sebentar bersama keluarga (bila anak-anaknya belum tidur), dia lebih memilih menulis selama beberapa jam sebelum tidur, daripada menggunakan waktu luang itu untuk menonton televisi. Ternyata dari satu-dua jam yang ia manfaatkan untuk menulis itu, bisa didapat tulisan hingga sepuluh halaman. Lumayan banget. Maaf sekali lagi, saya lupa nama bos besar itu, hehe….

Saya sendiri juga lumayan jarang nonton televisi. Alasannya lebih karena kurang suka dengan tayangan-tayangan yang ada sekarang. Sinetron, gosip, berita politik yang menjemukan, juga kabar-kabar buruk semacam kejahatan, kecelakaan, kekerasan, premanisme, dan lain sebagainya.

Bagaimana dengan teman-teman?

13 Responses to “Televisi Oh Televisi”


  1. 1 ismail August 18, 2011 at 2:51 pm

    Alhamdulillah saya sudah kecanduan nonton televisi lagi mas. Memang tontonannya g ada yang layak jadi tontonan. Alasan traffic mengalahkan kualitas tontonan jadi kita hanya menjadi penyokong royalti bukan yang dapat manfaat dari tayangan tsb.

  2. 2 [L]ain August 18, 2011 at 6:51 pm

    saya mah jarang banget nonton tipi. Males banya sinetronista

  3. 3 Ely Meyer August 19, 2011 at 5:29 am

    saya suka nonton TV pas acara news, dokumentasi ttg aneka macam binatang ato panorama dr berbagai negara, juga ttg adu debat terbuka …. soalnya di sini nggak ada acara sinetron sih, jadi asyik saja nonton TV nya, tapi ya nggak terus melulu di depan TV nontonnya sering pas malam hari setelahi semua pekerjaan usai

  4. 4 ~Amela~ August 19, 2011 at 6:41 am

    sekarang saya juga jaraaang banget nonton tivi, soalnya di rumah dinas belum beli tivi..
    tapi penggantinya jadi nonton film di lap top,., sama-sama ga produktif..
    tapi emang sih, kalau keasyikan di depan layar kaca itu,, bikin lupa waktu,, tiba-tiba aja waktu yang terbuang udah banyak banget

  5. 5 iam August 19, 2011 at 7:00 am

    Saya juga udah mulai jarang nonton TV. Apalagi setelah pasang internet dirumah. Wah yauda, seharian ngenet mulu. TV dianggurin :p

  6. 6 Gusti 'ajo' Ramli August 19, 2011 at 12:29 pm

    saya juga jarang nonton televisi apalagi ada sinetron, paling nonton tv kalo ada berita dan film bagus…

  7. 7 @zizydmk August 19, 2011 at 12:44 pm

    Wah. Pencerahan sekali nih.
    Saya tuh kalau pulang kantor pasti ketagihan ingin nonton CSI di AXN, itu sebabnya waktu memang jadi tidak produktif.
    Memang harus ada kemauan dari kita sendiri untuk berubah ya.🙂

  8. 8 Asop August 20, 2011 at 4:54 am

    Sekarang tipi malah membosankan, ya.😐

  9. 9 samimawon September 4, 2011 at 7:54 pm

    saya kalo pulang kampung aja nonton tv mah

  10. 10 Lg Optimus Reviews September 4, 2011 at 7:56 pm

    saya jarang nonton tv nih gan,


  1. 1 Pulang Lebih Awal Selama Bulan Ramadhan « Ditter's Blog Trackback on August 20, 2011 at 11:45 am
  2. 2 Radio « Ditter's Blog Trackback on October 25, 2011 at 3:32 pm
  3. 3 Serba Sebelas « Ditter's Blog Trackback on November 25, 2011 at 9:06 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: