Salah Kaprah…

Apa bedanya hak paten dengan hak cipta?

Tadi malem saya abis baca sebuah Koran terbitan hari Jumat. Koran itu baru sempet terjamah setelah dua hari dibeli. Di situ saya baca sebuah artikel opini yang sangat bagus dan mencerahkan, ditulis oleh Arif Havas Oegroseno. Si penulis mengkritik tentang sebuah kesalahkaprahan yang sering dibuat masyarakat kita, bahkan oleh media massa sekalipun, yaitu tentang pembicaraan klaim budaya nusantara.

Mungkin dalam suatu pembicaraan kita sering berseru untuk mematenkan produk budaya nasional. Ini terutama untuk mengindari terjadinya klaim-klaim sepihak dari Negara lain terhadap produk budaya kita. COba deh perhatikan berita-berita di berbagai media. Ungkapan-ungkapan seperti “mematenkan seni budaya di lembaga Internasional” sering muncul, terutama pasca klaim Malaysia terhadap budaya kita.

Tapi menurut si penulis artikel yang saya baca itu, ungkapan tersebut salah kaprah. Pertama, paten adalah perlindungan hukum untuk teknologi atau proses teknologi, bukan untuk seni budaya seperti Batik. Kedua, tak ada lembaga internasional yang menerima pendaftaran cipta atau paten dan menjadi polisi dunia di bidang hak kekayaan intelektual (HKI).

Dalam urusan HKI, ada sejumlah hak yang dilindungi, seperti hak cipta dan paten dengan peruntukan yang berbeda. Hak cipta adalah perlindungan untuk ciptaan di bidang seni budaya dan ilmu pengetahuan, seperti lagu, tari, batik, dan program komputer. Sementara hak paten adalah perlindungan untuk penemuan (invention) di bidang teknologi atau proses teknologi. Ini prinsip hukum di tingkat nasional dan internasional. Dengan demikian, paten tidak ada urusannya dengan seni budaya.

Menurut si penulis lagi, pernyataan ”perlu mematenkan seni budaya” adalah distorsi stadium tinggi. Media massa juga sering terjebak hal ini, sehingga akhirnya salah kaprah tersebut terus menyebar. Bagi si penulis yang merupakan lulusan universitas Harvard itu, distorsi ini sangat berbahaya, sebab telah memberikan pengetahuan yang salah kepada publik secara terus-menerus. Akibatnya, kita jadi terlihat sebagai bangsa aneh karena di satu sisi marah-marah karena merasa seni budayanya diklaim orang lain, tetapi di sisi lain tak paham hal-hal mendasar tentang hak cipta dan paten…

Ada salah kaprah lainnya, yaitu tentang pendaftaran hak cipta seni budaya nasional. Para pejabat berlomba-lomba mengeluarkan pernyataan di media tentang niat untuk mendaftarkan sekian seni budaya agar bisa mendapatkan hak cipta. Padahal kata si penulis, pendaftaran dalam sistem perlindungan hak cipta tidaklah wajib. Apabila didaftarkan, akan muncul konsekuensi berupa habisnya masa berlaku hak cipta, yakni 50 tahun setelah pencipta meninggal dunia. Jadi, seruan agar tari Pendet didaftarkan adalah berbahaya, sebab 50 tahun setelah pencipta tari Pendet meninggal dunia, hak ciptanya hilang dan tari Pendet dapat diklaim siapa saja.

Jadi begitu teman-teman, semoga bermanfaat ya… Kalo mo ngebaca artikelnya yang asli, silahkan lihat di sini.

4 Responses to “Salah Kaprah…”


  1. 1 Vicky Laurentina October 12, 2009 at 3:57 am

    Terus terang aja, aku nggak pernah dengar tari salsa, tari samba, tari perut, itu dipatenkan. Jadi apa mesti tari Pendet dipatenkan juga?

    • 2 ditter October 12, 2009 at 7:03 am

      yah.. pasca aksi klaim Malaysia terhadap tari pendet, banyak pejabat kita yg menyerukan di media dan televisi untuk mematenkan tari pendet dan seni budaya nasional lainnya. Aku juga baru tau kalo ternyata itu kurang tepat, hehe…
      Jadi sebenarnya bangsa kita ini hanya terbawa gegap gempita aja…

  2. 3 nahdhi October 12, 2009 at 8:57 am

    Oooo…. ngono to. [manthuk-manthuk]….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: