Konflik RI-Malaysia

Awalnya saya menahan diri agar tidak menulis tema ini. Alasannya, karena sudah cukup banyak yang membahasnya. Media massa pun dipenuhi dengan pemberitaan ini. Tapi, saya gelisah terus, benar-benar ingin menumpahkan uneg-uneg saya. Dan akhirnya saya pun memutuskan untuk menulisnya, menulis tentang konflik RI-Malaysia.

Di facebook atau twitter, banyak sekali komentar-komentar yang minta agar pemerintah lebih tegas, yaitu nyatakan perang, ganyang Malaysia, karena harga diri kita sudah diinjak-injak!

Mungkin teman-teman pengunjung blog ini banyak yang setuju dengan pendapat itu. Kalau permintaan agar pemerintah lebih tegas, itu saya setuju. Tapi kalau saran untuk menyatakan perang dengan Malaysia, mohon maaf, saya sama sekali nggak sepakat. Saudara kita yang berada di negeri konflik saja sangat mendambakan kedamaian.

Maaf, mereka yang demonstrasi minta perang itu, mungkin belum pernah merasakan gimana nggak enaknya perang. Kalau ada wajib militer dan kemudian merasakan beratnya latihan militer, bisa jadi mereka akan mengubah pikiran. Lah, biasanya bangun siang, makan enak, ngerokok dengan bebas, ngenet dengan nyaman, nongkrong-nongkrong, lalu disuruh ikut pendidikan militer, apa tahan?

Di televisi, banyak tokoh penting yang terkesan menghendaki perang. Alasannya, kita ini bangsa besar, jangan mau “kalah” dari Malaysia. Lebih baik perang saja! Aduh, sekali lagi maaf, saya nggak sepakat dengan para tokoh itu. Kebesaran dan kekuatan bangsa kita nggak bisa dibuktikan dengan perang dan penyerangan. Di zaman global ini, pasti akan ada pasukan kedamaian dunia yang ikut campur. Kita nggak bisa perang satu lawan satu secara terbuka untuk membuktikan kekuatan dan kebesaran.

Saya lebih senang kalau militer kita dimaksimalkan untuk mengamankan wilayah perbatasan, jangan buat perang dulu. Kalau pengamanan sudah maksimal, terus ada yang berani main-main, baru tuh langsung serang objek yang melanggar. Langsung tindak tegas!

Tadi malam presiden habis menyampaikan pidato tentang masalah itu. Ada banyak yang menanggapi bahwa pidato tersebut terlalu “lembek”, dan cuma akan bikin Malaysia tinggi hati, mengira bahwa kita takut. Katanya itu bahaya. Aduh, kok kayak anak SD aja, sih. Bagi saya, biarin aja lah Malaysia ngerasa jumawa. Biarin lah mereka mengira kita takut dengan mereka. Yang penting kita fokus ke diri sendiri.

Maksudnya, fokus tingkatkan stabilitas nasional. Tahan diri agar jangan ribut sendiri, tawuran, bentrok antarwarga, bentrok dengan aparat, antar-anggota dewan, dan lain sebagainya. Tingkatkan prestasi olahraga, mulai dari bulutangkis sampai sepakbola, minimal menjadi juara ASEAN. Tingkatkan prestasi akademik di tingkat internasional. Pelan-pelan tarik TKI yang ada di sana untuk bekerja di dalam negeri aja. Pelan-pelan usir investor Malaysia dari negara kita, kita kelola sendiri kelapa sawit yang selama ini menjadi andalan mereka. Kalau itu semua sudah beres, saya yakin Malaysia cuma akan cengar-cengir kuda dan cengangas-cengenges aja ngadepin kita, nggak akan berani merendahkan lagi. Tentu ini lebih menyenangkan daripada perang sekarang. Lebih baik kita membuktikan kebesaran dengan cara itu.

Sebenarnya kita ini diremehkan karena terlalu sering ribut sendiri, kok. Karena stabilitas nasional kita kacau. Liat aja berapa banyak berita di koran tentang kasus tawuran atau bentrok antarwarga. Pejabat-pejabat kita juga nggak maksimal membela kepentingan negara, lebih senang membela kepentingan sendiri. Wajarlah kalau kita dipandang sebelah mata. Menurut saya, semua masalah itu lebih penting untuk diselesaikan daripada menyatakan perang dengan Malaysia. Pertanyaannya, sanggupkan kita menyelesaikan masalah tersebut? Sanggupkah kita mengendalikan diri untuk tidak ribut sendiri?

Ini menurut saya, lho. Kalau ada teman-teman yang nggak sepakat, nggak apa-apa. Beda pendapat adalah hal yang wajar🙂

5 Responses to “Konflik RI-Malaysia”


  1. 1 joanna September 2, 2010 at 2:50 pm

    yup..memang sebenarnya perang itu belum perlu..saya juga ga sependapat dengan perang..tapi tentang pemerintah yang lembek..saya rasa, pemerintah memang kurang tegas, bukan cuma masalah dng malaysia..masalah apapun saya pikir keputusan selalu kurang tegas..seharusnya bukan keputusan untuk perang memang..tetapi hrs ada tindakan tegas agar dihentikan segala macam tindakan anarkhi itu.

  2. 2 Hairullah September 5, 2010 at 8:41 pm

    Saya sependapat dengan anda tetapi saya hanya ingin agar bangsa Indonesia jangan takut dengan malaysia (Dalam hal menunjukan kemampuan bangsa)…. Jujur rasanya bangsa kita adalah bangsa yang tinggi hati…
    Saya juga ngebahasnya di
    ulah55.wordpress.com/2010/09/04/malaysia-dan-indonesia.html

  3. 3 Hairullah September 5, 2010 at 8:50 pm

    @joana: saya juga sependapat.. Tetapi dalam pidato pak sby mengatakan bahwa pemerintah sedang mengatasi semua masalah dengan cepat dan tepat, jadi pemerintahan kita sedang berpikir untuk langkah2 kedepan.. Kalau hanya cepat menyelesaikan konflik ini tetapi tidak tepat sama saja dengan bohong

    • 4 ditter September 6, 2010 at 4:39 pm

      @Joanna: Betul Jo, saya sepakat.. Pemerintah memang kurang tegas…. Tapi sekali lagi, tegas bukan berarti menyatakan perang🙂

      @Hairullah: Ya, kita memang tidak boleh takut dgn Malaysia… Tapi mrk bukanlah musuh kita sebenarnya, melainkan diri kita sendiri….

  4. 5 nandini September 13, 2010 at 2:25 pm

    sedikit banyak sepikiran dengan saya yah Ditt..🙂
    bagus banget tulisanmu.. udah kaya jurnalis,.. hehe..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: