Politik

“Dit, aku lagi males banget sama si Reno,” ujar teman saya, Sarah. Saat itu kami tengah asyik bersantai di sebuah kedai sambil menikmati minuman masing-masing.

“Lho, emang kenapa, Sar?” tanya saya. Reno merupakan teman saya dan Sarah, dan setahu saya Sarah cukup akrab dengannya. Jika mereka sampai berselisih, maka saya pun penasaran kenapa bisa demikian.

Sarah menyeruput es cokelatnya, lalu berkata dengan kesal, “Dia udah nggak asik lagi! Sekarang kebanyakan ngomong politik!”

Sarah benar. Belakangan ini Reno memang lagi keranjingan bicara soal politik, baik di Twitter maupun di Facebook. Continue reading ‘Politik’

Lega (2)

Setiap kali selesai ngeblog, entah kenapa saya jadi merasa lega. Kalau dipikir-pikir, mungkin sebabnya ada dua.

Pertama, karena saya telah menulis.

Menulis —kita tahu, memang dapat mendatangkan perasaan lega. Beban kita terbagi. Apa yang kita pikirkan dan kita rasakan bisa terlampiaskan. Semuanya kita tuangkan ke dalam bentuk tulisan. Perkara mau dipublikasikan atau tidak, itu pilihan kita. Tinggal kita pertimbangkan baik-buruknya. Continue reading ‘Lega (2)’

[Resensi Buku] Tujuh Hari di Vila Mencekam

sampulEhm. Pada kesempatan kali ini saya mau meresensi sebuah buku baru bergenre horor terbitan Bukune. Resensi ini saya buat dalam rangka Blog Tour 13 Hari Bikin Takut yang diadakan oleh penerbit tersebut. Kebetulan saya terpilih sebagai salah satu host-nya, dan kebagian tugas untuk meresensi buku ini.

Oh iya, omong-omong, dulu saya pernah bikin cerpen horor juga, lho. Judulnya Viola Safira. Silakan kalau teman-teman mau baca #LahDiaMalahPromoTulisannyaSendiri.

Oke, sebelum berangkat lebih jauh, ada baiknya kita simak dulu blurb novel horor ini. Continue reading ‘[Resensi Buku] Tujuh Hari di Vila Mencekam’

Ikhtiar

“Apa nama ibu kota Sulawesi Barat?” tanya saya sembari meliriknya.

Saat itu kami berdua tengah asyik main tebak-tebakan di kamar. Ia duduk bersila di ujung kasur, sementara saya berbaring sambil membaca buku pintar yang menjadi rujukan saya dalam membuat pertanyaan-pertanyaan.

“Mamuju,” ia menjawab dengan penuh keyakinan sambil mengulum senyum.

Saya tercengang. Sudah kesekian kalinya ia menjawab pertanyaan saya dengan benar. Hal itu semakin membuktikan bahwa ia memang orang yang cerdas. Meskipun ia sendiri selalu merasa biasa-biasa saja, tapi saya mengagumi kecerdasannya.

Sejak duduk di bangku kuliah, saya memang jadi semakin sering bertemu dengan orang-orang cerdas. Continue reading ‘Ikhtiar’

Karya

Kalau teman-teman mengikuti Twitternya Pandji Pragiwaksono, juga rutin membaca blognya, maka kalian bisa tahu betapa ia sangat gigih dalam berkarya.

Mas Pandji —begitu saya menyebutnya (sok akrab bingits), menekuni beberapa bidang. Selain terbiasa mengisi acara-acara sebagai MC, ia juga banyak berkarya di dunia tulis menulis, musik rap, dan stand up comedy. Bahkan ia termasuk orang yang membumikan stand up comedy di Indonesia.

Dalam berkarya, tidak semua orang menyukai karya kita, dan itu pula yang terjadi dengan Mas Pandji. Berkali-kali ia dihina. Sudah tidak terhitung pula karyanya dipandang sebelah mata.

Tapi, ia tidak berhenti. Ia masih terus berkarya. Continue reading ‘Karya’

Kesederhanaan

Suatu kali, keponakan saya tampak asyik menonton film SpongeBob SquarePants. Saya menghampirinya, lalu duduk di sampingnya. Kami pun menonton acara itu bersama-sama.

Di layar televisi, SpongeBob terlihat sibuk dengan tali sepatunya. Keponakan saya tertawa geli melihat tingkah laku SpongeBob, dan begitu pula saya. Makhluk kuning itu ternyata lucu juga.

Kemudian terpikir dalam benak saya, adegan itu hanya mengangkat hal yang sangat remeh, yakni mengikat tali sepatu. Tapi anehnya, hal yang sederhana itu bisa muncul dalam bentuk yang menarik dan jenaka. Tidak hanya bagi anak-anak, tapi juga bagi orang dewasa seperti saya. Continue reading ‘Kesederhanaan’

Proses

Sewaktu kecil, beberapa tetangga dan kerabat dekat menjuluki saya dengan sebutan yang gaul abis: ‘anak pantat’.

Bukan… itu bukan karena muka saya mirip dengan belahan pantat. Saya disebut demikian karena dulu sering menggelendot di balik tubuh ibu saya.

Ya, dulu saya memang anak yang manja. Apa-apa selalu dikerjakan orangtua. Namun, saya berusaha untuk tidak membawa sifat manja itu pada masa dewasa. Saya belajar untuk menjadi orang yang mandiri, menyelesaikan berbagai masalah sendiri tanpa perlu merepotkan keluarga.

Meski demikian, saya merasa sikap manja saya sewaktu kecil menimbulkan watak kurang baik pada diri saya. Dulu saya tidak terbiasa mengerjakan sesuatu sendiri, jadi saya tidak terlalu akrab dengan proses. Akibatnya, saya jadi tidak sabaran. Continue reading ‘Proses’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,835 other followers

Selamat Datang!

Buku Saya

Sampul_

Kategori

Twitter

Arsip


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,835 other followers