Dua Putri Kecil…

Beberapa hari yang lalu saya pergi ke kampus, melewati perempatan selokan jalan Kaliurang. Disitu saya kena lampu merah. Nah, saat itu banyak pengemis yang menyerbu pengendara yang terjebak macet. Yang bikin sedih, para pengemis itu kebanyakan masih kecil, dan bahkan saya kira-kira ada yang masih sekitar 4-5 tahun.

Saya terus memperhatikan gadis mungil itu. Ditengah pekat asap kendaraan bermotor yang beracun itu, dia tangkas mengampiri satu persatu para pengendara sepeda motor. Dia tampak menikmati itu, karena dia melakukannya sambil bersenandung ria, seolah sedang bermain-main ditengah taman yang indah. Tubuhnya kotor berdebu. Pakaiannya juga kumal. Benar apa kata orang. Hati seorang anak kecil memang polos. Semua kegiatan dia perlakukan sebagai sebuah permainan, nyaris tak ada beban. Walaupun kondisinya susah, tapi gadis mungil itu tetap tampak berbahagia.

DIsebelah saya ada sebuah mobil yang cukup mewah, juga sedang terjebak macet. Didalamnya ada gadis kecil yang nampaknya seumuran dengan pengemis kecil yang saya ceritakan tadi. Dia tampak ceria, bercanda-canda dengan orang disebelahnya. Tampaknya dia anak seorang kaya. Kulitnya bersih, rambutnya bagus, pakaiannya juga tampak elite.

Gadis mungil pengemis menghampiri mobil itu. Dia meminta-minta kepada sopir. Kemudian seorang ibu di tempat duduk belakang memberikannya sebungkus snack. Gadis kecil pengemis tampak senang, lalu pergi. Ternyata dia menghampiri seorang ibu pengemis yg lagi duduk-duduk di pinggir jalan yg ga jauh dari situ. Kemudian bungkusan snack diberikannya pada ibu pengemis itu. Jangan-jangan dia ibu kandungnya…

Gadis kecil yang di dalam mobil berhenti bercanda dengan orang disebelahnya. Dia terus memperhatikan pengemis mungil itu. Entah kenapa saya merasa matanya mendadak sayu, tidak lagi ceria seperti saat bercanda tadi. Apakah dia sedang merasakan apa yg biasa disebut dengan empati?

Mungkin dia miris melihat kawan seumurannya harus hidup di jalanan. Kumel dan harus berpanas-panasan, tidak seperti kondisinya yg nyaman berkat AC di dalam mobil.

Kemudian pengemis mungil juga melihat gadis kecil di dalam mobil. Mata mereka saling bertemu. Mungkin mereka saling bicara di dalam hati. Mata keduanya sayu. Ga berapa lama kemudian mereka saling senyum. Lalu lampu merah berganti hijau, dan mobil itu pun pergi dari tempatnya. Pengemis kecil pergi ke pinggir, bermain-main dengan pengemis lainnya. Gadis kecil di dalam mobil masih tetap memperhatikan pengemis kecil, sambil lalu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: