Menikmati Ramadhan Bersama Keluarga

Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk menikmati bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia.

Nggak terasa, sudah hampir setahun ini saya indekos di sebuah pondokan di dekat tempat kerja. Umumnya, alasan orang-orang yang memilih indekos adalah karena rumah mereka jauh dari sekolah, kampus, atau tempat kerja. Tapi, alasan saya untuk indekos nggak sepenuhnya demikian.

Sebenarnya sih jarak dari rumah saya ke tempat kerja nggak jauh-jauh banget, perjalanan sekitar setengah jam naik sepeda motor. Tapi setelah mempertimbangkan beberapa hal, saya memutuskan untuk indekos aja, pulang ke rumah seminggu sekali. Yah, hitung-hitung hidup mandiri lah, hehe….🙂

Nah, saya mulai indekos tepat setelah lebaran tahun lalu. Jadi, baru pertama kali ini saya merasakan bulan Ramadhan dengan status sebagai “anak kos”. Beberapa minggu lalu saya sempat bingung, ketika Ramadhan tiba, saya akan tetap pulang ke kos atau pulang ke rumah aja setiap hari selepas kerja.

Kalau pulang ke pondokan, berarti saya harus sahur dan buka puasa sendirian. Tapi kalau pulang ke rumah, berarti kamar pondokan saya akan kosong selama kurang lebih sebulan.

Setelah memikirkan beberapa lama, saya memutuskan untuk pulang ke rumah aja (selama Ramadhan). Pertimbangannya, rasanya sayang aja melewatkan sahur dan buka puasa bersama keluarga. Padahal, sesungguhnya menikmati bulan Ramadhan bersama keluarga itu adalah sebuah nikmat tersendiri. Sebagian besar sahabat saya yang menyandang status sebagai anak rantau sangat mengakui hal ini.

Alhasil, sejak awal puasa yang lalu, saya sudah nggak tinggal di pondokan lagi. Meski demikian, kamar pondokan itu masih jadi hak saya karena sewanya belum habis. Lagipula, setiap pagi saya selalu menyempatkan diri mampir ke pondokan. Jadi, pas berangkat dari rumah di pagi hari, saya nggak langsung ke tempat kerja, tapi mampir dulu ke pondokan. Kenapa demikian?

Nah, kebetulan rumah saya itu terletak di pedesaan, masih termasuk wilayah lereng gunung (Merapi). Beberapa hari ini suhu di sekitar rumah saya dingin banget. Air di kamar mandi sedingin es, bikin kulit sakit. Nah, daripada mandi pagi-pagi di rumah yang airnya dinginnya nggak ketulungan itu, mendingan mandi di pondokan aja.

Air di pondokan lebih hangat. Entah kenapa. Mungkin karena letaknya berada di kota. Tahu sendiri kan suhu di kota lebih panas/hangat dibanding di desa, terutama di malam hari, hehe….🙂

Setelah Ramadhan berakhir, saya akan tinggal di pondokan lagi. Dan pulang ke rumah paling tidak seminggu sekali🙂

4 Responses to “Menikmati Ramadhan Bersama Keluarga”


  1. 1 isnuansaa August 7, 2011 at 10:42 pm

    Ini lereng Gunung Merapi mana sih? Kalo Yogya, masak iya airnya sedingin itu? Eh, nggak tau juga ding, sok tahu saya…

  2. 2 Asop August 8, 2011 at 5:17 am

    Iya ya, alhamdulillah saya pun masih bisa merasakan bulan ramadhan tahun ini..🙂

    Hiiiii sedingin apa ya, di rumah Mas Ditter? Saya penasaran…:mrgreen:

    • 3 ditter August 13, 2011 at 10:15 pm

      @Mbak Isnuansaa: Masuk daerah Jogja, mbak. Beneran, airnya dingin banget. Kapan-kapan mampir ke sini deh, hehe….

      @Asop: DIngin banget, Sop! Ayuk sini kalo mau ngerasain😀


  1. 1 Psikologi Balas Dendam | Catatan gado-gado Trackback on June 29, 2014 at 6:47 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: