Jurnalisme Sastrawi

Kemarin malam saya baru aja selesai membaca buku yang berjudul ‘Jurnalisme Sastrawi’. Buku itu saya beli awal februari kemaren, di pameran buku Kompas Gramedia. Saya tertarik membelinya karena penasaran dengan penggabungan antara berita (jurnalistik), dengan sastra. Ternyata hasilnya adalah sebuah berita investigasi yang disampaikan dengan cara bercerita seperti layaknya novel. Hmm… saya nggak salah beli buku itu, karena memang sangat enak dibaca.

Dari kata pengantar yang ditulis oleh Andreas Harsono -salah seorang editor buku ini selain Budi Setiyono-, saya jadi tahu kalo jurnalisme sastrawi itu adalah sebuah genre dalam jurnalisme yang awalnya berkembang di Amerika Serikat tahun 1960-an. Tapi jangan salah. Walaupun bentuk laporannya seperti novel dan terkadang cerita pendek, tapi bahan materinya adalah fakta dan bukan hasil imajinasi. Andreas Harsono sangat menekankan hal ini. Jika sebuah tulisan megandung fiksi hasil rekayasa penulis, maka tulisan itu tidak bisa disebut sebagai Jurnalisme Sastrawi.

Memang, selama ini ada yang memahami Jurnalisme Sastrawi secara terbalik, sebab meyakini bahwa imajinasi merupakan aspek yang sangat penting dalam jurnalisme sastra. Andreas Harsono sangat tidak sepakat dengan pendapat tersebut. Baginya, sama sekali tidak boleh ada khayalan atau fiksi satu titik pun pada jurnalisme sastrawi. Genre yang juga dikenal sebagai narrative reporting itu, mengharamkan imajinasi dan khayalan.

Buku ini lumayan tebel, yaitu sekitar 335 halaman. Isinya merupakan kumpulan liputan pilihan yang ditulis oleh para wartawan majalah Pantau. Tema yang diuraikan sangat menarik. Ada yang menulis tentang kekerasan di Aceh, persaingan antar media yang berbasiskan sentimen agama (perang di Ambon), hiruk pikuk larangan musik Koes bersaudara, kisah konflik internal Tempo, cerita tentang kematian pemulung yang dibakar massa, dan yang paling saya sukai, kisah tentang para tentara yang bertugas di Aceh. Yang terakhir ini benar-benar membuat saya terpikat.

Ternyata, tidak sembarangan wartawan bisa menuliskan laporan bergenre jurnalisme sastrawi. Untuk menuliskannya, dibutuhkan waktu yang panjang dan dedikasi yang total. Wawancara biasa dilakukan dengan puluhan, atau bahkan ratusan narasumber. Risetnya mendalam. Waktu bekerjanya lama, bahkan bisa berbulan-bulan. Semua itu dilakukan tentu untuk mendapatkan fakta yang benar-benar murni, bukan sekedar imajinasi semata.

Yang membuat saya kagum dari buku edisi revisi ini adalah, kesalahan ketik yang hampir tidak ada.

2 Responses to “Jurnalisme Sastrawi”


  1. 1 nahdhi February 25, 2010 at 5:32 am

    Berarti sejauh ini beberapa penyaji berita up-to-date itu malah tidak bersastra ya?😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: