Malioboro Semakin Tidak Nyaman

Semakin padat suatu tempat, ditambah pengelolaan yang kurang baik, maka akan mengubahnya menjadi lokasi yang tidak nyaman lagi.

Beberapa hari yang lalu saya habis baca sebuah liputan menarik di Koran. Isinya tentang kondisi Malioboro. Di situ disertai testimoni beberapa turis asing dan lokal yang kesemuanya sepakat: Malioboro  kini sudah tidak nyaman lagi.

Dua hal yang menjadi kritik utama mereka adalah, pertama ulah segelintir penggiat malioboro (penjual makanan, souvenir, jasa, dsb) yang seringkali tidak ramah dalam melayani pelancong, bahkan sering menipu. Misalkan, supir taksi seringkali memanipulasi harga taksi menjadi lebih mahal dari yg biasanya. Ini terutama dialami oleh para pelancong asing. Yang kedua adalah padatnya lalu lintas kendaraan bermotor. Para pengunjung Malioboro seringkali merasa sulit menyebrang jalan karena bagitu padatnya jalan. Bahkan tidak jarang mereka harus berserempetan dengan bus, mobil, atau  sepeda motor yang lalai dan tidak sabaran.

Saking banyaknya kendaraan bermotor yang melintas, polusi udara juga semakin berat. Salah satunya juga disebabkan bus-bus tua tidak layak pakai yang masih saja dioperasikan melewati Malioboro. Asap hitamnya itu lho, sangat mengganggu pernafasan…

Satu fakta dari Malioboro yang mungkin perlu temen-temen ketahui adalah banyak warung (tenda) penjual makanan yang tidak mencantumkan daftar harga. Kita sih taunya ya pesen, trus maem. Tapi begitu tiba saatnya membayar, tau-tau aja harganya begitu melonjak, jauh dari harga normal. Pengen protes ga bisa, sebab ternyata disitu ga ada daftar harga makanannya. Kita ga punya bukti atau bahan untuk menguatkan argumen kita. Penjual sih taunya begini: dengan kita memesan makanan, maka berarti sudah menyepakati harga yang dijual. Walopun sebenarnya kita ga tau harganya itu berapa. Makanya pada sengaja ga menampilkan harga makanan di menunya. Licik banget ya…

O iya. Dulu pernah ada ide kalo parkir para pengunjung lebih baik dialokasikan di wilayah luar Malioboro saja, seperti misalnya di taman parkir Abu Bakar Ali. Selebihnya para pengunjung harus berjalan kaki untuk menyusuri jalan Malioboro. Bagi saya ini sebuah ide yang sangat bagus. Selain untuk menghindari polusi udara dan suara dari kendaraan bermotor, pengunjung juga lebih maksimal dalam menjelajah Malioboro, karena telah “dipaksa” untuk berjalan kaki. Kalo naek motor kan biasanya tinggal lewat aja. Jadinya kurang berkesan. Tapi entah kenapa ide ini masih belum juga direalisasikan…

Kembali ke masalah tadi, tentang licik dan kurang ramahnya segelintir penggiat Malioboro. Menurut saya, dengan tingkah laku mereka yang seperti itu, sama saja dengan membunuh diri sendiri. Para pengunjung akan malas datang ke Malioboro lagi, atau paling tidak, malas (wegah) menggunakan jasa atau membeli sesuatu di tempat mereka lagi.

Yah, kalo saya sih terserah mereka aja. Kalo emang pengen pengen orderan ramai, ya mereka harus sebisa mungkin membuat para pelancong nyaman berada di Malioboro. Tapi kalo emang pengen rejeki seret, ya terusin aja deh perbuatan liciknya. Toh lama-lama mereka juga yang harus nanggung akibatnya…

Harapannya saya sih, semoga Jogja pada umumnya dan Malioboro pada khususnya, bisa menjadi “ramah” kembali…

4 Responses to “Malioboro Semakin Tidak Nyaman”


  1. 1 nahdhi October 6, 2009 at 2:53 am

    Enak nang Magelang… :p

  2. 3 Vicky October 6, 2009 at 5:21 am

    Aku ke Malioboro tiap kali ke Jogja. Tapi cuma kuat nyusurin 500 meter doang dari Pasar Bringharjo. Sisanya ogah, takut kecopetan.

    Sebenarnya kalo urusan belanja souvenir, aku cuma konsen sama Toko Mirota dan Pasar Bringharjo doang. Sisanya sih enggak.

    Makan a la lesehan juga nggak nyaman. Sebel kalo ada tukang kentrung maksa nyanyi, padahal suaranya nggak enak, ditambah selera musik yang nggak segenre sama aku.

    Perkara pedagang ngumpetin harga itu sih nggak cuman di Malioboro doang, Dit. Di mana-mana juga gitu. Dua minggu lalu aku makan soto di Pekalongan, pedagangnya langsung naikin harga begitu ngeliat antingku yang bling bling. Aseemm..

    • 4 ditter October 7, 2009 at 7:53 am

      Woh… ternyata ga cuma di Malioboro aja ya.. brarti emang tabiat orang2 kita kyk gitu kali ya… Bukannya memperjuangkan agar para pelancong betah dan nyaman, malah ngambil keuntungan singkat dengan cara menjebak.. waaaahh…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: