Membuang Sampah Pada Tempatnya itu Mudah!

December 28, 2011 at 10:28 am | Posted in Cerita dan Ulasan, Sehari-hari | 22 Comments
Tags: , ,

Saat sedang bersepeda beberapa hari yang lalu, saya melihat sebuah mobil yang penumpangnya buang gelas plastik air mineral begitu saja ke jalan lewat jendela. Saya nggak habis pikir, kok bisa, ya? Maksudnya, apakah sebelumnya sama sekali nggak terpikir bahwa sampah itu bisa mengenai orang yang lewat? Apakah nggak merasa sayang jalan yang cukup bersih itu dikotori oleh gelas plastik bekas yang sebenarnya bisa dibuang di tempat sampah?

Saya kira, bagi orang yang (benar-benar) berpendidikan, ada semacam perasaan nggak enak kalau buang sampah ke jalan begitu saja. Selain mengotori jalan, juga berbahaya bagi pengguna jalan lainnya. Belum lagi bila sampah itu nantinya masuk ke selokan lalu menghambat aliran air. Nah, siap-siap banjir, deh. Padahal tanpa “bantuan” sampah pun, banyak jalan yang memang sering tergenang air bila hujan deras, sebab sistem drainasenya nggak bagus.

Saya pikir kok kayaknya nggak susah ya menyimpan sampah selama beberapa menit sampai menemukan tempat sampah terdekat. Tentu itu sekadar usaha kecil, namun jika diterapkan dengan konsisten, sedikit banyak pasti bisa mengurangi masalah lingkungan.

Sebenarnya ada hal yang lebih sulit yang perlu kita lakukan dalam mengatasi masalah lingkungan, yakni mengurangi sampah. Sebaik apa pun sistem pengelolaan sampah, produksi sampah yang tinggi tetap bisa mengancam kelestarian lingkungan. Jadi, akar masalahnya sebenarnya adalah produksi sampah itu sendiri.

Sependek pengetahuan saya, pengelolaan sampah di Indonesia masih belum baik, masih mengandalkan sistem open dumping. Sampah ditumpuk begitu saja di sebuah tempat (TPA). Jika sudah penuh, maka ditinggal dan cari lokasi baru. Proses pencarian lokasi baru ini bisa menimbulkan konflik, karena warga mana yang nggak merasa berat bila daerah tempat tinggalnya jadi tempat pembuangan akhir sampah.

Meski demikian, sejauh ini sistem pengelolaan sampah di negeri kita masih bisa berjalan dengan efektif, sebab wilayah kita luas, banyak area kosong untuk TPA. Karena itulah sampai saat ini kita hanya dituntut untuk membuang sampah pada tempatnya. Tapi, saya pikir ini hanya masalah waktu saja. Suatu saat nanti, tuntutan itu pasti bisa lebih tinggi lagi “kelasnya”, yakni dituntut untuk mengurangi produksi sampah.

Nah, sebelum tuntutan itu berkembang menjadi tuntutan yang sulit dilakukan, marilah kita terlebih dahulu menjalankan hal yang paling mudah, yakni membuang sampah pada tempatnya. Nanti kalau sudah terbiasa, kita tinggal membiasakan diri untuk tidak begitu saja menghasilkan sampah, khususnya sampah-sampah yang sulit terurai.

Emm… membuang sampah pada tempatnya itu bukan hal yang sulit, kan, ya?

About these ads

22 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Waaa sama mas. Kenapa ya, kok gak disimpen dulu. Toh bisa. Sampahnya juga biasanya gak guedhe. Kalau keluargaku yang seperti itu biasanya aku ngomel mas. Bukan ngomel kayak cewek. Paling bilang ntar dulu. Simpan. Kalau dah sampai biar aku yang buangin.

  2. betul bgtz mas..
    saya ngalami nya sendri, waktu diboneceng ama teman. sykur plastik asoy yg berterbangan itu gag nempel diwajah teman saya. kalau gag, ntah lah mas. mungkin kita dah kecelakaan.

  3. kalau setiap orang menjaga sampahnya sendiri sebenernya mudah membuat lingkungan bersih. tingkat pendidikan ngga juga membuat kesadaran membuang sampah pada tempatnya berbanding lurus mas. sangat sering saya menemukan mereka yang berkendara dengan mobilmobil MEWAH masih aja membuang sampah lewat jendelanya di jalan tol, apa ngga memalukan itu? mobil sih harganya ratusan juta apa mereka ngga mampu cuma buat beli tempat sampah kecil yg harganya ngga sampe puluhan ribu untuk disimpan di dalam mobil mereka. nah kalau soal sistem pengolahannya, mungkin negara kita masih dalam tahap belajar untuk menemukan sistem yang baik.

  4. alhamdulillah, saya senang membaca ini. . . .

  5. daur ulang sampah mungkin bisa menjadi solusi
    masalahnya, gak semua orang sadar tentang ‘persampahan’ ini
    contoh kecilnya aja kita masih suka pke kantong plastik buat membungkus barang belanjaan

    • @Namarappuccino: Betul, mas. Daripada ngomel2, mending minta untuk nyimpen sampahnya dulu, baru nanti dibuang di tempat sampah. Kalau perlu memang kita yg buang, toh nggak ada susahnya, hehe….

      @Yourha: Wuah, gawat banget kalau sampai sampah plastik itu nutupin muka. Semoga mereka segera sadar, ya….

      @Misstitisari: Betul juga sih, ya. Banyak orang yg tampaknya berpendidikan, tapi untuk dalam hal membuang sampah, tampak seperti orang yg nggak pernah sekolah. Payah….

      @Obin: Syukurlah kalau senang, hehe…. Terima kasih sudah mau berkunjung :-)

      @Puchsukahujan: Iya betul Tapi kayaknya kantong plastik yg buat bungkus barang belanjaan itu banyak yg tergolong dalam jenis yg mudah terurai, ya. Di plastiknya sih ada simbol begitu….

  6. Kalo dipikir emang mudah bgt ya membuang sampah pada tempat nya.Tapi kok susah bgt di praktekan.Heran

  7. memang sulit Dit, tapi kalau kita mau sedikit memaksa untuk tidak melakukannya pasti bisa kok.. dhe juga sekarang sedang berusaha untuk tidak membuang sampah sembarangan.. kalo toh memang masih di kendaraan, disimpan dulu di dalam tas atau dipegang saja sampe bertemu dengan tempat sampah.. semoga kita bisa tetap seperti ini yaa :)

  8. Upaya penanggulangan masalah sampah itu kan initnya ada 3, Reduce, Reuse, dan Recycle. Sayangnya semuanya itu sulit kalau tidak punya skill-nya. Tidak membuang sampah sembarangan dan membuang sampah pada tempatnya itupun sebenarnya hanya membantu pengumpulan sampah tapi tidak membantu pengurangan produksi sampah.
    Intinya, ya… Kalau setidaknya tidak bisa Reduce, Reuse, dan Recycle, buanglah sampah pada tempatnya dan jangan boros. Kasihan tukang sapu jalanan.

  9. Iya nih, jangan sampe seperti di foto saya ini. Biadab sekali yang membuang sampah di foto itu. :mad:

  10. Kadangpun sampah dilempar dari kendela mobil yang bagus, kebangeten…

    • @Suratman Adi: Iya, entah kenapa banyak yg sulit mempraktikkannya. Mungkin karena terlalu dibuat susah….

      @Dhenok Habibie: Sip! Saya juga sedang berusaha seperti itu. Yap, semoga bisa terus begitu. Amin….

      @Falzart Pain: Betullll. Sebenarnya membuang sampah pada tempatnya masih kurang untuk mengatasi masalah sampah. Makanya, kebangetan banget kalau sampai kita nggak bisa melakukan hal yg paling mudah ini….

      @Sriyono Semarang: Iya, kebangetan banget…. Nggak beradab….

  11. susah kalo gak kebiasa…
    aku capek ngingetin orang sekitar buat mbuang sampah di tempatnya. abis diingetin, biasanya mereka ngulang lagi :(

  12. namun aneh rasanya jika semua sampah hanya dikumpulkan di TPA setelah penuh cari tampat baru. yang ada malah nantinya indonesia ini penuh dengan sampah. mungkin sekarang adalah saatnya kita memikirkan bagaimana cara mendaur ulang sampah dengan maksimal, bukan lantas menuhin tempat TPA kemudian cari yang lain untuk dipenuhin tanpa kita daur ulang sampah yang ada di TPA sebelumnya, ini gak bener. nomaden aja ceritanya. hohoho……..

  13. iya.. betul!
    asal jangan buang anak..
    soalnya biarpun pada tempatnya, kalo buang anak mah tetep salah. -_-

  14. mari kita sama sama membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya
    dimulai dari kita sendiri aja dulu
    supaya bisa memberi contoh pada yang lain
    trims artikel yang sangat menarik sekali

  15. ya, itu semua kembali ke diri sendiri kok. Harus ditanamkan bahwa membuang sampah itu harus pada tempatnya :) (gak usah jauh-jauh mikir kalau sampah juga harus diklasifikasikan (organik vs non-organik) tuh kalau kesadaran membuang sampah aja belum ada, hehehe :D).

    • @Veera: Hhhh… iya, memang melelahkan. Semoga mereka segera sadar….

      @Loewyi: Betulll… itu tahap yg perlu sekali dilakukan, tentunya setelah perilaku membuang sampah pada tempatnya sudah menjadi kebiasaan masyarakat….

      @Oomguru: Wah, betul banget! Beberapa tahun ini beberapa kali saya dengar berita bahwa ada orangtua yg buang anaknya. Ya ampun, tega banget….

      @Bajubali: Terima kasih :-)

      @Zilko: Betul, Sob! Kebiasaan itu harus ditanamkan sedari dini….

  16. sistem besar gagal karena dari sistem yg terkecilnya udah gagal.
    emang harus dari hal yg “dianggap” kecilnya dulu yg dibenerin, apalagi kalau bukan dari diri individunya sendiri :D

    • Iya, Sob. Harus dari yg kecil dulu, dan itu dilakukan secara konsisten. Terima kasih sudah berkunjung ke sini, ya, Kawan :-)

  17. kalo saya biasa lupa buang sampah yg saya simpen sebangsa bungkus permen gitu . kebawa sampe rumah deh :D

  18. aku sudah melaksanakan nya .hahaaa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,816 other followers

%d bloggers like this: