Bendera Setengah Tiang untuk Alm. Gus Dur

Malam itu iseng-iseng saya nyalain TV. Belon sempet duduk, saya langsung dibuat kaget oleh berita di TV itu yang mengabarkan kalo Presiden kita yang ke-4 meninggal dunia. Gus Dur yang selama ini memang memiliki kondisi fisik yang tidak terlalu baik, sore itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Innalillahi wa Innailaihi Ro’jiun

Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Bangsa kita telah kehilangan salah satu tokoh yang luar biasa. Terus terang, saya cukup kagum dengan sosok Gus Dur ini, walaupun memang kurang mengetahui secara detail sejarah hidup dan prestasi-prestasinya. Dulu saya pernah mendengar, saat masih SD Gus Dur sudah membaca dan memahami buku Di Bawah Bendera Revolusi karya Ir. Soekarno. Selain itu, dia juga melahap habis buku Das Capital-nya Karl Marx. Padahal dua buku itu termasuk sulit untuk di pahami, bahkan oleh mahasiswa seperti saya. Luar biasa. Gus Dur benar-benar cerdas. Kecerdasannya itu sudah ditunjukkannya saat masih kecil.

Walaupun kondisi fisiknya kurang mendukung, tapi kecerdasan otaknya mampu membuat dia menempati posisi Presiden menggantikan B. J. Habibie. Ternyata kecerdasannya itu ga didapat dengan mudah. Dulu saya pernah lihat liputan di TV yang menginformasikan kalo Gus Dur sedari kecil memang banyak membaca dan belajar. Bahkan saat-saat yang seharusnya dimanfaatkan untuk istirahat, malah digunakan oleh beliau untuk membaca, berpikir, dan berefleksi. Praktis beliau tidak memiliki waktu tidur yang banyak. Nampaknya hal inilah yang membuat kecerdasan Gus Dur begitu cemerlang. Otaknya sangat terlatih.

Satu hal lagi yang membuat saya kagum adalah beliau begitu toleran terhadap perbedaan, entah itu perbedaan pendapat, agama, budaya, atau pun warna kulit. Sudah banyak kebijakan beliau semasa menjabat sebagai Presiden RI yang mencerminkan toleransi tersebut, seperti misalnya penetapan Imlek sebagai hari libur nasional.

Gus Dur adalah sosok yang unik. Saat wawancara, beliau sering melontarkan jawaban-jawaban yang nyleneh. Tapi toh semua itu tidak pernah bisa menghilangkan kesan bahwa beliau memang cerdas dan brilian.

Sebagai bentuk rasa berkabung atas kepergian Gus Dur, Pemerintah menganjurkan agar masyarakat memasang bendera setengah tiang di depan rumah. Tadi pagi orang tua saya juga sudah memasangnya. Bagaimana dengan rumah teman-teman?

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Nampaknya pepatah ini sangat cocok dikaitkan dengan kepergian Gus Dur. Walaupun beliau telah pergi, namun tentunya segala prestasi dan sumbangannya untuk negeri ini akan selalu kita ingat. Teriring doa untuk beliau, semoga segala amal kebaikan almarhum semasa hidup dapat diterima di sisi-Nya, amin…

1 Response to “Bendera Setengah Tiang untuk Alm. Gus Dur”


  1. 1 nahdhi January 3, 2010 at 12:59 pm

    PETROMAXXX lagi….🙂
    Selamat jalang Ki Lurah Semar….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,986 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: