Si Bapak Buta

Pas dalam perjalanan pulang kerja kemarin, saya sempat terhenyak. Dari atas sepeda motor, saya melihat seorang bapak-bapak buta sedang berjalan, meniti trotoar dengan tongkatnya. Dia membawa banyak keset ijuk dengan satu tangan, dan sebagian ditaruh di atas kepalanya. Sepertinya dia adalah penjaja keset ijuk keliling.

Si bapak buta terlihat kumal. Kemejanya pun tampak lusuh, mungkin karena terlalu sering dipakai. Sandal jepitnya sudah butut banget, harusnya sudah masuk ke tong sampah. Langkahnya pelan, mengikuti tongkatnya yang meraba jalan. Terlihat sekali kalau dia tidak hapal jalan itu. Ya, saya sering lewat jalan tersebut, tapi selama ini belum pernah melihat bapak itu.

Dari manakah asalnya? Ke manakah tujuannya? Tidak takutkah dia berada di tempat yang asing dengan kondisi tidak bisa melihat apa-apa? Sudah berapa keset yang berhasil ia jual hari itu? Saya tidak bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut, karena saya tidak sempat menghampiri si bapak buta dan bertanya kepadanya….

Ah, betapa hebat dan beraninya si bapak buta. Dengan keterbatasan seperti itu, ia tetap berjuang mencari nafkah. Menempuh jalan asing yang mungkin belum pernah ia lalui, demi menjajakan keset-keset yang ia bawa. Berbaur dengan orang-orang yang berlalu lalang, akrab dengan deru kendaraan bermotor di jalan-jalan.

Si bapak buta tidak mengemis. Juga tidak berdiam diri menikmati bantuan dari pihak-pihak tertentu. Ia lebih memilih bertahan hidup dengan caranya sendiri. Berjuang mencari uang di tengah keterbatasan. Menjual keset, kepada siapapun yang membutuhkan.

Terbayang di benak saya, betapa sulitnya menjual keset ijuk di zaman yang serba modern ini. Tidak banyak orang yang membutuhkan keset semacam itu. Kalaupun ada, biasanya mereka langsung mencari di toko swalayan terdekat yang saat ini keberadaannya semakin menjamur. Tapi, mungkin si bapak buta tidak akan terlalu peduli dengan hal itu. Saya yakin ia akan tetap berjuang menyusuri kegelapan, menjajakan keset-keset ijuk yang ia bawa.

Saya malu kepada si bapak buta. Kondisi saya secara fisik lebih baik darinya. Tapi, daya juangnya jelas jauh melebihi apa yang saya punya. Semoga saya bisa belajar dan mengambil hikmah dari perjuangan si bapak buta.

9 Responses to “Si Bapak Buta”


  1. 1 Asop March 25, 2011 at 8:40 am

    😥 😥 *nangis*

  2. 2 ais ariani March 25, 2011 at 12:42 pm

    *nangis*
    sama kek asop.
    sedih kalau ngeliat kek gitu. sama kek ngeliat si mbok2 di pasar bringharjo itu loh dit..😦😦

  3. 3 bhiberceloteh March 25, 2011 at 3:47 pm

    *berkaca2*
    hiks..😦

    aku paling ga bisa liat sosok kaya gitu, bawaannya mewek.. nonton acara “Jika Aku Menjadi” aja mewek mulu..😦

    Aku doain semoga Bapak itu banyak rejekinya, sehat terus badannya, dan yang paling penting, bahagia selalu hatinya..

    Marii, kita yang muda2.. berusaha lebih keras! semangattt!😉

  4. 4 Vicky Laurentina March 26, 2011 at 12:07 am

    Saya rasa dia bahagia dengan menjual keset ijuk.

  5. 5 3sna March 27, 2011 at 3:02 pm

    kesetnya dibeli gak mas ditter?
    saya jauh lebih respect sama yang bapak seperti ini ketimbang orang sehat bugar tapi jadi pengemis…
    tapi yah, tiap orang sudah ada porsinya sendiri2 kali ya… bukan saya yang menentukan…

  6. 6 Suke Semarang March 28, 2011 at 4:20 am

    makanya dibeli satu ato dua boleh mas….

    • 7 Ditter March 28, 2011 at 11:01 pm

      @Asop: Semangat… semangat….🙂

      @Mbak Ais: Iya, mbak…. Semoga bisa menginspirasi kita untuk lebih mensyukuri keadaan kita sekarang, ya….

      @Bhiberceloteh: Aminnnn…. Semangat jugaa!!🙂

      @Mbak Vicky: Semoga iya, Mbak…. Tapi kemungkinan besar memang begitu, krn orang yg bekerja lebih bahagia daripada orang yg menganggur. Menurutku🙂

      @3sna: Nggak saya beli, soalnya pas lagi di jalan, dan arah saya dgn bapak itu berlawanan….

      @Suke Semarang: Saya beli buat apa, Mas… Lagi nggak butuh je, hehe….

  7. 8 irfanandi March 31, 2011 at 1:19 pm

    mengharukan.. trkadang sy tak bisa mmbayangkan, bgaimana ia bs bertahan hidup..:-(

  8. 9 joanna April 13, 2011 at 2:41 am

    sedih😦 salut dengan orang2 spt bapak itu, yang dng segala keterbatasannya mau berjuang utk hidupnya…semoga bpk itu diberi rejeki berlimpah..amin..buat kita smua yg msh sehat dan bugar, mari berjuang juga utk hidup kita lbh baik lagi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: