Antusias

Saya senang melihat orang-orang yang antusias. Mereka tampak penuh semangat dan begitu menikmati hidup. Apa pun yang mereka kerjakan, mereka melakukannya dengan hati riang.

Sebaliknya, saya agak enggan terlibat dengan orang-orang yang selalu lesu dan murung. Mereka tampak selalu tertekan, dan seperti tidak memiliki gairah untuk menjalani kehidupan. Saya khawatir hal-hal seperti itu bisa menular.

Bukankah lebih baik menjadi orang yang antusias daripada orang yang muram? Continue reading ‘Antusias’

Jadi ya Sudah

Tersebutlah seorang blogger senior yang cukup terkenal di Indonesia. Dulu ia sering berbagi tips menulis di blognya. Saya sangat menyukai tulisannya, sebab terasa empuk, mengalir, dan enak dibaca. Tidak diragukan lagi, ia memiliki kemampuan yang baik dalam bidang menulis.

Dulu saya rutin mengunjungi blognya. Saat itu bisa dibilang saya kecanduan tulisan-tulisannya. Setiap kali ada postingan baru, pasti saya akan segera membacanya.

Namun, semakin lama blognya semakin jarang diperbarui. Belakangan saya tahu, sang blogger kini lebih aktif di Facebook. Nah, saat membaca tulisannya di FB, saya kaget karena ternyata isinya sebagian besar provokatif dan berbau SARA.

Memang, tulisannya masih tetap mudah dipahami. Namun, kali ini ia sering membuat pernyataan-pernyataan kontroversial di situ. Continue reading ‘Jadi ya Sudah’

Anak Perempuan dan Ayahnya

Every girl may not be queen to her husband, but she is always a princess to her father (NN).

Beberapa hari yang lalu, saya iseng membuka Facebook. Dari sekian postingan foto yang muncul di linimasa, ada satu foto yang membuat saya terharu.

Foto tersebut begitu personal, diposting oleh seorang kawan —perempuan, yang saat ini sedang kuliah di Eropa. Bentuknya berupa gabungan foto ayahnya yang menampilkan sang ayah dalam berbagai ekspresi dan usia.

Foto editan itu juga berisi coretan khas anak-anak berupa ucapan selamat ulang tahun. Kata-katanya mungkin sebenarnya standar saja, sebagaimana ucapan ulang tahun pada umumnya. Tapi, cara teman saya dalam mengemas ucapan itu membuat saya tersentuh. Continue reading ‘Anak Perempuan dan Ayahnya’

Bioskop

Selepas pulang kerja, biasanya saya suka melewati sebuah bioskop besar di kota saya. Saya perhatikan, bioskop itu sering penuh. Apabila ada film baru, maka antreannya bisa panjang sekali, bahkan hingga keluar gedung. Kalau kata Jupe, “Sampe tumpe-tumpe.”

Saya bertanya-tanya, kira-kira apa yang membuat mereka ingin cepat-cepat menonton film terbaru di bioskop hingga rela mengantre selama berjam-jam? Bahkan beberapa orang rela menonton di barisan paling depan sehingga terpaksa harus mendongak terus sepanjang film diputar. Akibatnya, otot leher mereka bermasalah setelah keluar dari bioskop.

Padahal, toh film itu tidak akan cepat-cepat dihentikan pemutarannya oleh manajemen bioskop –khususnya jika film itu tergolong laris. Jadi, sebenarnya kita tidak perlu tergesa-gesa. Continue reading ‘Bioskop’

Masak Mau Berantem Terus?

Konon Bung Karno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Saya lahir setelah Indonesia merdeka, jadi sama sekali tidak tahu bagaimana rasanya berjuang mengusir penjajah. Tapi, saya percaya saja dengan perkataan Bung Karno tadi. Sebab, kenyataannya bangsa kita berhasil mengusir penjajah, tapi sampai saat ini masih kesulitan untuk berjuang “melawan bangsa sendiri”.

Di Facebook dan media sosial lain, orang-orang masih ribut soal pilpres. Bahkan sifatnya cukup kejam dan merusak, sebab disampaikan dengan kata-kata yang luar biasa kasar.

Di media massa pun begitu, para simpatisan masih ribut terus. Meskipun bentuknya tidak terlalu bengis, tapi tetap saja menyebarkan kebencian. Continue reading ‘Masak Mau Berantem Terus?’

Save the Best for the Last

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan teman akrab saya kala SMA, yakni Agus. Kami sengaja janjian, sebab selain karena sudah lama tidak berjumpa, kebetulan ia juga mau menyerahkan surat undangan pernikahannya untuk saya.

Di sela-sela pertemuan itu, kami pergi ke warung bakmi jawa untuk makan malam. Saya pesan nasi goreng magelangan, sementara Agus pesan bakmi rebus.

“Ternyata kamu masih kayak dulu, ya, Dit,” ujar Agus sambil menahan tawa saat kami berdua hampir menghabiskan makanan kami.

“Sama gimana, Gus?”

“Itu,” Agus menunjuk piring saya.

“Ooh… hahaha….” Continue reading ‘Save the Best for the Last’

Lagu Sedih

Saya merupakan penikmat segala genre musik. Tapi kalau diperhatikan lagi, ternyata lagu-lagu favorit saya yang dari berbagai genre itu memiliki satu kesamaan, yakni bernada sedih.

Nah, berikut ini contoh-contoh lagu yang saya sukai. Continue reading ‘Lagu Sedih’

Surat Terbuka untuk Orang yang Suka Melanggar Antrean

Saya tidak tahu, didikan apa yang Anda dapatkan dulu sehingga Anda bisa dengan begitu mudahnya melanggar antrean —tanpa merasa bersalah. Seharusnya Anda tahu, melanggar antrean termasuk dalam perbuatan yang tidak bermoral, sebab merugikan orang lain.

Kita tahu, mengantre merupakan salah satu solusi untuk menghindari chaos di tengah banyaknya orang yang ingin mendapatkan sesuatu yang sama, dalam posisi yang setara. Jika Anda tidak mau mengantre, maka jelas bisa terjadi kekacauan. Tidak percaya?

Bila Anda mengikuti berita di koran atau televisi akhir-akhir ini, pasti Anda tahu tentang kisruh yg terjadi pada acara pembagian zakat. Ya, kekacauan itu terjadi karena mereka tidak mau mengantre. Padahal, kekacauan serupa sudah pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, dan seharusnya bisa menjadi pelajaran berharga sehingga tidak terulang kembali. Continue reading ‘Surat Terbuka untuk Orang yang Suka Melanggar Antrean’

THR

Biasanya THR menjadi sesuatu yang dinanti-nanti oleh para pekerja menjelang lebaran, termasuk saya. Kita bisa menggunakan uang THR itu untuk menyelenggarakan acara istimewa di hari raya, yakni berkumpul bersama keluarga.

Dulu pas masih kecil, saya dan teman-teman sebaya sering menerima uang dari saudara pada hari raya. Nah, uang yang kami terima itu juga kami sebut dengan THR. Beberapa kawan menyebutnya dengan angpao, tapi sebutan ini kurang populer.

Oh iya, kadang-kadang ada juga yang menyebutnya dengan salam tempel. Jadi begitu selesai salaman, eh ada yang nempel.

Setiap kali berkumpul dengan keluarga besar dari pihak ayah di hari raya, saya selalu senang. Sebab, mereka akan memberikan THR kepada anak-anak dalam jumlah yang lumayan. Saya selalu panen uang setiap kali mengikuti acara itu. Continue reading ‘THR’

Random_2

Beberapa hari terakhir ini saya begitu takut dengan malam. Saat matahari mulai tenggelam, saat itulah saya dilanda rasa sepi yang sulit terjelaskan.

Tiba-tiba segala kenangan hadir begitu saja. Menyiksa saya, menghangatkan mata. Segala kesalahan masa lalu terus menghantui. Kini, kesalahan itu berbalik menimpa saya. Mungkin ini yang disebut dengan karma.

Awalnya saya ingin menempatkan malam sebagai sahabat untuk mengerjakan setumpuk pekerjaan. Tapi, rasa sepi yang menggigit dan kenangan yang menyiksa itu membuyarkan konsentrasi saya.

Membaca buku atau menonton film juga percuma saja. Tidak ada yang bisa saya tangkap dengan baik. Dan saya juga tidak punya teman. Jadi, saya lebih memilih untuk tidur cepat. Meringkuk di balik selimut. Berharap segera terlelap.

Ah, saya ingin kembali ke masa yang hangat itu.

Konon, saya memang hidup di masa lalu.


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,814 other followers

Selamat Datang!

Buku Saya

Sampul_

Kategori

Twitter

Arsip


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,814 other followers