Nenek Saya dan Putranya….

“Ealaah… anakku siji iki urung tak openi….,” kata nenekku, dengan nada yang amat sabar.

Dia seolah berbicara sendiri, teringat bahwa (salah satu) putranya belum disuapi makan. Ya, putranya itu memang tidak bisa makan sendiri. Ia berada dalam kondisi yang sangat menyedihkan, sehingga untuk makan pun harus disuapi. Dialah Pakde saya. Namanya Pakde H.

Saat itu jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi, jadi sudah lewat jadwal makan pagi Pakde H. Sepertinya nenek lupa menyuapi Pakde. Ya, saat itu nenek memang terlihat sibuk menyiapkan segala sesuatunya untuk saya dan orangtua saya, yang mendadak datang berkunjung ke rumahnya untuk memberikan surprise. Dia tampak sangat senang atas kedatangan kami. Tidak heran, sebab setelah bertahun-tahun tidak bertemu, tentu dia sangat bahagia bisa bersua dan melepas rindu dengan kami. Begitu juga sebaliknya.

Aah…. Nenek semakin tua saja. Tubuhnya semakin kurus kering. Kulitnya keriput seiring usianya yang renta. Jalannya sudah bungkuk. Tangannya gemetar, seolah tiada daya. Langkahnya gontai dan berat. Di tengah kondisi seperti itu, dia masih harus mengurus Pakde H sendirian. Ya, sendirian, karena anak-anaknya yang lain berada di kota yang berbeda bersama keluarga mereka masing-masing.

Dari cerita ayah saya, dulu Pakde H adalah orang yang hebat dan bahagia. Dia jagoan musik. Tergabung dalam grup band dan lihai memainkan gitar bass. Lagu-lagu The Beatles dan Koes Plus sudah biasa ia mainkan. Tapi, nasib mengubah semuanya. Kini kondisi Pakde H amat menyedihkan. Tubuhnya cacat. Ia telah mengalami kecelakaan yang harus merenggut sebelah kakinya. Istrinya sudah meninggal. Tidak hanya itu, berkali-kali ia mendapatkan musibah yang sangat berat. Berbagai kecelakaan yang mengerikan bertubi-tubi menimpanya. Saya tidak tahu kenapa Pakde H bisa mengalami nasib yang amat buruk seperti itu. Semua itu kemudian menimbulkan tekanan batin yang sangat hebat, hingga akhirnya ia harus kehilangan kewarasannya.

Tidak, dia tidak gila. Hanya saja sudah tidak sadar sepenuhnya tentang dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Mungkin semua itu memang sudah nasib yang tidak bisa dihindarkan…. Ya, tidak bisa dihindarkan. Siapa sih yang mau mendapat musibah bertubi-tubi? Tentu saya, Anda, dan kita semua tidaklah mau….

Dari kondisi terakhir yang saya lihat, Pakde H kini sudah tidak bisa apa-apa. Kalau dikunjungi, dia hanya menyeringai sambil menutup mukanya dengan tangan, seolah malu. Dia hanya bisa berbaring di atas kasur di kamarnya yang amat sederhana. Dia tidak bisa ke mana-mana. Untuk sekadar duduk di atas kasur pun tidak bisa. Alhasil, setiap kali makan dan minum, dia harus disuapi, sambil berbaring di kamar itu juga. Jangan tanya bagaimana cara dia buang air besar dan kecil. Saat menengoknya, saya hampir muntah mencium bau kamarnya yang sangat pesing. Neneklah yang biasanya membersihkannya, walaupun kadang ia sering dibentak dan didorong oleh Pakde H.

“Yo ngono kae lah si H…. Jane aku wis arep putus asa…. Aku wis tuwo…. Tapi nek dudu aku sing ngurus, yo sopo meneh…,” ujar nenek, sayu, lebih tampak seperti berbicara kepada dirinya sendiri.

Aah…. Nenek sudah sangat tua. Tapi dia memiliki beban seberat itu. Entah kenapa anak-anaknya yang lain tidak berbuat sesuatu untuk Pakde H. Dugaan saya, mungkin karena mereka sudah repot mengurus keluarga masing-masing. Toh kondisi finansial mereka juga tidak tinggi, sehingga sibuk untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka sendiri. Istilah kasarnya melarat. Ayah saya sendiri sepertinya tidak mampu menampung atau mengurus Pakde H. Rumah keluarga kami aja masih begitu. Saya aja sampe sekarang masih belum punya kamar pribadi.

Lagipula kalau di pikir-pikir, keluarga mana sih yang mau dibebani orang yang sakit dan tidak bisa apa-apa? Ada juga nanti malah bersikap kasar dan orang yang harus diurus malah telantar dan teraniaya. Mungkin nenek paham dengan pola pikir semacam itu, hingga akhinya beliau tetap setia dan sabar mengurus Pakde H. Saya sendiri masih belum bertanya lebih lanjut kenapa Pakde H tidak dicarikan perawat aja.

Aah…. Nenek begitu tabah…. Di tengah kondisinya yang rapuh dan renta, dia tetap setia berjuang mengurus anaknya tercinta. Kisah seorang Ibu yang sangat menyayangi anaknya…. Tuhan, berikanlah dirinya kemudahan….

Sayup-sayup terdengar lagunya Iwan Fals, Ibu.

Ribuan kilo

Jalan yang kau tempuh

Lewati rintangan, untuk aku anakmu

Ibuku sayang

Masih terus berjalan

Walau telapak kaki

Penuh luka, penuh nanah….

4 Responses to “Nenek Saya dan Putranya….”


  1. 1 alice in wonderland June 4, 2010 at 10:05 am

    mungkin sebaiknya dicarikan perwat aja ya kasihan nenekmu sudah usila dan nantinya butuh bantuan orang lain juga…

  2. 2 Vicky Laurentina June 5, 2010 at 9:59 pm

    Aku ketemu nenekmu dan Om H waktu pulang ke rumah kita tiga bulan lalu.

    Menurut ayahku yang dulu memang nge-band bareng Om H, Om H dulu pinter main gitarnya. Sampek kemudian truk menabrak kepalanya. Hampir meninggal waktu itu, tapi akhirnya Om H selamat, meskipun kemudian mengalami penurunan IQ yang luar biasa.

    Om H sempat ikut ayahku ke Cali, sebelum ayahku dulu menikah. Rupanya ada kecelakaan waktu naik perahu motor, akibatnya Om H dapet cacat yang lebih hebat lagi. Karena itu ujung-ujungnya Om H jadi kayak gini.

    Susah nyariin perawat yang bisa merawat Om H, tahu sendiri kan kondisi kota kita di sana kayak apa?

    Tapi satu hal yang mesti aku tandain, Adit: Nenekmu dan Om H masih terhitung sehat waktu aku ketemu mereka tiga bulan lalu itu, untuk ukuran seusia mereka. Adit mestinya seneng coz nenekmu belum pikun. Sedangkan nenekku, sudah cukup pikun sampek sulit diajak negosiasi tentang cara ngurus rumah.. Padahal dua nenek itu kan bersodara dan beda umur mereka nggak jauh-jauh amat..😦

  3. 3 Sriyono Asli Semarang June 7, 2010 at 11:14 pm

    Oh masih ada toh, orang sebaik nenek, susah sekali di Semarang nyari yang seperti itu😦


  1. 1 Ayah & Anak yang Hendak Menjual Keledai | Catatan gado-gado Trackback on January 24, 2014 at 5:02 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: