Para Pedagang Petualang…

pikulan

Beberapa hari yang lalu, saat malam tiba seperti biasa aku merasa sangat lapar. Kebetulan dari sejak pagi juga belon kemasukan nasi. Pengen makan, tapi dirumah ga ada makanan. Biasanya sih aku langsung cabut ke warung pecel lele langgananku. Selaen pece lele dan pecel ayamnya yang enak banget, harganya juga termasuk murah. Tapi malam itu kebetulan mami papin juga belon pada makan, dan kebetulan juga mami lagi kpengen makan nasi goreng langganannya. Jadi ya udah, aku gabung ma mereka aja, makan nasi goreng, ga jadi pecel ayam.

Saat dalam perjalanan ke warung nasgor, aku melewati toko2 yang sudah tutup di area pasar Tempel. Nah, disitu aku ngeliat beberapa orang yang lagi tidur di emperan toko. Di situ juga tampak pikulan (barang bawaan yang dipikul) yang berisi maenan anak2 tradisional, kalo ga salah mobil2 an yang dibuat dari anyam2an daun. Nampaknya mereka adalah pedagang mainan anak tradisional yang sedang beristirahat karena lelah dalam melewati perjalanan yang entah bertujuan kemana. Agak miris juga ngeliat mereka, ditengah suasana sepi yang sangat dingin itu, mereka tidur hanya dengan beralaskan tikar dan berselimut sarung tipis.

Kalo aku duga, mereka itu adalah orang2 dari luar kota yang bergerilya ke kota lain dengan maksud menjajakan dagangannya. Saat dagangannya habis, mereka akan kembali ke kampung halaman untuk mengambil barang dagangan, lalu kemudian kembali berpetualang menjual dagangannya itu ke kota2 yang menurut mereka bagus untuk berjualan. Bisa dibilang mereka adalah para petualang, karena menyusuri jalan2 diberbagai kota2 tanpa memiliki modal dan bekal yang cukup.

Dari dulu beberapa kali aku pernah melihat para pedagang yg seperti itu. Tidak hanya pedagang mainan tradisional saja, tetapi juga pedagang kursi bambu, meja kayu, sepatu, dsb. Bayangin aja betapa beratnya mereka harus membawa barang dagangan yg kyk gitu dengan tenaganya sendiri tanpa kendaraan pribadi.

Tentu saja pekerjaan yang mereka jalani itu sangat berat, sebab mereka harus berpisah cukup lama dengan keluarga di rumah. selain itu, mereka juga harus benar2 mengirit agar bisa pulang dengan membawa uang yg banyak. Selain harus makan ala kadarnya, juga harus berjalan jauh dan tidur disembarang tempat yg bisa dibilang kurang layak sebagai tempat beristirahat.

Walopun masih mengantuk, kalo udah pagi harus segera pergi karena toko akan buka. Belon lagi dagangan yang mungkin sulit terjual. Dizaman modern ini, siapa sih yang mo beli maenan tradisional, kursi bambu, ataupun sepatu sederhana? Di supermarket juga banyak barang2 yg kyk gitu, bahkan mungkin lebih bagus dan lebih murah.

Yah, itulah yang dinamakan sulitnya mencari uang. Mereka harus membanting tulang untuk sekedar mengisi perut untuk diri sendiri dan keluarga. Terhinalah aku yang selama ini bisanya hanya meminta kepada orang tua tanpa bisa memahami kondisi mereka, dan bahkan terkdang banyak disertai emosi dan rengekan yang kurang ajar. Semoga aku dan mungkin temen2 semua bisa belajar banyak akan arti kerja keras dari para pedagang petualang itu…

0 Responses to “Para Pedagang Petualang…”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,988 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


%d bloggers like this: