Anak Tikus

Aku lapar sekali. Sangat lapar. Aku memang belum makan semenjak empat hari yang lalu. Aku terlalu takut untuk keluar dari lubang ini. Ayah Ibuku selalu bilang bahwa di luar sana sangat berbahaya. Banyak berkeliaran manusia yang sangat membenci kita. Mereka punya peralatan canggih yang kata temanku bisa mencelakakan kami.

Sebenarnya aku baru sekali saja melihat manusia. Itu pun hanya mengintip. Aku terlalu takut untuk keluar dari lubang gelap ini. Lagipula, di sini sangat nyaman. Bau tanah lembab yang menyengat sangat memanjakan hidungku. Terkadang Ayah Ibu juga mengajakku menelusuri lubang lain menuju kolam. Aku sangat suka kolam itu. Airnya hitam pekat. Bau airnya juga sangat menyegarkan. Sebenarnya itu bukan kolam, karena airnya agak mengalir. Terkadang ada banyak makanan lezat yang terbawa oleh aliran itu. Ah, aku ingin ke sana… Tapi aku tidak berani ke sana sendiri. Aku tidak tahu arahnya. Belokannya sangat berliku.

Aku tak tahu kenapa Ayah dan Ibu masih belum pulang juga. Padahal sudah lewat tiga hari. Sebelumnya mereka tidak pernah pergi selama ini. Paling hanya beberapa jam, setelah itu pulang dengan membawa banyak makanan lezat. Entah dari mana mereka mendapatkannya. Ibuku pernah bercerita bahwa makanan lezat itu sangat sulit untuk didapatkan. Bahkan taruhannya nyawa. Begitulah. Kata Ibu, memang sudah kodrat kita untuk selalu berjuang. Tanpa kerja keras, kita tidak akan bisa makan. Entahlah, aku tidak bergitu ngerti. Yang aku tahu hanyalah makan. Aku tinggal menikmati saja hidangan spesial yang selalu dibawakan Ayah dan Ibu.

Aahh… Perut ini terus melilit. Aku lapar sekali… Rasanya sangat menyiksa. Keempat kaki ini seolah memintaku keluar dari lubang, menghampiri bau makanan yang sedari tadi menggoda hidungku. Amboi… harum sekali…

Sudah! Aku sudah tidak tahan dengan rasa lapar ini! Aku akan keluar, mencari makan!!

****

Wah, sudah hampir di mulut lubang. Ada secercah sinar di sana. Aku harus menuju ke cahaya itu.

Aahh, akhirnya sampai juga… Syukurlah, tidak ada manusia di sini. Sepi saja tempat asing ini. Aneh. Tempat yang begini besar, tapi tidak ada seekor tikus pun. Padahal tampaknya banyak makanan. Aku tahu dari penciumanku yang tajam ini. Hmmm… Air liurku pun deras mengalir.

Kutelusuri jalan yang lapang ini. Aku tidak merasa nyaman. Tempat ini asing sekali. Tidak ada tanah hitam lembab yang biasanya menghangatkanku. Adanya hanya area lapang berwarna putih mengkilat. Wah, kalo tidak hati-hati, aku bisa terpeleset. Licin sekali, sih!

Wah… Harus jalan kemana, ya… Aku bingung… Tempat ini terlalu besar dan lapang… Eits, tunggu… UPss.. Apa itu?!! Olalala… Tepat di sebelah tiang besar itu ada makanan!! Wah… tampaknya enak. Tapi makanan itu berada di dalam kotak besi. Ah… tidak masalah bagiku. Karena manusia bodoh itu ternyata lupa menutup pintu kotaknya! Huahahahaha… Bodoh sekali mereka!! Dasar para manusia tolol! Oke, deh. Tunggu apa lagi?! Langsung serbuuuuuuuuu…!!!

Oooh… makanan ini harum sekali. Tergantung di atas kepalaku. Aku pegang perlahan untuk mengambilnya.

JPLAAKKKK!!!!

Upsss, apa itu????? Waduh, ternyata pintu kotaknya tertutup!! Wah, sial… Tapi biarinlah. Itu urusan belakangan. Yang penting sekarang kunikmati dulu sebongkah makanan yang tampak lezat ini.

Aaah…. ENAKK!!! Hiks… Tidak pernah aku merasakan makanan selezat ini. Wah, hari ini benar-benar hari keberuntunganku!!

****

Heghh… Kenyanggg… Sip lah… Hmmm… Kalau kenyang gini, paling asyik kalo langsung tidur!! Wuaah… Muantep lah pokoknya. Tapi, gimana caranya keluar dari kotak besi sini, ya???Waduh.. waduh… suara apa itu?? Sepertinya ada raksasa yang akan mendekat. Deg… Deg… HUWAAAAA… Ada manusia yang mendekatiku!! Gawat… Aku tidak tahu cara membuka pintu kotak ini!! Hiiii…

Manusia itu semakin mendekat. Aku bisa melihat wajahnya dengan jelas… Dia lelaki dewasa. Kumisnya lebat. Tubuhnya besar, tersenyum menyeringai. Aku takut… Lelaki itu mengerikan sekali… Hiks… Ayah… Ibu…

Lelaki itu mengangkat kotak tempatku berada. Dia memegang kantong hitam mengkilat. Dia buka pintu kotak besi, dimiringkan, dan aku terhempas ke dalam kantong hitam itu. Aku memberontak, bergerak ke segala arah. “Kresek… Kresek…” Kantong itu mengeluarkan bunyi yang aneh.

Suasana sekelilingku gelap. Sangat gelap. Aku tidak bisa melihat dan membaui apa-apa. Indraku seakan lumpuh. Aku tidak tahu sedang berada di mana. Berada di kantong hitam ini benar-benar membuatku tersiksa. Pengap sekali…

Kudengar suara sepeda motor distarter. Tampaknya lelaki itu membawaku dengan motornya. Tapi, hendak kemana kira-kira?

Lama aku menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku sangat takut. Putus asa… Aku tidak bisa berbuat apa-apa… Kalau sudah begini aku jadi sangat rindu dengan Ayah Ibuku… Hikks… Ayah… Ibu… Kemana kalian… Mati-matian aku menahan air mata ini. Tapi akhirnya mengalir juga…

BRUKKKKK!!!

AAaawww!! Sakit sekali!! Ugghh… Tampaknya lelaki itu membuang bungkusan tempat aku berada. Tubuhku yang terkurung kantong hitam langsung terhempas ke tanah. Dasar manusia sialan! Bukannya kantongnya dibuka dulu! Kalau kayak gini bisa-bisa aku kehabisan nafas di dalam kantong!! Siaaal… gelap sekali.. aku tidak bisa melihat apa-apa… Aku tidak tahu sedang berada di mana… Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana…

NGuueeengggg….

Tunggu… Suara apa itu, ya?? Kok bising sekali… Seperti suara motor milik lelaki tadi. Tapi, yang ini terdengar sangat berisik. Sepertinya tidak Cuma satu motor. Ada dua mungkin… Eh, tidak, sepertinya lima… Aah, bukaan… ini pasti lebih dari sepuluh!! Uuuh… Sebenarnya ada apa sih di luar sana??

WUUUSSSHHHH…

Lho???? Apa itu tadi???? Di sebelah kananku seperti ada sesuatu yang melesat. Tapi aku tidak tahu wujudnya… Yang pasti sangat cepat… Tiba-tiba sekujur tubuhku merinding… Keempat kakiku gemetar hebat… Gelap sekali… Aku tidak bisa melihat apa-apa… Aku terus meronta… Tapi aku tetap tidak bisa keluar dari kantong hitam ini… Huhu… Aku sangat takut…

CCRRRRAAAAAAAAATTTTTTTT…!!!!

……………………………

……………………………

……………………………

Tubuhku terasa enteng. Wah… Aku bisa terbang!! Hahaha… Asyikkk… Di ujung sana ada cahaya… Aku mo pergi ke sana, ah… Mungkin bisa bertemu dengan Ayah dan Ibuku… Wah, di bawah situ ternyata banyak kendaraan. Sepertinya jalan raya… Lho, apa itu? Kalau diperhatikan, di tengah jalan situ ada sebuah kantong hitam. Ada darah segar yang keluar dari kantong. Bentuknya gepeng. Sepertinya habis terlindas…

4 Responses to “Anak Tikus”


  1. 1 Vicky Laurentina February 25, 2010 at 3:11 pm

    Udah tikusnya bisa ngeblog, bisa jadi hantu pula.. Ck ck ck..

  2. 3 alex March 1, 2010 at 1:21 pm

    Terlalu sadis caramu,,😛
    Bakal lebih “ketikusan” andai dia gak sadar apa itu motor.. Dia dak tau apa itu keramik, should he know what motorcycle is?
    Anyway, it’s a great story, keep up the good works..

    • 4 ditter March 3, 2010 at 12:53 pm

      Hahahaha… iya mas… Salah satu hal jelek dari cerita ini adalah, ada bagian yang ingin menunjukkan bahwa dia benar-benar tikus yang sama sekali ga ngerti manusia, tapi di bagian lain malah tikus itu ngerti tentang motor, hehe… Tapi, terimakasih banyak atas perhatiannya, ya!!!🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: