Ikhtiar

“Apa ibu kota Sulawesi Barat?” tanya saya sembari meliriknya.

Saat itu kami berdua tengah asyik main tebak-tebakan di kamar. Ia duduk bersila di ujung kasur, sementara saya berbaring sambil membaca buku pintar yang menjadi rujukan saya dalam membuat pertanyaan-pertanyaan.

“Mamuju,” ia menjawab dengan penuh keyakinan sambil mengulum senyum.

Saya tercengang. Sudah kesekian kalinya ia menjawab pertanyaan saya dengan benar. Hal itu semakin membuktikan bahwa ia memang orang yang cerdas. Meskipun ia sendiri selalu merasa biasa-biasa saja, tapi saya mengagumi kecerdasannya.

Sejak duduk di bangku kuliah, saya memang jadi semakin sering bertemu dengan orang-orang cerdas. Continue reading ‘Ikhtiar’

Karya

Kalau teman-teman mengikuti Twitternya Pandji Pragiwaksono, juga rutin membaca blognya, maka kalian bisa tahu betapa ia sangat gigih dalam berkarya.

Mas Pandji —begitu saya menyebutnya (sok akrab bingits), menekuni beberapa bidang. Selain terbiasa mengisi acara-acara sebagai MC, ia juga banyak berkarya di dunia tulis menulis, musik rap, dan stand up comedy. Bahkan ia termasuk orang yang membumikan stand up comedy di Indonesia.

Dalam berkarya, tidak semua orang menyukai karya kita, dan itu pula yang terjadi dengan Mas Pandji. Berkali-kali ia dihina. Sudah tidak terhitung pula karyanya dipandang sebelah mata.

Tapi, ia tidak berhenti. Ia masih terus berkarya. Continue reading ‘Karya’

Kesederhanaan

Suatu kali, keponakan saya tampak asyik menonton film SpongeBob SquarePants. Saya menghampirinya, lalu duduk di sampingnya. Kami pun menonton acara itu bersama-sama.

Di layar televisi, SpongeBob terlihat sibuk dengan tali sepatunya. Keponakan saya tertawa geli melihat tingkah laku SpongeBob, dan begitu pula saya. Makhluk kuning itu ternyata lucu juga.

Kemudian terpikir dalam benak saya, adegan itu hanya mengangkat hal yang sangat remeh, yakni mengikat tali sepatu. Tapi anehnya, hal yang sederhana itu bisa muncul dalam bentuk yang menarik dan jenaka. Tidak hanya bagi anak-anak, tapi juga bagi orang dewasa seperti saya. Continue reading ‘Kesederhanaan’

Proses

Sewaktu kecil, beberapa tetangga dan kerabat dekat menjuluki saya dengan sebutan yang gaul abis: ‘anak pantat’.

Bukan… itu bukan karena muka saya mirip dengan belahan pantat. Saya disebut demikian karena dulu sering menggelendot di balik tubuh ibu saya.

Ya, dulu saya memang anak yang manja. Apa-apa selalu dikerjakan orangtua. Namun, saya berusaha untuk tidak membawa sifat manja itu pada masa dewasa. Saya belajar untuk menjadi orang yang mandiri, menyelesaikan berbagai masalah sendiri tanpa perlu merepotkan keluarga.

Meski demikian, saya merasa sikap manja saya sewaktu kecil menimbulkan watak kurang baik pada diri saya. Dulu saya tidak terbiasa mengerjakan sesuatu sendiri, jadi saya tidak terlalu akrab dengan proses. Akibatnya, saya jadi tidak sabaran. Continue reading ‘Proses’

Beruntung

Saya punya seorang teman baik yang saat ini bekerja sebagai manajer marketing buku. Relasinya cukup luas, dan karena itu ia bisa membeli buku-buku dari berbagai penerbit besar dengan harga yang sangat menggiurkan.

“Dit, kalau kamu mau beli buku, titip ke aku aja,” tawarnya pada suatu kesempatan. “Lumayan lho, nanti kamu bisa dapat diskon gede.”

Well, tentu saja saya langsung menerima tawaran itu. Melalui dirinya, kini saya bisa membeli buku-buku bagus dengan diskon yang lebih besar daripada diskon di toko buku manapun. Saya juga tidak perlu memberi imbalan apa pun ke dia, sebab ia senang bisa membantu saya. Lagi pula, kami berdua adalah sahabat karib. Continue reading ‘Beruntung’

Laki-laki dan Perempuan

Kemarin malam saya berkumpul dengan dua sahabat lama, sebut saja Yoga dan Winda. Yoga ini kebetulan sama seperti saya —jomblo. Sedangkan Winda punya pacar, tapi kebetulan pacarnya sedang dinas ke luar kota. Maka jadilah kami menghabiskan malam itu dengan berbincang-bincang seru, kebanyakan tanpa juntrungan.

Salah satu hal absurd yang kami obrolkan adalah tentang masalah hubungan antara laki-laki dan perempuan. Yoga memulainya dengan sebuah pertanyaan, apa yang membuat seorang cowok menjomblo?

Tentu saja saya punya banyak jawaban. Sebutlah karena belum ingin pacaran, tidak laku, belum dapat yang cocok, dan sebagainya. Tapi sebanyak apa pun jawaban yang saya punya, sebenarnya kategorinya cuma dua, yakni karena pilihan dan karena keadaan.

Tapi kemudian Winda menambahkan sebuah jawaban yang menarik. Menurutnya, yang membuat seorang cowok menjomblo tidak hanya karena pilihan dan keadaan, tapi juga karena tidak mau usaha. Continue reading ‘Laki-laki dan Perempuan’

Tentang Menulis

Tak disangka, ternyata ada juga adik angkatan saya yang suka baca blog ini. Katanya, ia suka dengan postingan saya yang berjudul Kasir, Save the Best for The Last, Memilih yang Paling Besar, serta Bioskop. Dan katanya lagi, tulisan-tulisan saya asyik dan lucu.

Tunggu, sepertinya kepala saya mulai membesar.

Adik angkatan saya itu lantas menyarankan saya untuk coba mengirim tulisan ke sebuah website alternatif-kreatif yang terkenal dengan kontennya yang segar dan menghibur, sebut saja mojok.co (nama sebenarnya). Media itu dikepalai oleh Puthut EA.

Hmm… boleh juga tuh, bisa jadi sarana untuk mempromosikan diri blog ini. Continue reading ‘Tentang Menulis’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,821 other followers

Selamat Datang!

Buku Saya

Sampul_

Kategori

Twitter

Arsip


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,821 other followers