Garam pun Import…

Sudah jadi pengetahuan umum kalo Indonesia adalah sebuah Negara yang dikaruniai sumber daya alam.yang melimpah.

COntoh kekayaan tersebut misalnya adalah tanah yang subur, hutan yang luas, timbunan minyak dan bahan tambang, dan lain sebagainya. Orang-orang dari Negara lain aja sampe ngiler gitu setelah tau kalo tanah Indonesia begitu subur. Seperti lagunya Koes Ploes, kayu dan batu pun walau hanya dilemparkan, bisa tumbuh menjadi tanaman. INi adalah kiasan untuk menggambarkan betapa suburnya tanah Indonesia.

Makanya ga heran kalo dulu Indonesia selalu jadi sasaran para penjajah, soalnya tanah di Negara mereka ga cukup subur untuk bisa menghasilkan bahan makanan yg dibutuhkan. Misalnya, dulu itu kebutuhan bahan makanan Belanda banyak dipasok dari Indonesia, kyk misalnya rempah2, cengkeh, kopi, dsb. Bahkan tidak jarang Belanda menjualnya ke Negara-negara lain untuk mendapatkan uang.

Waduh, lagi puasa kok malah ngomongin Belanda. Puasanya terancam batal ni, haha…

Jadi yg mo dijelasin di sini adalah bahwa dulu Indonesia bisa dibilang merupakan penyedia bahan makanan negara2 lain, walaupun penjajah lah yang mendapatkan keuntungannya… Nampaknya dulu itu Indonesia ga perlu pusing dengan kebutuhan pangannya sendiri…

Nah, makanya aku heran banget begitu tau kalo ternyata arus impor pangan Indonesia sekarang ini luar biasa kuat, yaitu lebih dari 5 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 50 triliun lebih tiap tahun. Fakta dan berita tentang ini bisa di baca di link ini.

Gila, angka itu gede banget lho. Kalo dialokasiin ke infrastuktur, bisa lumayan banget. Ckckckck….

O iya, Komoditas yang biasanya diimpor meliputi kedelai, gandum, daging sapi, susu, dan gula. Bahkan, garam yang sangat mudah diproduksi di dalam negeri karena sumber dayanya tersedia secara cuma-cuma dari alam, tetap masih harus diimpor sebanyak 1,58 juta ton per tahun senilai Rp 900 miliar.

Wakkzzz… Adapakah dengan Indonesia?

Ini aneh banget, soalnya kan hal seperti itu seharusnya ga perlu terjadi, karena tanah Negara kita banyak yg subur. Dibandingkan AS, Kanada, dan Australia yang merupakan pengeksport utama bahan makanan ke Indonesia, kondisi tanah kita juga ga kalah subur…

Kalo untuk gandum mungkin wajar, karena gandum sulit tumbuh subur di daerah tropis seperti Negara ini. Tapi yang kebangetan adalah impor garam. Ya ampun, masih kurang luas juga laut dan pantai di Indonesia??

Untuk masalah garam ini, usut punya usut, ternyata impor dilakukan karena kualitas garam lokal sangat jelek, berbeda jauh dengan produk yg impor. Walau kualitasnya lebih bagus, harga garam import ga jauh beda dgn produk lokal, sebab Negara yg mengeksportnya memberikan subsidi yang cukup banyak. Jadi jelas aja garam Indonesia kalah pamor dari para pesaingnya… Waaahhh… sayang sekali….

Gila bener, ternyata skrg di Indonesia ga Cuma sepatu atau pakaian aja yang keluaran luar negeri…

3 Responses to “Garam pun Import…”


  1. 1 Ferre August 25, 2009 at 3:53 am

    bahkan ikan kembung yg tinggal “nyerok” di laut bisa2nya juga diimpor…dasar presidennya neolib! hahahhaa

  2. 3 redaksi September 3, 2009 at 6:42 am

    RAMAH IMPORT UNTUK MEMISKINKAN RAKYAT!!

    Demi program ketahanan pangan, tim ekonomi pemerintahan (SBY) Susilo Bambang Yudhoyono menggelontorkan Lebih dari 5 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 50 triliun untuk import kebutuhan pangan agar tercukupi kebutuhan pangan nasional.

    Komoditas import tersebut meliputi kedelai, gandum, daging sapi, susu, dan gula. Bahkan, garam yang sangat mudah diproduksi di dalam negeri karena sumber dayanya tersedia secara cuma-cuma dari alam tetap masih harus diimpor. Nilai nya cukup fantastis 1,58 juta ton per tahun senilai Rp. 900 miliar.

    Dampak kebijakan ramah import ini jelas, mengabaikan pengembangan potensi pangan lokal akibatnya puluhan ribu petani garam di sebagian besar pesisir Nusantara secara perlahan menganggur. Petani yang berlahan sempit harus berhadapan dengan komoditas pertanian impor yang disubsidi besar. Ini sama halnya dengan pemerintah membiarkan ketidakadilan berlaku di negara kita.

    Sebagian ahli ekonomi berpendapat, kebijakan ini diambil karena kualitas barang import yang lebih baik dan harga lebih murah. Namun, kebijakan ini akan berdampak berupa kehilangan peluang penyerapan tenaga kerja yang lebih besar dan pengurangan jumlah penganggur tidak akan maksimal. Dengan kata lain kebijakan ramah impor tidak bisa menyubstitusi kebutuhan masyarakat terhadap pekerjaan!!

    “Coba bayangkan dengan anggaran 5 miliar dollar AS akan menyerap berapa banyak tenaga kerja!!”

    Karena itu, komoditas apa pun yang memungkinkan untuk diproduksi sendiri harus dilakukan secara optimal oleh pemerintah dan semua pemangku kepentingan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: