Istri yang Pas

Tahun 2006, seorang penulis yang tidak banyak dikenal mendadak meramaikan dunia kesusastraan. Dialah Ben Fountain. Ia menulis kumpulan cerpen yang diberinya judul Brief Encounters with Che Guevara.

Karyanya itu menuai banyak pujian. Times Book Review menyebutnya “menyentuh hati”. Buku tersebut kemudian memenangkan penghargaan Hemingway Foundation/PEN dan menjadi No. 1 Book Sense Pick.

Tidak berhenti sampai di situ, Brief Encounters with Che Guevara juga dianggap sebagai salah satu buku terbaik pada tahun terbitnya oleh Chronicle San Francisco, Tribune Chicago, dan Kirkus Reviews. Buku itu pun masuk dalam daftar buku laris regional. Continue reading ‘Istri yang Pas’

Akal Budi Lain

Saat sedang blogwalking, postingan yang sifatnya personal menjadi bacaan favorit saya. Misalnya cerita tentang keseharian, curahan hati, pekerjaan, dan sebagainya.

Bagi penulisnya, cerita-cerita seperti itu mungkin “nggak banget” dan “nggak penting”. Tapi bagi saya, justru sangat menarik. Dan percayalah, yang tidak penting itu sering kali memiliki penggemarnya tersendiri.

Dari membaca tulisan personal semacam itu, saya jadi tahu tentang berbagai macam kesan dan pengalaman si penulis. Juga tentang kebiasaan atau keseharian mereka yang berbeda dengan dunia saya.

Barangkali seperti ibu-ibu yang suka menonton acara infotainment. Continue reading ‘Akal Budi Lain’

Menata Ulang

Halo!

Wah, sudah lama banget saya nggak ngeblog.

Akhir-akhir ini pekerjaan saya begitu menumpuk, dan hal itu membuat saya malas menyentuh blog. Saat itu saya berpikir, jika absen ngeblog, saya bisa fokus untuk mencicil pekerjaan.

Tapi, ternyata saya keliru.

Meskipun absen ngeblog, kenyataannya saya tidak lantas memanfaatkan waktu yang ada untuk mengerjakan pekerjaan yang menumpuk itu. Continue reading ‘Menata Ulang’

Helm

Sepeda motor yang saya kendarai melaju dengan stabil. Saya memang sengaja menjaga kecepatan, tidak terlalu pelan, juga tidak terlalu kencang. Begitulah cara saya menikmati perjalanan.

Lagi pula saya memang tidak mau terburu-buru. Kita tahu, terburu-buru membuat kita jadi mudah melakukan kebodohan-kebodohan.

Jalanan yang saya lewati cukup ramai. Ada mobil barang, bus, truk berukuran sedang, dan ada pula truk gandeng. Maklum, itu adalah jalan lintas provinsi.

Tiba-tiba, sebuah sepeda motor sport menyalip saya, dinaiki oleh sepasang muda-mudi. Si perempuan berada di belakang, memegang erat pinggang lelaki di depannya dengan mesra. Continue reading ‘Helm’

[Resensi Buku] Jejak Tinju Pak Kiai

Jejak Tinju Pak KiaiDikisahkan, seorang kiai sedang asyik menonton pertandingan tinju bersama santri-santrinya. Itu adalah pertandingan besar. Disebut-sebut sebagai pertandingan tinju terbaik sepanjang masa. George Foreman melawan Muhammad Ali.

Pak Kiai sangat bersemangat dalam menonton pertandingan akbar itu. Ia terus bersorak-sorai. Teriakannya terdengar hingga ke seluruh asrama di pesantrennya. Sebaliknya, para santri tampak salah tingkah.

Setiap kali Muhammad Ali kena tonjok, Pak Kiai sontak bersorak. Para santri seperti turut merasakan rasa sakit yang dialami Ali, terlebih saat mendengar teriakan Pak Kiai. Tentu hati mereka panas, tapi mereka terpaksa menahan diri. Continue reading ‘[Resensi Buku] Jejak Tinju Pak Kiai’

[Resensi Buku] Surat untuk Ruth

Surat untuk RuthIni adalah buku keenam Bara ―begitu panggilan akrab penulisnya, Bernard Batubara.

Sesuai judulnya, buku ini semacam kumpulan surat yang ditujukan untuk Ruth. Nama lengkapnya Ruthefia Milana.

Surat-surat itu ditulis oleh Areno Adamar. Biasa dipanggil Are.

Melalui surat-surat tersebut, Are menceritakan perjalanan asmaranya bersama Ruth beserta hal-hal yang membuat hubungan itu naik turun. Mulai dari saat perkenalan, aktivitas bersama yang membuat mereka semakin dekat, hingga akhirnya… perpisahan.

Plot dan konfliknya sebenarnya sederhana, tapi permainan kata-katanya begitu bagus, sehingga yang sederhana itu jadi begitu menyentuh. Continue reading ‘[Resensi Buku] Surat untuk Ruth’

[Resensi Buku] Cinta.

CintaJudul buku ini dibaca dengan kalimat: “cinta dengan titik”. Maksudnya adalah cinta tanpa koma, tanpa ada yang lain setelahnya. Begitulah yang saya baca dari keterangan di bagian sampul.

Pada awal peluncurannya, buku ini mendapat sambutan yang meriah dari para pembaca. Saya mengetahuinya dari media sosial, juga dari teman saya yang bekerja sebagai pemasar buku.

Sepertinya memang begitu setiap kali Bernard Batubara meluncurkan karya barunya. Penulis ini memang memiliki basis pembaca yang cukup kuat.

Buku ini dibuka dengan cerita tentang Nessa yang hendak pulang dari Pontianak ke Yogyakarta naik pesawat terbang. Di dalam pesawat, ia duduk bersebelahan dengan seorang cowok bernama Demas. Mereka kemudian berkenalan. Continue reading ‘[Resensi Buku] Cinta.’


Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,942 other followers

Selamat Datang!

Kategori

Twitter

Arsip


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,942 other followers