Viola Safira

Pagi tadi saya iseng membuka-buka arsip lama di e-mail saya. Tanpa sengaja saya menemukan naskah cerpen yang dulu pernah saya kirim untuk sebuah perlombaaan. Sayang, cerpen itu tidak lolos. Nah, daripada teronggok begitu saja di inbox e-mail, lebih baik saya posting di sini.

Monggo kalau teman-teman mau berkenan baca. Terima kasih :)

****

Viola Safira

“Aaah… akhirnya selesai juga,” ujarku sambil mengempaskan tubuh ke atas kasur. Siang itu aku baru saja selesai merapikan barang-barang di rumah yang baru saja aku tempati –sebuah rumah kecil di pinggiran kota yang aku kontrak selama setahun.

Aku sengaja tidak memperpanjang kosku yang dulu. Suasana kos itu kurang kondusif bagi mahasiswa semester akhir sepertiku. Aku tidak bisa mengerjakan tugas akhir dengan fokus di sana, sebab terlalu berisik. Akhirnya aku memilih untuk mengontrak rumah supaya lebih leluasa. Toh harganya tidak jauh berbeda, sebab rumah yang aku kontrak agak jauh dari kota, jadi relatif murah.

Tidak banyak barang yang aku bawa ke kontrakan, paling-paling pakaian dan perlengkapan belajar saja. Bahkan dapur pun tidak aku isi apa-apa. Aku merasa malas untuk melengkapi rumah dengan perabot macam-macam.

“Sepertinya aku akan betah tinggal di sini,” aku membatin di kasur sambil tersenyum. Rumah itu terasa tenang. Lingkungan sekitarnya cukup sepi. Pemilik kontrakan tinggal di sebelah rumah. Mereka adalah sepasang suami istri yang cukup sepuh, yakni Pak Rudi dan Bu Rudi. Mereka tinggal berdua saja di rumah, sebab anak-anak mereka merantau semua ke ibu kota.

Saking lelahnya, aku ketiduran. Rasa lapar membangunkanku sekitar pukul 10 malam. Setelah mencuci muka, aku langsung keluar kontrakan menuju warung makan terdekat.

Jalanan sekitar kontrakan saat malam hari ternyata gelap dan sepi. Hanya ada beberapa lampu yang cahayanya tidak cukup kuat untuk menerangi jalan. Aku melangkahkan kaki cepat-cepat untuk menghangatkan badan. Udara malam itu terasa begitu dingin.

Aku melewati sebuah lapangan di ujung jalan. Di dekat lapangan itu ada sebuah pohon besar. Langkahku melambat saat melihat seorang gadis kecil yang sedang duduk termenung di bawah pohon. Aku menerka, mungkin usianya sekitar 12 tahun. Ia terlihat manis dengan baju terusan bermotif polkadot. Rambutnya hitam, panjang, dan tergerai indah.

Rupanya gadis kecil itu sadar bahwa aku memperhatikannya. Tanpa sengaja mata kami bertemu. Aku tersenyum, dan gadis manis itu tampak terkejut. Sebenarnya aku ingin menghampirinya dan menanyakan apa yang sedang ia lakukan di sana. Tapi, entah kenapa aku tetap meneruskan perjalanan dan melewatinya begitu saja. Mungkin karena aku merasa sangat lapar.

Warung makan yang aku datangi hampir tutup. Beruntung aku masih sempat makan di sana, meskipun hanya dengan lauk dan sayur seadanya.

Saat berjalan pulang, aku melewati pohon besar itu lagi. Tapi, kali ini aku tidak melihat gadis kecil yang tadi.

“Ke mana dia?” aku membatin, penasaran.

“Hai, Kak….” tiba-tiba sebuah suara menyapaku dari belakang. Aha, ternyata itu adalah si gadis kecil!

“Hai, Dek!” balasku sambil tersenyum cerah. “Sudah malam kok masih di luar?”

“Iya, Kak. Ini baru mau pulang. Maaf, kalau boleh tahu, nama Kakak siapa? Kakak orang baru, ya?”

“Namaku Firman. Iya, aku baru pindah ke sini tadi pagi. Kalau kamu siapa?”

Wah, aku merasa beruntung bisa mendapat teman di hari pertama kepindahanku. Meskipun teman itu hanya seorang gadis kecil, tapi aku tetap senang, sebab aku suka dengan anak kecil. Aku adalah anak bungsu yang sering berharap bisa memiliki adik.

“Namaku Viola Safira, Kak. Biasa dipanggil Viola,” jawabnya. “Tadi aku pengen pergi ke pasar malam, tapi nggak jadi. Aku nggak berani kalau ke sana sendirian,” gadis kecil itu merunduk sedih.

“Wah, nama kamu bagus!” aku memujinya. “Mmm… bagaimana kalau besok aku temani pergi ke pasar malam? Kalau mau, besok aku jemput ke rumahmu.”

Mata Viola mendadak cerah. “Benarkah? Wah, aku mau, Kak!” serunya, riang. “Tapi Kak Firman nggak perlu menjemputku. Besok kita ketemuan aja di lapangan ini. Jam 8, ya! Sampai ketemu besok, Kak!” Viola langsung pergi begitu saja sambil melambaikan tangan.

Aku tertawa geli melihat tingkah Viola. “Dasar, padahal aku belum sempat mengiyakan, eh main pergi aja.”

Selanjutnya aku pun segera pulang karena sangat mengantuk.

****

Pagi-pagi setelah bangun tidur, aku keluar ke halaman kontrakan untuk menghirup udara segar. Aku melihat Pak Rudi dan Bu Rudi sedang bersiap-siap pergi. Tampak sopir mereka sedang memanasi mobil.

Sebenarnya pagi itu aku ingin berbincang-bincang dengan Pak Rudi. Belum ada dua hari aku tinggal di kontrakan, dan aku ingin tahu lebih banyak tentang lingkungan sekitar supaya bisa menjadi warga yang baik. Tapi ya sudah, apa boleh buat. Aku harus menunda keinginan itu sampai Pak Rudi dan Bu Rudi pulang.

****

Tak terasa, malam sudah tiba. Aku bergegas ke lapangan naik sepeda motor untuk memenuhi janji dengan Viola. Gadis kecil itu rupanya sudah menunggu di lokasi.

“Hai Viola, sudah lama nunggu, ya?” aku berbasa-basi.

“Belum kok,” jawabnya, riang. Seperti kemarin, kali ini pun ia terlihat ceria. “Kita berangkat sekarang, yuk, Kak!”

Aku mengangguk mantap.

“Dek, kamu enteng banget, ya!” aku agak terkejut ketika Viola naik ke atas sepeda motorku. Aku seperti tidak memboncengkan siapa-siapa.

“Makanya nanti Kakak traktir aku yang banyak supaya berat badanku nambah,” canda Viola. Tawaku seketika pecah. Gadis itu punya selera humor yang bagus.

Tidak sampai lima menit, kami berdua sampai di pasar malam. Aku tidak menyangka, rupanya tempatnya sangat dekat. Ini berarti dekat dengan kontrakanku juga. Wah, tahu begini aku tidak perlu bawa sepeda motor, cukup berjalan kaki saja.

Pasar malam yang kami datangi begitu ramai dan terang, serta banyak orang yang berlalu-lalang. Wahana permainannya juga lumayan lengkap. Ada komidi putar, kereta mini, dan sebagainya. Banyak pula pedagang makanan yang membuka lapak di sana. Meski demikian, aku merasa agak aneh.

Pasar malam memang ramai dan berisik, tapi ekspresi pengunjung yang datang biasa-biasa saja, bahkan cenderung kaku. Suasananya terasa ganjil. Ramai tapi sepi. Entahlah, aku sulit menjelaskannya.

Aku menghabiskan waktu selama beberapa jam di pasar malam sambil menikmati kembang gula yang dibelikan Viola.

“Wah, kembang gulanya enak banget,” aku berseru. “Kayaknya belum pernah aku makan kembang gula seenak ini. Terima kasih ya, Viola.”

“Hahaha… kakak bisa aja!” Viola tergelak. “Sama-sama ya, Kak.”

Aku dan Viola sama sekali tidak naik wahana apa-apa, sekadar berbincang saja di bangku yang tersedia di sana. Viola adalah anak yang ceria. Ia banyak bercanda. Hanya kadang aku melihat dia terdiam tanpa ekspresi, seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi, aku tidak terlalu mengindahkannya.

Setelah puas, kami pun pulang. Dalam waktu kurang dari 5 menit, kami sudah sampai di lapangan tempat janjian kami tadi. Tadinya aku mau mengantar Viola sampai rumahnya, tapi dia tidak mau.

“Nggak usah, Kak. Aku nggak enak sama orangtuaku,” kata Viola dengan wajah polosnya. Wah, aku jadi merasa seperti mahasiswa paedofil yang berkencan dengan anak di bawah umur.

“Kak, terima kasih sudah menemaniku ke pasar malam, ya! Oh iya, bolehkah aku minta tolong sesuatu?” tanya Viola. Aku mengangguk-angguk.

“Tolong sampaikan ke Pak Rudi dan Bu Rudi ya, Kak. Viola minta dijemput di rumah Ayah, segera. Terima kasih Kak Firman!” seru Viola sambil berlari pergi. Hmmm… ternyata Viola kenal dengan pemilik kontrakanku. Setelah Viola hilang dari pandangan, aku segera menstarter sepeda motorku, lalu pulang.

Sesampainya di rumah, aku merasa mulutku tidak nyaman. Segera saja aku menuju wastafel untuk becermin. Betapa terkejutnya aku ketika melihat gigiku yang entah kenapa berwarna hijau. Setelah kuperiksa, ternyata itu adalah serpihan-serpihan daun. Aku pun segera berkumur-kumur untuk membersihkannya.

Kenapa serpihan daun itu bisa ada di mulutku?

Setelah selesai bersih-bersih, aku langsung membaringkan diri di kasur. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tiba-tiba saja aku menyadari sesuatu. Suasana malam sangat sepi, bahkan terlalu sepi, hampir tidak ada suara. Ini cukup mustahil, sebab tidak jauh dari sini ada pasar malam yang begitu bising.

Aku teringat dengan perasaan ganjil yang aku rasakan tadi di pasar malam. Teringat dengan orang-orang berwajah pucat dengan ekspresi yang kaku. Pikiranku melayang saat memboncengkan Viola tadi. Aku seperti tidak memboncengkan siapa-siapa. Viola terlalu ringan. Mengingat itu semua, seketika tubuhku merinding.

Aku segera mematikan lampu kamar, berniat langsung tidur supaya pikiranku teralihkan dari hal-hal aneh. Sebelum mulai memejamkan mata, aku ingat belum memasang alarm di ponsel. Aku pun merogoh-rogoh dalam gelap, mencari ponsel yang seharusnya ada di pinggir kasur. Tiba-tiba, tanganku menggenggam sesuatu yang lembek dan dingin. Aku raba-raba sambil menerka apa yang aku pegang. Astaga, itu seperti tangan manusia!

Aku langsung melompat bangun, lalu menyalakan lampu kamar. Jantungku berdegup kencang. Keringat dingin membasahi tubuhku.

Aku tidak melihat sesuatu yang mencurigakan di dekat kasurku. Padahal aku yakin sekali tadi memegang tangan manusia.

Aku benar-benar takut. Baru kali ini aku mengalami hal aneh itu.

Aku keluar rumah sebentar untuk menenangkan diri. Barangkali udara malam yang sejuk bisa menenangkanku. Tidak lama kemudian, seorang tukang sate keliling lewat di depan rumah.

“Lho, mas ini kan yang tadi saya lihat di makam?” ujar si tukang sate, tiba-tiba. “Ya ampun mas, tadi saya kira hantu, makanya saya langsung lari. Mas ada-ada aja sih, main-main di makam malam-malam. Bikin takut orang aja.”

Aku mengernyitkan kening. “Hah? Abang lihat saya di makam? Ka… kapan?” Tiba-tiba saja aku jadi merinding.

“Sekitar dua jam yang lalu, Mas. Saya lihat Mas seperti lagi ngunyah daun-daunan sendirian,” jelas si tukang sate.

DEG!

Tubuhku lemas seketika. Dua jam yang lalu seharusnya aku sedang bersama Viola di pasar malam, menikmati kembang gula yang rasanya enak sekali. Siapa sebenarnya gadis kecil itu? Ke mana sebenarnya dia mengajakku tadi?

Aku menengok ke rumah Pak Rudi. Masih kosong. Sepertinya mereka belum pulang. Padahal ada banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan kepada mereka. Viola mengenal Pak Rudi dan Bu Rudi, bahkan menitipkan pesan untuk mereka. Jadi, mereka pun pasti tahu Viola.

Tunggu.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang aneh. Aku belum pernah memberitahu Viola bahwa aku menempati rumah kontrakan milik Pak Rudi dan Bu Rudi. Bagaimana dia bisa tahu bahwa aku kenal dengan pasangan suami istri itu? Bulu kudukku kembali berdiri.

Aku segera masuk ke rumah, mengunci pintu, dan menyalakan semua lampu. Tidak seperti biasanya, malam itu aku tidur dalam kondisi terang. Aku sangat berharap semoga besok Pak Rudi dan Bu Rudi sudah pulang.

****

Harapanku terkabul. Siang sekitar jam 11, mobil milik Pak Rudi datang. Belum sempat ia membereskan barang-barang, aku langsung menghampirinya.

“Permisi Bapak dan Ibu, ada hal penting yang ingin saya bicarakan,” aku menyapa mereka dengan ramah. “Tadi malam saya bertemu dengan gadis kecil bernama Viola. Dia menitip pesan untuk Bapak dan Ibu. Katanya dia minta dijemput di rumah ayahnya, segera.”

Hal yang terjadi berikutnya benar-benar jauh dari bayanganku. Bu Rudi tiba-tiba histeris dan menangis. Ia bertanya di mana aku bertemu dengan Viola. Aku tergagap. Belum sempat aku menjawab, Bu Rudi pingsan. Aku membantu sopir mereka menggotong Bu Rudi ke dalam rumah. Aku benar-benar bingung, tidak tahu apa yang sedang terjadi.

“Joko, tolong kamu jaga Ibu,” ujar Pak Rudi kepada sopirnya. “Bapak mau jalan-jalan sebentar dengan Nak Firman.”

Selanjutnya Pak Rudi mengajakku ke suatu tempat. Kami menuju ke sana dengan menggunakan sepeda motorku. Setelah 10 menit perjalanan, kami tiba di sebuah puing-puing rumah yang habis terbakar.

“Nak Firman, ini adalah rumah salah satu anakku, Widagdo,” Pak Rudi bercerita. “Ia adalah pengusaha sukses di kota ini. Namun, ia depresi setelah ditipu oleh sahabat baiknya. Hartanya habis.”

Setelah menarik napas, ia melanjutkan ceritanya. “Pada suatu malam setahun yang lalu, depresi Widagdo memuncak. Ia membunuh istrinya sendiri, membakar rumah, lalu bunuh diri. Polisi menemukan jenazah keduanya di antara puing-puing ini. Rumah ini untuk sementara kami biarkan begini dulu. Kami masih berduka, dan belum berniat untuk merenovasinya. Mungkin nanti kami akan menjualnya saja.”

Aku bergidik ngeri melihat pemandangan di depanku ini. Dulu di sini ternyata pernah terjadi peristiwa yang sangat mengenaskan.

“Widagdo punya anak perempuan yang ceria. Anak itu kesayangan kami semua. Namanya Viola Safira.”

Cerita Pak Rudi seketika membuat jantungku berdegup kencang.

“Polisi tidak menemukan jenazah Viola di rumah ini. Kami tidak tahu apa yang terjadi dengannya, dan bagaimana nasibnya sekarang. Nah, di sinilah rumah ayahnya. Di mana aku bisa menjemput cucu kesayanganku ini, Nak?” Pak Rudi bertanya penuh harap kepadaku. Matanya berkaca-kaca.

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Lidahku kelu. Tapi, aku punya sebuah pemikiran. Setelah menarik napas dalam-dalam, aku pun menyampaikannya kepada Pak Rudi.

****

Aku berdiri di samping Pak Rudi dan Bu Rudi, menyaksikan para petugas memeriksa dan menggali lantai di rumah yang sudah terbakar itu. Setelah beberapa jam, mereka berhasil menemukan jenazah anak perempuan yang nyaris tinggal kerangka. Ibu Rudi menangis tersedu-sedu, sementara Pak Rudi berusaha menenangkannya.

Jenazah Viola selanjutnya dikuburkan dengan layak. Pak Rudi dan Bu Rudi mengadakan pengajian selama beberapa hari untuk mendoakan almarhumah. Aku mengikuti pengajian tersebut tanpa absen sama sekali.

Viola Safira. Senang pernah mengenalmu, meskipun dengan cara yang amat ganjil. Semoga kamu tenang di sana, Dek…. Semoga kamu mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Tuhan. Amin….

===== END =====

About these ads

25 Responses to “Viola Safira”


  1. 1 nuel May 14, 2014 at 12:52 pm

    Mantaplah. Nggak nyangka bakal horror gini. Hiiy

  2. 3 Nunu El Fasa May 14, 2014 at 1:10 pm

    Bagus lho ceritanya mas… Mungkin di bagian tengahnya kurang membuat penasaran sehingga mudah ditebak bahwa si vio hantu penasaran. Hehhe ini sekedar kritik.. Dan yang ngritik belum tentu bisa menulis sebagus ini :))

  3. 5 ysalma May 14, 2014 at 1:55 pm

    cerita yang bagus,
    ketika naik motor yang enteng itu, wah, jangan-jangan,,
    tapi tetap ga ketebak endingnya kalau begitu, jagolah #anakkampus :)

  4. 7 dimycorner May 14, 2014 at 1:56 pm

    membuat merinding juga membaca ‘viola savira’ ini.

  5. 11 ndutyke May 14, 2014 at 6:14 pm

    Sdh kuduga klo bkl horor bgitu membaca kata pasar-malam :lol: tp critanya bgs. Nice ending

  6. 13 Eduard de Grave May 14, 2014 at 9:45 pm

    bagaimana cara tokoh utama menemukan kerangka viola? ada ide apa kok dia tahu ada di bawah lantai rumah? apa ada bungker disana? soalnya gali lantai rumah kok bisa berjam-jam kecuali di bawahnya ada basement atau bungker :D

  7. 15 avokadojuice May 15, 2014 at 9:59 am

    udah ketebak waktu ada anak kecil kok keluar malam2, emang nggk dijewer bpk ibunya apa…hihihi…tapi bagus mas..:)

  8. 17 ochimkediri May 15, 2014 at 10:32 am

    bagus banget ceritanya sob,tp mudah d tebak kalo ada horornya saat ktmu anak kecil d bwah pohon,trus yg jd pertamyaan,sapa yg ksh tau kalo ada jenazah d dlm rumah?? Perlu sdkit modifikasi,

  9. 19 Beby May 15, 2014 at 8:22 pm

    Sedih ceritanya.. :'( Tapi syukurlah akhirnya Viola bisa ditemukan dan dikuburkan dengan layak. Kasian kalo terus-terusan terperangkap di reruntuhan rumah.. :(

  10. 21 duniaely May 16, 2014 at 1:53 am

    Malam jum’at di sini baca di atas jadi serem juga ya

  11. 23 cumilebay.com May 20, 2014 at 12:34 pm

    Ternyata cerita horor :-(


  1. 1 [Resensi Buku] Tujuh Hari di Vila Mencekam | Catatan gado-gado Trackback on September 23, 2014 at 11:10 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,850 other followers

Selamat Datang!

Buku Saya

Sampul_
Indonesia Sehari-hari2

Kategori

Twitter

Arsip


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,850 other followers

%d bloggers like this: