Outliers

Beberapa hari yang lalu saya habis menyelesaikan (membaca) buku Outliers karangan Malcolm Gladwell, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Lumayan tebel, ada sekitar 340 halaman. Buku itu dikasih sama sepupu sekaligus sahabat saya, Arlie.

Buku itu layaknya tesis dalam dunia akademis, sebab memang penulisnya memberikan pendapat berupa tesis yang kemudian didukung atau dibuktikan oleh banyak fakta yang sangat menarik. Di buku itu, sang penulis memberikan perspektif yang baru dalam memandang orang-orang sukses. Di mata saya, perspektif dan tesis itu benar-benar orisinil, menarik, mengagetkan, agak aneh, tapi logis. Namun, bisa jadi perspektif itu sama sekali bukan hal yang baru, sebab di beberapa bagian bacaan, ada yang secara implisit menunjukkan bahwa sudut pandang itu sebenarnya sudah muncul agak lama. Mungkin Gladwell meneruskannya dengan lebih banyak menghadirkan fakta-fakta dan narasi yang memikat.

Mungkin selama ini kita menganggap bahwa orang-orang yang super sukses (disebut dengan para Outliers) bisa mencapai kesuksesan karena kecerdasan dan ambisi yang mereka miliki. Tapi, Gladwell melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, kesuksesan yang berhasil diraih oleh para Outliers (misalnya, Bill Gates, The Beatles, dan lain sebagainya) sangat dipengaruhi -kalau tidak boleh bilang ditentukan- oleh KESEMPATAN. Gladwell banyak memaparkan fakta-fakta unik yang mendukung tesisnya itu. Misalnya, Bill Gates bisa meraih sukses karena lahir pada tahun yang tepat, di mana ketika itu komputer masih jarang digunakan, dan dia memiliki kesempatan untuk mengakses komputer sepuas-puasnya karena bersekolah di sekolah yang sangat bagus (dan mahal). Uraiannya sangat menarik, lho. Tapi, biar lebih jelas, baca sendiri aja, ya, hehe….

Ada satu hal lagi yang sangat memancing minat saya di buku Outliers itu, yaitu tentang istilah PDI (Power Distance Index). PDI berhubungan dengan sikap seseorang dalam menghadapi hierarki atau atasan. Bila seorang pegawai takut mengungkapkan ketidaksetujuannya kepada manajer/pemimpin, berarti nilai PDI pegawai itu sangat tinggi. Sebaliknya, bila seorang pegawai menghormati atasan tapi tetap santai dan tidak takut (akrab seolah sahabat), maka angka PDI pegawai itu rendah. Biasanya orang-orang yang sukses itu PDI-nya rendah, sebab punya sifat yang tegas, dinamis, optimis, nggak minderan, santai, dan bervisi luas.

Setelah baca itu, saya seolah tersentil. Kalau dipikir-pikir, PDI saya tinggi banget, dan hal itu ternyata sangat menghambat. Saya sering kesulitan menyampaikan pendapat pribadi kepada para atasan, orang yang lebih tua, atau teman-teman yang secara status “lebih tinggi.” Saya kurang tegas dan minderan. Akhirnya apa yang saya sampaikan jadi tidak terlalu jelas. Nah, kini saya sudah tau apa yang menghambat perkembangan saya. Sekarang tinggal bagaimana saya bisa menemukan cara untuk mengatasinya….

Kemudian terlintas sesuatu dipikiran saya. Sepupu yang memberi saya buku itu adalah seorang sarjana psikologi lulusan universitas ternama. Sejak kecil, saya sering maen sama dia. Paling tidak dia tahu beberapa karakter dan sifat khas saya. Bisa jadi dia tahu kalo PDI saya tinggi. Ini poin pertama.

Poin kedua, pacar sepupu saya itu adalah orang yang sukses di bidangnya. Sepupu saya pernah cerita kalo kesuksesan sang kekasih salah satunya disebabkan karena tingkat PDI-nya rendah.

Poin ketiga, buku Outliers itu sangat tebal, dan pembahasan tentang PDI sangat sedikit, terselip begitu saja. Kalo ga tekun membacanya sampai akhir, kita akan sulit menemukan istilah itu.

Poin keempat. Karena dulu kita sering maen bareng, sepupu saya mungkin tahu kalo saya hobi membaca, lalu dia yakin kalo saya pasti akan membaca buku Outliers itu sampe selesai dan menemukan penjelasan tentang PDI.

Dalam pikiran saya, poin-poin itu kemudian saling terangkai dan menunjukkan satu hal. Mungkin sepupu saya memberikan buku itu agar saya bisa mengetahui tentang Power Distance Index, dan segera menyadari kalo PDI saya terlalu tinggi. Mungkin lewat buku itu dia ingin agar saya bisa mengetahui kelemahan saya itu. Mungkin dia berkaca lewat kesuksesan yang pelan-pelan sedang diraih oleh pacarnya, dan ingin agar saya juga seperti itu. Hmmm…. Ini sih cuma dugaan saya aja. Tapi kalau emang bener gitu, berarti baek banget tuh sepupu saya, hahahaha….

2 Responses to “Outliers”


  1. 1 alex April 9, 2010 at 12:15 pm

    Itu kelemahan kita brooo’..
    Let’s fix it!😀

  2. 2 odi April 9, 2010 at 12:57 pm

    Let’s move on to be a better person!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,986 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: