Archive for the 'Cerpen' Category

Mei Lin

Tangisnya pecah sesaat setelah aku mengatakan itu. Mata sipitnya yang jelita mencair. Ia memandangku sambil menahan isak. Aku tidak tahu apakah itu tangis kesedihan atau kebahagiaan. Segera aku menggenggam tangannya, berharap bisa menjalarkan kehangatan yang mampu mendamaikannya.

“Ka… kamu yakin?” ia bertanya dengan terbata-bata seraya menatapku tajam. Setelah berkata begitu, ia menutup mulutnya dan berpaling ke arah lain, tampak berusaha kuat menahan tangis.

Kilau keemasan lampu restoran membuat suasana semakin sendu, sekaligus romantis. Malam itu Mei Lin mengenakan kaus hitam dengan lengan yang digulung, berpadu sempurna dengan kulitnya yang seputih pualam. Well, saat sedang menangis pun, ia masih tetap memesona.

“Mei …,” aku mengusap-usap tangannya sambil tersenyum lembut. “Tentu saja aku yakin. Kamu tahu itu….” Continue reading ‘Mei Lin’

Diskusi Partai di Atas Ranjang

Malam semakin larut, namun kamar tidur yang ditempati pasangan muda itu masih terang. Sang suami tampak sibuk mengetik di meja kerjanya, sementara sang istri asyik membaca majalah di tempat tidur. Sayup-sayup terdengar alunan musik orkestra yang keluar dari radio tape di pojok kamar.

Tidak lama kemudian, si lelaki selesai mengerjakan pekerjaannya. Ia merenggangkan tubuhnya sejenak, lalu melirik ke istrinya.

“Betapa cantiknya,” si lelaki membatin.

Setelah menutup laptop, sang suami pelan-pelan menghampiri ranjang. Ia membelai lembut pipi istrinya. Wangi rambut sang istri membuat dirinya semakin bergairah.

“Mah, mau PPP, dong,” ujar sang suami, tersenyum nakal. Continue reading ‘Diskusi Partai di Atas Ranjang’

Viola Safira

Pagi tadi saya iseng membuka-buka arsip lama di e-mail saya. Tanpa sengaja saya menemukan naskah cerpen yang dulu pernah saya kirim untuk sebuah perlombaaan. Sayang, cerpen itu tidak lolos. Nah, daripada teronggok begitu saja di inbox e-mail, lebih baik saya posting di sini.

Monggo kalau teman-teman mau berkenan baca. Terima kasih :)

****

Viola Safira

“Aaah… akhirnya selesai juga,” ujarku sambil mengempaskan tubuh ke atas kasur. Siang itu aku baru saja selesai merapikan barang-barang di rumah yang baru saja aku tempati –sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang aku kontrak selama setahun.

Aku sengaja tidak memperpanjang kosku yang dulu. Suasana kos itu kurang kondusif bagi mahasiswa semester akhir sepertiku. Aku tidak bisa mengerjakan tugas akhir dengan fokus di sana, sebab terlalu berisik. Akhirnya aku memilih untuk mengontrak rumah supaya lebih leluasa. Toh harganya tidak jauh berbeda, sebab rumah yang aku kontrak agak jauh dari kota, jadi relatif murah.

Tidak banyak barang yang aku bawa ke kontrakan, paling-paling pakaian dan perlengkapan belajar saja. Bahkan dapur pun tidak aku isi apa-apa. Aku merasa malas untuk melengkapi rumah dengan perabot macam-macam. Continue reading ‘Viola Safira’

Beda

Sore itu kantin kampus sudah mulai sepi. Di meja paling pojok, duduk seorang lelaki muda yang tengah asyik membaca buku. Ia sedang menunggu seseorang. Dan ia tahu, cara terbaik untuk membunuh waktu adalah dengan membaca buku.

“Haiii, sori telat! Tadi fotokopinya antre, hehe….”

Si pemuda mendongakkan kepalanya, kemudian tersenyum kepada gadis jelita di depannya. “Oh, nggak masalah. Tapi sudah selesai, kan?”

“Iyaaa…,” kata si gadis dengan nada manja. Lantas ia mengambil tempat duduk di hadapan si mahasiswa. “Ini bukunya. Terima kasih, ya!” Continue reading ‘Beda’

Anak Tikus

Aku lapar sekali. Sangat lapar. Aku memang belum makan semenjak empat hari yang lalu. Aku terlalu takut untuk keluar dari lubang ini. Ayah Ibuku selalu bilang bahwa di luar sana sangat berbahaya. Banyak berkeliaran manusia yang sangat membenci kita. Mereka punya peralatan canggih yang kata temanku bisa mencelakakan kami.

Sebenarnya aku baru sekali saja melihat manusia. Itu pun hanya mengintip. Aku terlalu takut untuk keluar dari lubang gelap ini. Lagipula, di sini sangat nyaman. Bau tanah lembab yang menyengat sangat memanjakan hidungku. Terkadang Ayah Ibu juga mengajakku menelusuri lubang lain menuju kolam. Aku sangat suka kolam itu. Airnya hitam pekat. Bau airnya juga sangat menyegarkan. Sebenarnya itu bukan kolam, karena airnya agak mengalir. Terkadang ada banyak makanan lezat yang terbawa oleh aliran itu. Ah, aku ingin ke sana… Tapi aku tidak berani ke sana sendiri. Aku tidak tahu arahnya. Belokannya sangat berliku.

Aku tak tahu kenapa Ayah dan Ibu masih belum pulang juga. Padahal sudah lewat tiga hari. Sebelumnya mereka tidak pernah pergi selama ini. Paling hanya beberapa jam, setelah itu pulang dengan membawa banyak makanan lezat. Entah dari mana mereka mendapatkannya. Ibuku pernah bercerita bahwa makanan lezat itu sangat sulit untuk didapatkan. Bahkan taruhannya nyawa. Begitulah. Kata Ibu, memang sudah kodrat kita untuk selalu berjuang. Tanpa kerja keras, kita tidak akan bisa makan. Entahlah, aku tidak bergitu ngerti. Yang aku tahu hanyalah makan. Aku tinggal menikmati saja hidangan spesial yang selalu dibawakan Ayah dan Ibu. Continue reading ‘Anak Tikus’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,841 other followers

Selamat Datang!

Buku Saya

Sampul_
Indonesia Sehari-hari2

Kategori

Twitter

Arsip


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,841 other followers