Draf

Ada sebuah folder baru yang sengaja saya buat di laptop. Folder itu saya namakan “Draf”. Rencananya mau saya isi dengan catatan apa saja yang saya buat, misalnya pengalaman sehari-hari, curhat, cerpen, sinopsis novel, ide-ide, atau resensi buku.

Pokoknya apa pun akan saya tulis di sana. Suka-suka, setiap hari kalau bisa. Sekadar menyalurkan pikiran dan perasaan.

Jadi isi folder itu benar-benar hanya sampah, berupa draf dengan kalimat-kalimat dan plot yang tidak tertata. Continue reading ‘Draf’

[Resensi Buku] Putri Cina

Putri CinaPemerintah ―kita tahu, menganjurkan agar penggunaan kata “Cina” di negeri ini diganti dengan kata “Tiongkok”. Namun, dalam membuat catatan ini, saya kesulitan menyatakan isi pikiran jika kata “Cina” diganti dengan sebutan itu. Nilai rasanya berbeda. Jadi, kali ini saya sengaja tidak mengikuti anjuran tersebut.

Semoga saya tidak masuk penjara.

Buku ini mengangkat tokoh Putri Cina ―sesuai dengan judulnya. Namun, jangan bayangkan Putri Cina tersebut merupakan tokoh tunggal. Dalam buku ini, bisa dibilang ia merupakan entitas dari nenek moyang orang-orang Cina di tanah Jawa.

Betapa kaya pengetahuan Sindhunata tentang mitos dan filsafat, baik Jawa maupun Tiongkok. Ia memasukkan babad dan sejarah ke dalam buku ini, lantas menjalinnya sedemikian rupa hingga membentuk cerita sastra yang sangat memesona. Continue reading ‘[Resensi Buku] Putri Cina’

[Resensi Buku] Tak Enteni Keplokmu – Tanpa Bunga dan Telegram Duka

Tak Enteni KeplokmuBulan ini saya tuntas membaca dua buku karya Sindhunata. Buku yang pertama berjudul Putri Cina, sementara yang kedua Tak Enteni Keplokmu-Tanpa Bunga dan Telegram Duka.

Kali ini saya akan meresensi buku yang saya sebut terakhir, sebab buku itulah yang terbit lebih dahulu dibanding Putri Cina.

Kalau ditanya buku ini bercerita tentang apa, terus terang saya bingung menjawabnya. Berbeda dengan tulisan-tulisan nonfiksi Sindhunata yang terang benderang, tulisan fiksi beliau di buku ini sulit digambarkan kembali ―meskipun sama-sama memikat.

Sederhananya, buku ini bisa dibilang sebuah hasil imajinasi dan kreasi Sindhunata terhadap tiga lukisan Djokopekik. Adapun Djokopekik adalah seorang pelukis senior yang terkenal kritis terhadap situasi politik di negeri ini. Continue reading ‘[Resensi Buku] Tak Enteni Keplokmu – Tanpa Bunga dan Telegram Duka’

Merusak Rasa

Saat itu saya masih SMP, baru saja pindah ke Jogja dari negeri antah berantah bernama Bekasi. Pada jam istirahat, tiga teman sekelas mengajak saya ke sebuah warung soto di luar sekolah. Kata mereka, nasi soto di sana enak dan murah meriah.

Benar saja, harganya memang murah, cuma lima ratus rupiah untuk semangkuk nasi soto panas, komplet dengan suwiran ayam.

Dalam waktu singkat, pesanan kami diantarkan oleh ibu penjaga warung. Empat mangkuk nasi soto yang masih mengepul terhidang di hadapan kami. Sebelum melahapnya, saya khusyuk memejamkan mata sambil menghirup dalam-dalam aroma nasi soto itu.

Hmmm… wanginya membangkitkan selera. Continue reading ‘Merusak Rasa’

Belanja Buku Pertama di Tahun 2015

Awal Januari kemarin, toko buku berdiskon di dekat kos saya —Toga Mas, mengadakan event diskon 30 persen untuk semua judul. Kebetulan tahun ini saya punya resolusi untuk membaca lebih banyak buku. Maka pada hari pertama event tersebut dibuka, saya pun langsung menyambangi toko buku yang ramah kantong itu.

Sampai di sana, saya malah bingung sendiri mau beli buku yang mana. Terlalu banyak buku yang ingin saya baca. Akhirnya setelah lelah berkeliling, saya mulai mengambil satu per satu buku yang paling saya minati untuk sekarang ini.

Dan hasilnya adalah tumpukan buku berikut ini. Continue reading ‘Belanja Buku Pertama di Tahun 2015′

Resolusi 2015

Sebelumnya, selamat tahun baru 2015, teman-teman!

Semoga pencapaian kita di tahun ini akan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Aamiin!

Namanya saja tahun baru, jadi semangat kita pun menjadi baru. Sebenarnya tidak hanya tahun baru saja yang membuat semangat kita terbarukan, tapi juga hal apa pun yang baru, misalnya buku, pakaian, kendaraan, rumah, ponsel, ataupun kekasih. Ehem.

Nah, dalam rangka menghadapi tahun baru 2015, maka saya pun mencanangkan beberapa resolusi. Apa saja itu? Check this out! Continue reading ‘Resolusi 2015′

Dua Puluh Tujuh

Beberapa hari yang lalu, saya memasuki usia dua puluh tujuh. Tidak disangka, ternyata saya tua juga, ya.

Konon dua puluh tujuh adalah usia yang rentan. Beberapa musisi atau tokoh muda terkenal mati pada usia ini. Sebutlah Jimi Hendrix, Jim Morrison, Janis Joplin, Brian Jones, Amy Winehouse, dan tentu saja Kurt Cobain.

Beberapa minggu yang lalu, teman baik saya juga berulang tahun yang kedua puluh tujuh. Untuk merefleksikannya, ia membuat tulisan ini. Saya kaget bukan kepalang. Tak saya sangka, rupanya ia bisa membuat tulisan sebagus itu. Sebab, setahu saya ia jarang menulis.

“Saya masih belum punya pencapaian apa-apa,” begitu ia merangkai kata. “Kawan-kawan sepermainan sudah melangkah jauh, sementara saya masih begini-begini saja.” Continue reading ‘Dua Puluh Tujuh’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,891 other followers

Selamat Datang!

Buku Saya

Sampul_
Indonesia Sehari-hari2
25 pesan Rasul Sehari-hari

Kategori

Twitter

Arsip


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,891 other followers