Lebih Gampang

Dua hari yang lalu, saya bertugas keluar kantor dan baru kembali pada sore hari. Dalam perjalanan pulang itu, saya harus melewati kemacetan yang disebabkan oleh demonstrasi mahasiswa di salah satu ruas jalan utama terkait kenaikan harga BBM.

Saya kelelahan. Saya ingin segera sampai di kantor untuk beristirahat sejenak. Kemacetan itu membuat saya terus merutuk di dalam hati.

Sambil menunggu macet, saya melihat ke lingkungan sekitar. Sama seperti saya, orang-orang juga terlihat lelah. Sepertinya mereka hendak pulang kerja. Dan tak saya sangka, ternyata di dekat saya ada seorang tetangga. Kami pun saling menyapa dan kemudian berbincang-bincang sejenak. Continue reading ‘Lebih Gampang’

Telaten

Berkat Facebook, saya terhubung lagi dengan sahabat masa kecil sewaktu masih tinggal di Bekasi dulu. Sebut saja ia Bunga (sebetulnya itu nama aslinya). Usia kami nyaris sebaya, dan rumah kami berseberangan. Mungkin karena itulah dulu kami sering main bersama.

Bunga kini tumbuh menjadi gadis yang cakep dan ceria. Saya menyimpulkannya dari foto-fotonya dan berbagai obrolan dengannya. Kabar terbaru, saat ini ia sudah menikah. Baru awal bulan yang lalu ia melepas masa lajangnya. Ah, sayang sekali…. *lho

“Dit, inget nggak?” tanya Bunga dalam salah satu obrolan kami via BBM. “Dulu lo sering banget bikin-bikin mainan gitu dari barang bekas. Gue udah nyoba bikin sendiri juga, tapi selalu gagal, hahaha….” Continue reading ‘Telaten’

[Resensi Buku] Diary Princesa

Diary PrincesaSetiap kali membaca buku baru, saya punya satu kebiasaan khusus, yakni mengawalinya dengan membaca kata pengantar, prakata, ucapan terima kasih, dan halaman tentang penulis.

Biasanya, halaman ‘tentang penulis’ diisi oleh si penulis itu sendiri. Tapi, di buku ini, halaman tersebut diisi oleh sahabat si penulis. Ia menceritakan bahwa Swistien Kustantyana —sang penulis mempunyai emosi yang labil. Katanya, Swistien bisa tiba-tiba sedih dengan kemuraman yang dalam, tapi tidak lama kemudian berubah menjadi enerjik dan bersemangat, seolah-olah tidak mempunyai masalah apa-apa.

“Wih, bipolar disorder, nih,” begitu pikir saya ketika membaca informasi itu. Dan tak disangka, rupanya bipolar disorder menjadi salah satu poin utama yang diangkat dalam novel teenlit ini. Continue reading ‘[Resensi Buku] Diary Princesa’

Selera

Di dekat kantor saya ada warung makan padang prasmanan yang baru saja buka. Seperti halnya sesuatu yang baru, warung itu pun terlihat memukau. Sebagai seorang pecinta gadis masakan padang, saya pun langsung menyambangi warung itu pada hari pertama buka.

Tak disangka, ternyata masakannya sangat enak! Sayurnya kental penuh bumbu, sambalnya sedap, dan bumbu rendangnya menggigit lidah. Baru berdiri di pintu warungnya saja sudah tercium aroma kuah gulai yang membangkitkan selera.

Dan satu lagi. Ini yang paling penting: nasinya enak bingits. Hangat, tidak lembek, tapi juga tidak keras. Kalau kata Demian, “sempurna”. Continue reading ‘Selera’

Hujan

Saya rasakan musim panas terakhir kemarin ini lebih lama dari biasanya. Entah memang demikian adanya atau hanya perasaan saya saja. Tapi yang jelas, selama itu hujan hampir tidak pernah turun, dan cuara terasa begitu panas.

Karena udara begitu gerah, beberapa minggu terakhir ini saya pun sering tidur tanpa pakaian. Ya, maksudnya cuma pakai sempak doang. Jangan tanya rasanya bagaimana. Pokoknya enak gila.

Jadi kini kau sudah tahu. Ketika Rangga dan Cinta sedang khusyuk memandang bulan yang sama, saya sedang asyik tidur tanpa celana. Continue reading ‘Hujan’

Jogja

Kau pergi ke sana, meninggalkanku di kota ini bersama kenangan yang pernah kita buat.

Sekarang hidupku berjalan seperti itu. Pergi dari satu ingatan ke ingatan lain. Tapi masih di kota yang sama. Seolah-olah hanya berjalan di tempat. Dan memang kenyataannya begitu.

Aku tidak beranjak. Tidak ke mana-mana.

Kalau kau naik ke sini seperti biasanya dulu, kau tetap akan menemukanku. Duduk di depan meja mini kayu yang sudah menua. Dengan senyum dan sapaan yang masih sama.

Tidak ada yang berubah.

Kaus butut yang dulu sering kau sembunyikan pun masih terus kukenakan. Masih tetap jadi favoritku yang nomor satu.

Tapi aku tidak mau berdiam diri. Aku juga ingin sepertimu. Aku akan bergerak maju.

Kini setiap kali mampir ke tempat-tempat itu, mereka seperti menertawakanku. Para pedagang langganan kita dulu.

Menggampangkan Janji

Saya benar-benar tidak paham dengan orang yang suka menggampangkan janji. Apa yang ada di dalam otak mereka ketika dengan mudahnya melanggar janji tanpa pemberitahuan sebelumnya?

Beberapa waktu yang lalu saya dapat tugas kerja ke ibu kota. Saya harus berangkat pagi-pagi dari kos ke bandara dengan kendaraan umum. Padahal, kendaraan umum di sini agak sulit, terlebih pada pagi hari.

Untuk mengatasinya, saya bisa naik taksi. Tapi, saya segera ingat bahwa ada pilihan lain yang lebih cocok untuk saya, yakni taksi motor.

Kebetulan di Jogja ada sebuah perusahaan yang mengklaim dirinya sebagai ojek modern pertama di Indonesia. Armada (sepeda motor) mereka dilengkapi dengan argometer sebagai alat hitung pembayaran, dan pengendaranya memakai seragam. Mereka memiliki call centre khusus serta memberikan layanan pengantaran 24 jam. Setidaknya itulah yang saya baca di website mereka. Continue reading ‘Menggampangkan Janji’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,865 other followers

Selamat Datang!

Buku Saya

Sampul_
Indonesia Sehari-hari2
25 pesan Rasul Sehari-hari

Kategori

Twitter

Arsip


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,865 other followers