Saya Memutuskan Untuk Meniru Para Perokok

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah postingan di salah satu blog, membicarakan tentang rokok. Si penulis menggambarkan betapa kejamnya rokok. Benda itu ibarat penjahat yang jauh lebih kejam daripada penjahat manapun. Tidak cukup hanya dengan memeras uang si korban (baca: pengisap rokok), sang rokok tanpa ampun juga membantai si korban dengan penyakit. Yang lebih parah, penyakit itu tidak hanya diterima oleh si pengisap, tetapi juga oleh orang-orang di sekitarnya yang mau nggak mau harus menghirup asap rokok yang mengebul sembarangan ke mana-mana.

Bisnis rokok mungkin sangat menguntungkan, bisa memperluas lapangan pekerjaan, dan katakanlah menjadi sumber pemasukan negara yang bisa diandalkan. Meski demikian, kabarnya biaya kesehatan yang harus dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi penyakit yang ditimbulkan oleh rokok jauh melebihi pendapatan negara yang bersumber dari (cukai) rokok itu.

Kemarin saya bertanya kepada salah seorang kawan yang merupakan seorang perokok, ada berapa batang rokok yang ia habiskan setiap hari. Dia bilang nggak pasti, kalau dirata-rata mungkin lima batang. Menurutnya, jumlah segitu termasuk kecil, karena ada banyak orang yang bisa menghabiskan satu bungkus rokok dalam sehari.

Saya membayangkan, seorang perokok yang bisa berhenti merokok pasti bisa melakukan penghematan yang luar biasa. Bila satu hari dia harus mengeluarkan uang katakanlah 5 ribu rupiah untuk membeli rokok, maka dengan berhenti merokok, ia bisa menabung sebanyak 150 ribu rupiah sebulan. Dalam setahun akan terkumpul uang sebanyak 1,8 juta. Lumayan, lho🙂

Itu baru sebatas pengandaian 5 ribu rupiah sehari. Faktanya, ada banyak orang yang menghabiskan uang lebih dari jumlah itu untuk memenuhi kebutuhannya akan rokok.

Merokok atau tidak merokok adalah pilihan hidup masing-masing orang. Saya sendiri memilih untuk tidak merokok. Tapi, saya berniat untuk mengandaikan diri sebagai seorang “perokok”. Ups, maksudnya gini, dengan berpikir seperti itu, saya akan mengalokasikan sebagian pendapatan saya tiap bulan untuk “membeli rokok”, sebab rokok saya anggap sebagai sebuah kebutuhan sehari-hari. Tapi, itu cuma pura-pura. Uangnya tentu saja tidak saya gunakan untuk membeli rokok (karena saya bukan perokok), tetapi untuk ditabung, dimasukin ke bank. Jadi, ini hanya sekadar permainan saya aja untuk memaksa diri sendiri agar mau menabung, karena selama ini saya itu sulit banget menyisihkan uang untuk ditabung, hehe….

Bila kebanyakan teman-teman saya bisa menyisihkan uang (untuk membeli rokok), maka saya pun harus bisa demikian, seberat apa pun itu. Ups, tapi bukan untuk membeli rokok, lho😀

8 Responses to “Saya Memutuskan Untuk Meniru Para Perokok”


  1. 1 Asop July 28, 2011 at 9:00 am

    Setuju!😆
    Heran deh, rokok satu kotak itu bisa sampe 10rb lho…. kok yo gak eman sih rek…😦

  2. 2 niQue July 28, 2011 at 10:42 am

    sy ada curhat ttg ini, boleh dong di-sharing di sini
    ttg seseorang yg dari keluarga golong TIDAK MAMPU, bisakuliah juga disokong kakak2nya. awalnya dia tidak perokok, dan entah badai apa yg membuatnya jadi perokok sekarang. dan ketika ditanya kenapa dia merokok, bukankah lebih baik uang bli rokok ditabung buat bayaran kuliah? tau jawabnya? duit sendiri ini!
    gubrak! jadi dia merasa boleh tuh ngebakarin duit *yg memang dia carisendiri* tapi seenaknya juga minta kakak2nya untuk biayain kuliah dia. what the hell!
    seperti kata asop 10rb / bks x 30 hr = 3oorb / bulan x 12 bulan = 3.6jt / tahun
    eman2 toh klo dibakarin duit segitu????

    jadi buat perokok yang duitnya pas2an silahkan mikir deh tuh yaaaa

  3. 3 Gaby July 28, 2011 at 10:57 am

    Bener ya ditabung ya. Nanti aku yg nguras tabungannyam km nguras bak mandi aja. hahaha

  4. 4 isnuansa July 28, 2011 at 4:18 pm

    Konsisten. Itu sebuah kata yang sulit memang.

    Kalo mau nabung, ya memang harus konsisten, meskipun sedikit.
    Hayooo… Duitnya buat apa itu yang 5.000. Bukan buat ngrokok, tapi???

  5. 5 Sriyono Semarang August 3, 2011 at 4:18 am

    ayo nabung ditempatku, syariah, insya Allah berkah…🙂

  6. 6 .:: *Fauzan Mars* ::. August 4, 2011 at 8:15 am

    Bener..qta ATM (AMati, Tiiru dan Modifikasi) rokok tuh… dlm artian positif

    nitip ya
    http://fauzanzasqi.wordpress.com/2011/08/04/rejeki-memang-gak-pernah-bisa-ketebak/

    cekidot agan2 d sini….

    • 7 ditter August 7, 2011 at 11:55 am

      @Asop: Hehe… sebab mereka mendapatkan kenikmatan tersendiri dari rokok itu. Kenikmatan yg mungkin sulit dirasakan oleh kita yg bukan perokok🙂

      @Nique: Wah, terima kasih banyak atas ceritanya. Memang menyedihkan banget ya…. Bahkan ada bapak yg lebih memilih membeli rokok daripada membeli susu buat anaknya😦

      @Gaby: Woooohhh.. enaknyaaaa. hahaha….

      @Isnuansa: Buat apa yaaaa… hmmm… ya buat ditabung aja, hehe….

      @Sriyono: Aminnn….🙂

      @Fauzan Mars: Terima kasih banyak atas kunjungannya🙂

  7. 8 gadgetboi August 18, 2011 at 9:08 am

    saya selalu menyisihkan uang untuk beli benwit (pulsa) hehehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: