Dua Pegawai yang Bertolak Belakang

Beberapa hari yang lalu saya pergi ke sebuah Bank swasta buat nyetor uang alias nabung. Setelah nomer antrian disebutkan, langsunglah saya menuju teller. Belon apa-apa saya langsung disambut oleh senyum ramah seorang pegawai teller. Dengan nada bicara yang enak, dia menyambut saya dan bertanya apa keperluan saya. Woow.. luar biasa! Benar-benar pelayanan yang prima. Sambil menjalankan tugasnya, si mbak itu juga mengajak ngobrol saya. Tentunya temanya juga yang ringan-ringan, supaya kerja dia juga ga terganggu. Yah, keramahan dia membuat saya betah berlama-lama di teller. Tapi tentu saja saya ga bisa berlama-lama di situ, soale yg ngantri di belakang juga banyak… hehe…

Beberapa hari kemudian, saya pergi ke rektorat UGM buat ngurus sesuatu. Di situ saya dilayanin sama seorang pegawai yang bermuka masam. Sangat masam! Gile bener. Jiper juga saya dibuatnya. Baru sampe meja loketnya aja dia langsung menyambut dengan lirikan mata tajam, seolah menganggap bahwa saya ini sangat mengganggu ketenangannya.

Karena malas menghadapi orang semacam itu, saya segera mengutarakan masalah saya ke dia, supaya urusan juga cepet selesai. Ternyata yg ga enak ga cuma mukanya aja, tapi juga nada bicaranya. Sungguh sangat tidak menyenangkan! Ketus dan galak.

Waah.. rasanya saya pengen segera pergi dari situ secepat mungkin. Tapi saya coba memahami dia. Mungkin dia sedang sibuk dan ga mo diganggu. Lho, tapi itu kan tugas dia untuk melayani pengunjung seperti saya…

Saya coba cari kemungkinan lainnya. Yah, mungkin dia lagi bosan dengan pekerjaan kantornya itu. Ngecek-ngecek berkas lah, nyari-nyari arsip lah… Biasanya kan kalo orang bosen dan jenuh, tapi tetep kepaksa buat ngejalaninnya, suasana hatinya juga akan jadi ga enak. Efek sampingnya muka cemberut dan senyum ramah sulit keluar. Mungkin itu juga kali yang lagi dialamin sama si Bapak…

Atau bisa juga karena kantornya ga ada standar kerja untuk senyum, sapa, dan ramah kepada pengunjung. Makanya dia lancar-lancar aja melancarkan aksi betenya. Ah, males banget dah kalo harus berurusan dengan si Bapak itu lagi…

Jadi teringat perkataan salah satu teman dulu. Katanya, begitulah perbedaan antara pegawai swasta dengan pegawai negeri. Biasanya pegawai swasta lebih profesional melayani pengunjung. Beda dengan pegawai negeri yang kadang sok-sok an dan melayani pengunjunga dengan sangat menyebalkan… Begitukah?😦

4 Responses to “Dua Pegawai yang Bertolak Belakang”


  1. 1 rouju October 15, 2009 at 7:32 am

    Kayaknya kurang fair membandingkan seorang front liner dengan 1/2 front liner (sebab rektorat kan biasanya bisa masuk kategori back office).

    Tentu saja front liner itu harus ramah (job desc), kalo back office mah yang penting kerjanya bukan ramahnya.

    • 2 ditter October 16, 2009 at 9:45 am

      hmm… bisa juga begitu… Tapi saya pikir karena pegawainya tetep berurusan ma pengunjung, harusnya tetep ramah juga.. Tapi memang saya juga sering menemui 1/2 front liner di perusahaan swasta yg ga ramah, kyk yg saya temuin di kantor indosat kemaren. Oke deh, makasih banyak atas tanggapannya yaa!!🙂🙂

  2. 3 nahdhi October 15, 2009 at 12:13 pm

    nunut jajal Speedy seko tempat Pesta Blogger Jogja yo kang… :p


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,985 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: