Semangat Kerja Tukang Sampah

Setiap pagi, kantor saya dan rumah-rumah sekitarnya selalu didatangi oleh tukang sampah beserta gerobaknya. Pas sampai di kantor, saya sering papasan atau ngeliat mereka. Biasanya sih jam setengah 8 pagi, dan saat itu gerobak mereka sudah penuh dengan sampah. Saya yakin, mereka sudah mulai bekerja dari pagi-pagi sekali. Keliling kompleks untuk mengambil sampah di depan rumah-rumah.

Di dekat rumah saya ada pasar tradisional. Di deket situ ada kotak sampah yang besar sekali, tempat pembuangan sampah-sampah pasar. Masyarakat di desa saya juga banyak yang membuang sampah di situ, termasuk keluarga saya. Area tempat sampah itu bau sekali. Semua jenis sampah tercampur menjadi satu. Di malam hari, biasanya kotak itu sudah penuh. Mungkin jumlahnya mencapai ratusan kilogram. Tapi, kalau siang sudah kosong kembali. Tentu ada yang mengosongkan dan membersihkannya. Siapa lagi kalau bukan tukang sampah. Dan tiap saya berangkat kerja melewati pasar itu, sudah ada beberapa tukang sampah yang sedang bekerja. Tampaknya pekerjaan mereka sudah selesai setengahnya. Pasti mereka sudah memulainya pagi-pagi sekali.

Sepuluh tahun yang lalu, pas tinggal di Bekasi dulu, ada seorang tukang sampah yang selalu mengambil sampah di kompleks tempat tinggal saya. Kami yang tinggal di kompleks itu biasa memanggilnya ‘Engkong’ (bahasa betawi: kakek), karena dia memang orang betawi dan sudah renta. Saat saya bangun jam setengah 6 pagi, dia sudah tiba di depan rumah kami dan mengambil sampah. Tampaknya dia mulai bekerja selepas shubuh.

Saya yakin, teman-teman pasti juga menilai kalau pekerjaan sebagai tukang sampah itu sungguh tidak enak. Bau sampah dari berbagai jenis itu sangat mengerikan. Yang nggak kuat mungkin bisa muntah. Makanan sisa, plastik basah, kertas, dan bahkan popok bayi yang ada kotorannya, tercampur menjadi satu. Setiap hari mereka harus bergelut dengan itu. Belum lagi kalau ada benda-benda berbahaya semacam beling atau kawat yang dibuang begitu saja oleh pemiliknya. Selain itu, sudah pasti bayaran mereka sangat sedikit. Wah, itu semua benar-benar buruk.

Di tengah kondisi kerja yang memprihatinkan itu, ternyata mereka (harus) rajin. Entah kenapa mereka selalu mulai bekerja pagi-pagi sekali. Saya jarang menemukan tukang sampah yang berkeliling mengambil sampah di siang hari. Kalopun ada, biasanya gerobaknya sudah penuh. Mungkin itu sudah tuntutan kerja. Tanpa semangat yang tinggi, mana bisa mereka seperti itu. Bangun pagi-pagi untuk mengerjakan sesuatu yang sungguh tidak enak. Berbeda sekali dengan saya yang dulu sering telat kuliah. Begitu juga dengan teman-teman mahasiswa yang lain. Sebenarnya, bisa dibilang kami itu begitu memalukan. Di tengah kondisi yang nyaman dan penuh fasilitas, bangun pagi untuk kuliah saja susahnya setengah mati. Padahal itu buat kebaikan kami.

Walopun terkesan sepele, ternyata peran tukang sampah itu cukup vital juga. Tanpa mereka, lingkungan sekitar rumah-rumah penduduk akan kotor karena banyak sampah yang tidak terangkut. Bagi mereka yang merasa sudah membayar, pasti akan mencak-mencak. Padahal salah sendiri, bikin sampah kok banyak-banyak. Ga mau ngurangi produksi sampah sih….

Apakah di kompleks rumah teman-teman juga ada tukang sampahnya?

Gambar diambil dari sini.

2 Responses to “Semangat Kerja Tukang Sampah”


  1. 1 nahdhi June 21, 2010 at 4:46 pm

    Hehehe… jam setengah8 saya biasanya malah belum bangun, terlebih kalau pas hari libur. tapi kemaren ke Kumamoto pagi-pagi jam 5 sudah ramai dengan aktifitas, jadi ketularan bangun pagi-pagi.

  2. 2 PeGe March 6, 2011 at 3:49 pm

    Yap, yang punya andil tinggi kyak begini justru emang kadang ngga terlalu dipandang sama kita, malah justru kita yang secara ga sadar memberatkan kerjaan mereka..
    Salam kenal😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: