Kreatif

Saat ini saya bekerja di dunia kreatif, tapi kenyataannya kehidupan saya sehari-hari jauh dari kata kreatif. Misalnya, saya memakai pakaian yang itu-itu saja, mendengarkan lagu yang itu-itu saja, makan di warung yang itu-itu saja, dan bahkan dengan menu yang itu-itu saja.

Tapi, saya menikmati itu semua.

Ibu saya bilang bahwa selera saya susah. Mungkin beliau benar. Dan mungkin karena itu pula saya suka malas mencoba-coba. Jadi begitu mendapatkan sesuatu yang cocok, saya akan terus menggenggamnya.

Misalnya, saya hanya punya dua celana panjang yang saya pakai secara bergantian. Merek dan jenis keduanya sama. Salah satu celana sudah sobek di bagian lutut, tapi masih saya pakai terus. Hal itu membuat saya jadi terlihat seperti gembel. Beruntung tempat kerja saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Continue reading ‘Kreatif’

Kursus Menulis

Sewaktu sedang berselancar di dunia maya, secara tidak sengaja saya tiba di sebuah laman yang berisi iklan tentang kursus menulis. Setelah saya telusuri, ternyata banyak juga orang atau lembaga yang menawarkan jasa serupa.

Mungkin itu karena peluang pasarnya cukup besar. Atau dengan kata lain, ada banyak orang yang ingin menjadi penulis, atau setidaknya ingin bisa menulis bagus.

Teman saya pernah berujar, “Kalau mau jadi penulis, banyak-banyaklah melakukan perjalanan. Atau kalau tidak, banyak-banyaklah membaca dan berkhayal.”

Ia mengucapkan hal itu untuk menyindir orang-orang yang senang sekali mengikuti kursus menulis sampai berkali-kali, tapi tidak kunjung menghasilkan karya. Mereka seolah-olah berhenti hanya sampai di situ. Seperti terjebak dalam candu. Continue reading ‘Kursus Menulis’

Mei Lin

Tangisnya pecah sesaat setelah aku mengatakan itu. Mata sipitnya yang jelita mencair. Ia memandangku sambil menahan isak. Aku tidak tahu apakah itu tangis kesedihan atau kebahagiaan. Segera aku menggenggam tangannya, berharap bisa menjalarkan kehangatan yang mampu mendamaikannya.

“Ka… kamu yakin?” ia bertanya dengan terbata-bata seraya menatapku tajam. Setelah berkata begitu, ia menutup mulutnya dan berpaling ke arah lain, tampak berusaha kuat menahan tangis.

Kilau keemasan lampu restoran membuat suasana semakin sendu, sekaligus romantis. Malam itu Mei Lin mengenakan kaus hitam dengan lengan yang digulung, berpadu sempurna dengan kulitnya yang seputih pualam. Well, saat sedang menangis pun, ia masih tetap memesona.

“Mei …,” aku mengusap-usap tangannya sambil tersenyum lembut. “Tentu saja aku yakin. Kamu tahu itu….” Continue reading ‘Mei Lin’

Kelaparan (2)

Postingan ini merupakan kelanjutan dari tulisan yang ini.

Selama beberapa menit, kami semua diam. Mungkin sama-sama canggung. Kemudian si bapak bertanya dengan agak rikuh, “Bagaimana Dek, bisakah adek membantu saya? Saya butuh uang untuk ongkos pulang.”

“Mohon maaf, Pak,” saya menjawab dengan nada yang sopan. “Kebetulan saya dan teman saya lagi nggak punya uang.”

Tak disangka, raut wajah si bapak mendadak mengeras. Ia tidak lagi memelas. Tanpa berbicara apa-apa, ia pergi begitu saja, membawa bungkusan makanan yang sama sekali belum ia santap.

Saya hanya bisa mengelus dada. Seharusnya tadi saya meninggalkannya saja. Mestinya saya tidak perlu bersusah payah membelikannya makanan.

Tapi masalahnya, saya tidak bisa menolak orang yang sedang kelaparan.

Sebab saya tahu bagaimana rasanya kelaparan.

Saya paham rasanya tidak bisa membeli makanan karena tidak punya uang. Continue reading ‘Kelaparan (2)’

Kelaparan (1)

Dari kejauhan, seorang bapak kurus berpakaian lusuh berjalan ke arah saya. Malam itu saya dan seorang kawan sedang nongkrong di seputaran bundaran UGM. Kami berbincang-bincang dengan asyik sambil menyaksikan gadis-gadis manis berseliweran. Ketika itu kami berdua masih mahasiswa semester awal.

Si bapak kurus menyalami kami, lalu memperkenalkan diri. Katanya dia mau pulang ke Gunung Kidul (atau mungkin Wonosari, saya lupa), tapi kehabisan ongkos. Ia mengaku sudah berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer, lalu kelelahan. Padahal, rumahnya masih jauh.

“Tolong bantu saya, Dek,” ujar si bapak kurus dengan wajah memelas. “Saya butuh uang untuk ongkos pulang. Saya kelaparan dan kehausan, dari pagi belum makan. Perut saya melilit.”

Saya tertegun. Saya tidak yakin ia kehabisan uang untuk ongkos pulang. Di mata saya, alasan itu terlalu mengada-ngada. Terlebih beberapa hari sebelumnya, teman saya Syarif juga mengalami kejadian serupa. Continue reading ‘Kelaparan (1)’

Telah Terbit! (Komik) Indonesia Sehari-hari

Indonesia Sehari-hari2Seperti yang pernah saya ceritakan pada postingan ini, kemarin-kemarin saya sedang menunggu lahirnya “anak” saya. Wih, rasanya nggak keruan. Dan Alhamdulillaah, apa yang saya nanti-nantikan akhirnya tiba. Kini telah terbit buku terbaru saya: Indonesia Sehari-hari.

Teman-teman bisa mendapatkannya di toko buku terdekat di kota kalian, seperti Gramedia, Toga Mas, Gunung Agung, dan sebagainya. Oh iya, kalian juga bisa membelinya secara online di solusibuku.com .

Sebagai perkenalan, berikut saya tuliskan blurb-nya. Continue reading ‘Telah Terbit! (Komik) Indonesia Sehari-hari’

Pesawat Terbang

Gagah, anggun, dan elegan. Itulah pesawat terbang.

Bayangkan, benda ini sangat besar, sangat berat, tapi bisa terbang di udara. Berkat benda yang satu ini, hidup kita jadi jauh lebih mudah. Perjalanan darat atau laut yang biasanya ditempuh selama beberapa hari, maka bisa dipersingkat menjadi beberapa jam saja!

Lain daripada itu, penampilan pesawat terbang —khususnya yang komersial, sungguh mengesankan. Dia rupawan, dan mungkin sedikit angkuh. Ia seperti sibuk dengan dunianya sendiri, fokus menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, mengantarkan para penumpang ke berbagai daerah.

Suatu ketika, saya melewati (jembatan) fly over, lalu di dekat saya melintas sebuah pesawat yang hendak mendarat. Oh well, dia besar sekali. Continue reading ‘Pesawat Terbang’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,850 other followers

Selamat Datang!

Buku Saya

Sampul_
Indonesia Sehari-hari2

Kategori

Twitter

Arsip


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,850 other followers