Buku Aktivitas

Buku aktivitas yang saya maksud di sini adalah buku anak-anak yang berisi berbagai permainan goresan tangan. Misalnya permainan menghubungkan gambar, menebalkan garis, mewarnai, mencari jalan keluar di labirin, menulis huruf, dan sebagainya.

Buku-buku seperti itu banyak tersedia di toko buku, baik toko modern maupun tradisional. Umumnya ukuran buku cukup besar, tapi tipis; dan bagian dalamnya dipenuhi dengan gambar lucu aneka warna.

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman. Ia sudah memiliki anak usia prasekolah. Ia bercerita bahwa ia baru saja membelikan putranya tablet. Ia menginstall banyak game edukatif di situ, misalnya mencocokkan gambar, mencocokkan warna, mencari jalan keluar, dan sebagainya.

“Tablet itu saya beli untuk anak saya sebagai pengganti buku aktivitas,” kata teman saya, mantap.

Saya menggangguk-angguk paham.

Seperti tidak yakin bahwa saya sudah mengerti, ia melanjutkan, “Kamu tahu, buku aktivitas itu kan boros. Anak Cuma mencorat-coretnya sekali doang, habis itu nggak dipakai lagi. Sementara tablet jauh lebih praktis, bisa dipakai terus. Permainannya pun macam-macam. Selain itu, kita juga bisa memakainya untuk hal lain.”

“Umm… tunggu,” saya agak menarik diri. “Kamu sekarang jadi sales tablet?”

Teman saya tertawa. “Aku cuma puas aja sama tabletku, Bro. Murah tapi fungsional,” ujarnya sambil cengar-cengir.

Kami tidak membahas masalah itu lebih lanjut, dan lebih memilih untuk membincangkan hal lainnya. Setelah kami berpisah, baru deh saya kepikiran. Apa benar buku aktivitas bisa digantikan oleh tablet?

Saya kok meragukannya ya, sebab keduanya memiliki perbedaan yang mendasar.

Dalam buku aktivitas, anak bisa berlatih memegang pensil, dan kemudian menggerakkannya ke sana kemari di atas kertas. Sementara pada tablet, biasanya anak hanya memainkan jari-jarinya untuk menyentuh layar.

Untuk latihan otot motorik halus, saya rasa lebih bagus menggunakan buku aktivitas. Anak-anak bisa lebih leluasa mengekspresikan kreativitasnya dalam bentuk coretan di atas kertas. Selain itu, ia pun bisa memegang atau membaui hasil karyanya —bisa dicerap oleh kelima indranya. Jadi, manfaatnya dalam hal ini jauh lebih maksimal dibanding tablet.

Menurut teman-teman bagaimana?

About these ads

21 Responses to “Buku Aktivitas”


  1. 1 Evi May 22, 2014 at 4:07 pm

    Setuju dengan Ditter, untuk melatih motorik halus lebih bermanfaat buku aktivitas ketimbang tablet :)

  2. 3 Pypy May 22, 2014 at 4:55 pm

    Gak bisalah dibandingin buku ma tablet.. Tetep bagusan buku kemana2..

  3. 5 Beby May 22, 2014 at 8:31 pm

    Setuju sama Abang :D
    Ngga semua hal bisa digantikan dengan tablet, apalagi bagi anak-anak yang otaknya tuh masih cepet nangkep banget. Masih belajar banyak hal. Ya misalnya berekspresi dengan tulisan, gambar, coretan dari gerakan tangan. Lagian kalo apa-apa tablet kan otomatis banyakan duduk ya, menurut ku ngga bagus juga terlalu sering duduk dan ngga beraktivitas di luar.

  4. 7 duniaely May 23, 2014 at 12:46 pm

    Sepedapat dengan kamu nih :)

  5. 9 Rahad May 23, 2014 at 1:25 pm

    Hmm.. Emang pergeseran jaman ya. Menurutku masih bagusan buku, soalnya buku ada kenangannya, kalo apps di tablet udah bosen ya hapus

    Sama aja kayak buku sm ebook. Enakan mana baca buku lembar demi lembar sm baca ebook scrolling, blm lagi radiasinya hahaha

  6. 11 ysalma May 23, 2014 at 2:13 pm

    iya, buku aktivitas anak tak bisa digantikan dengan tablet,
    secara saya sudah melihat efek tak baiknya, anak saya malas megang pulpen, pensil dan menulis.
    alasannya sungguh cuma bisa bikin emaknya geleng kepala.
    *ntar saya tulis juga di blog :)

  7. 13 Chandra Iman May 23, 2014 at 5:25 pm

    setuju bro, bahkan sebelum anak saya bisa nulis saya sudah membelikan buku aktivitas untuk anak saya, kalo dia suka corat-coret khan bisa di fotokopi :)

  8. 15 nuellubis May 23, 2014 at 7:41 pm

    Sebagai seorang penulis yang bermartabat, saya pilih yang manual. =D

  9. 17 aqied May 23, 2014 at 10:21 pm

    kalo buku dianggap boros (apalagi kebanyakan buku edukatif anak anak emang mahal), bisa pake papan tulis kecil tar ortunya yg aktif ngasih kerjaan yg mirip2 buku aktivitas itu.
    kalo saya dulu sih maen urek2annya di tanah dan tembok. errrrrr

  10. 19 Aul howler May 24, 2014 at 10:17 am

    Tentu saja JAUH LEBIH BAGUS dengan buku aktivitas
    Banyak bgt manfaat nya
    dan hampir gak ada negatif nya

    Lah tablet…?
    Radiasi, ancaman addicted, biaya, penurunan kecerdasan, penurunan ketangkasan, penurunan keaktivan, penurunan daya komunikasi, penurunan kualitas hubungan sosial, dll.

    See?

  11. 21 mawi wijna May 26, 2014 at 6:32 am

    Karena mayoritas yang pertama kali terbesit di benak saat berhadapan dengan buku aktivitas adalah “kenapa harganya mahal untuk buku anak-anak yang isinya cuma kayak gini?”

    Oleh sebab itu, dipilihlah tablet, walaupun ya sebenarnya kan harganya lebih mahal. Tapi “tidak terasa mahal” karena ada pembenaran dari hati bahwa wajar harganya mahal sebab teknologinya lebih canggih. Menurut saya sendiri, mewarnai dengan krayon atau pensil warna itu lebih menyenangkan daripada via tablet.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,841 other followers

Selamat Datang!

Buku Saya

Sampul_
Indonesia Sehari-hari2

Kategori

Twitter

Arsip


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,841 other followers

%d bloggers like this: