Saya dan Kantong Plastik Kresek

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya sudah meniatkan diri untuk mengurangi “produksi” sampah plastik, khususnya tas plastik kresek. Ya, sekadar mengurangi, karena bila tidak sama sekali, untuk saat ini rasanya tidak mungkin. Nah, salah satu hal yang sering saya lakukan adalah tidak menerima plastik kresek ketika membeli sesuatu, sejauh itu masih memungkinkan.

Lebih jelasnya begini. Setiap kali belanja ke warung, pasti kita sering dikasih “bonus” tas kresek oleh si penjual, kan? Fungsinya tentu saja untuk wadah barang belanjaan. Nah, kalau misalkan barang-barang yang saya beli tidak terlalu banyak dan masih bisa dibawa dengan tangan atau dimasukkan ke dalam kantung jaket, biasanya saya bilang ke penjual supaya nggak usah pake kantong kresek.

Oh iya, terkadang saya juga membawa kantong kresek sendiri. Kalau pun terpaksanya nerima kantong kresek, biasanya saya lipat rapi dan disimpan untuk digunakan di kemudian hari.

Selama menerapkan prinsip itu, tanggapan para penjual bermacam-macam. Ada yang biasa-biasa saja, tapi ada juga yang merasa heran. Yang terakhir itu biasanya saya alami kalau pas beli sesuatu di warung yang sederhana dan tradisional, seperti yang terjadi tadi pagi (3/11).

Saat itu, saya beli sarapan di warung nasi yang sangat sederhana. Penjualnya seorang ibu yang sudah sepuh. Saya baru pertama kali itu beli di situ. Porsinya lumayan banyak, dan ternyata harganya murah banget. Nah, ketika sang penjual hendak mewadahi bungkusan nasi dengan kantong kresek, buru-buru saya bilang tidak perlu. Kebetulan saat itu saya sedang membawa tas (ransel), jadi langsung saya masukin ke dalam tas aja. Namun, ibu penjual terlihat tidak tega. Dia coba meyakinkan saya, “beneran nggak pakai kresek?” Mungkin dia khawatir bungkusan nasi di dalam tas malah terbuka, lalu isinya tumpah.

Nah, sebelumnya saya sudah menemui keheranan semacam itu beberapa kali di warung yang berbeda. Warung nasi kuning di deket kantor pernah, terus warung nasi uduk di deket kos juga pernah. Namun, biasanya sih cuma pas di awal pertemuan aja. Habis itu mereka malah hafal dengan saya, sudah nggak heran lagi. Tiap kali beli di sana, mereka langsung paham kalau nasi bungkus yang saya beli tidak perlu diwadahi kantong kresek. Yah, saya sih berharap semoga langkah sederhana itu bisa mengurangi produksi sampah plastik, walaupun mungkin sangat sedikit dan tidak terlalu berpengaruh pada kelestarian lingkungan.

Oh iya, (dulu banget) saya pernah belanja di sebuah warung kelontong. Saya sengaja membawa kantong kresek sendiri dari rumah, karena kebetulan banyak yang mau dibeli, jadi membutuhkan kantong itu untuk wadahnya. Ketika saya bilang sudah bawa kantong kresek sendiri, si penjual seperti memandang aneh. Wah, saya jadi salah tingkah. Hmm… mungkin baginya apa yang saya lakukan itu nggak wajar. Tapi itu dulu. Kalau sekarang, cukup banyak warung kelontong yang justru bertanya terlebih dahulu kepada para pembeli, apakah barang yang dibeli perlu dibungkus dengan kantong kresek atau tidak.

Bagaimana dengan teman-teman, apakah sering membawa kantong kresek sendiri ketika akan belanja di warung atau pasar?

Gambar diambil dari sini.

4 Responses to “Saya dan Kantong Plastik Kresek”


  1. 1 Lucky dc November 5, 2010 at 7:32 pm

    Wah inii dia, salah satu hal kecil yang dapat menyelamatkan dunia kita…
    Semoga kebiasaan ini dapat menyebar ke yang lainnya ya🙂


  1. 1 Membuang Sampah Pada Tempatnya itu Mudah! « Home Trackback on December 28, 2011 at 10:35 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: